logo Kompas.id
OpiniIni Masalah Kita

Ini Masalah Kita

Meski hari-hari rasanya semakin suram, kita tak boleh menyerah. Sebaiknya buang ego itu, simpan dulu kritik politik, tunda pasang kuda-kuda penguasa versus oposisi. Jangan demi ego merasa paling jago.

Oleh
ERRY R HARDJAPAMEKAS
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/mX7R-itDVx-B6iEcr_GIFe2ST4s=/1024x842/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2F20210804-Ilustrasi-Opini-Ini-Masalah-Kita_1628087339.jpg
DIDIE SW

Didie SW

Hampir satu setengah tahun pandemi Covid-19 berlangsung. Hari-hari yang berat. Hari-hari berikutnya mungkin semakin berat. Pakar pandemi meramalkan bulan Agustus ini menjadi puncak wabah gelombang kedua di Indonesia. Lebih baik kita percaya ketimbang abai.

Covid-19 sungguh membuat kita semua gundah dan susah. Tak peduli kaya, miskin, tua, dan muda. Semua orang terkena imbas, langsung atau tidak. Ibarat kita sedang ikut arisan, menunggu kocokan siapa terpapar atau terdampak.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dengan sendirinya menghantam ekonomi kita. Semakin banyak orang terputus sumber nafkahnya. Tetapi, kita tak punya banyak pilihan.

Pengetatan pada lingkup zonasi terkecil ini bertujuan menekan laju penularan. Zona lain yang relatif aman mendapat peluang pembatasan yang lebih longgar. Maka, PPKM Mikro harus didukung, dengan satu titipan catatan. Strategi pengetatan hanya efektif bila pemerintah berhasil melakukan uji massal untuk mencari mereka yang tertular, memisahkan mereka, dan merawatnya.

Di antara warga pun mesti tanpa henti saling mengingatkan soal 6M—yang juga tak mudah. Mungkin mulai ada yang lupa, saya bantu ingatkan, 6M: menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari keramaian, membatasi mobilitas, dan menghindari makan bersama. Tidak mudah, bahkan untuk M yang terpenting dan mudah sekali pun: menggunakan masker. Masih ada keraguan untuk menegakkan aturan wajib pakai masker.

Banyak warga bergerak tanpa ada yang memerintah atau meminta, semata-mata karena didorong keinginan menolong sesama.

Solidaritas sosial

Meski hari-hari rasanya semakin suram, kita tak boleh menyerah. Harapan itu masih ada. Titik-titik terang, suar yang memancar, ternyata hadir di sekeliling kita. Banyak warga bergerak tanpa ada yang memerintah atau meminta, semata-mata karena didorong keinginan menolong sesama.

Gerakan solidaritas ini bergerak seperti ombak, tak ada sekat, dan kian mengeras. Ada orang per orang, berkelompok, hingga dalam bentuk yang lebih terorganisasi. Kita yakin negara akan selalu hadir memperlebar jalan mereka agar makin kencang bergerak, sekaligus membuang ganjalan birokrasi agar keluwesan gerakan solidaritas ini tetap terjaga.

Solidaritas sosial ini sesungguhnya adalah kritik spontan bahwa negara belum bisa penuh melayani semua rakyatnya. Apa boleh buat, pemerintah tentu sadar akan keterbatasannya. Tak perlu sungkan mengakui bahwa yang dikerjakan saat ini belum maksimal dan terpadu. Kita tidak sendirian, banyak negara mengalami hal serupa.

Sebaiknya, lebih proaktif mengajak masyarakat untuk membantu, bekerja kolaboratif. Jangan pula alergi dengan kritik, apalagi membalas kritik dengan cara yang sama dengan si pengkritik, sayangi energi.

Pemimpin terbaik adalah yang menganggap kritik sebagai pemicu untuk terus berbenah diri demi keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/7S-x9b99B5oMej0q_SR2uBYArz8=/1024x649/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F07%2F0641ceef-c084-43c0-a3ff-5a02fa588697_jpg.jpg
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Kesibukan para sukarelawan saat menyiapkan makanan di dapur umum peduli Covid-19 di di Karet Semanggi, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (8/7/2021). Solidaritas warga yang tumbuh untuk membantu sesama menjadi salah satu modal besar yang dimiliki bangsa ini untuk bangkit di tengah pandemi Covid-19.

Singkirkan ego

Di pihak lain —memang— alih-alih memberikan masukan yang berbasis data dan bukti nyata, masih saja muncul kritik-kritik berbau politik dari orang dan kelompok yang tidak mampu mengusik empatinya untuk bersolidaritas.

Sebaiknya buang ego itu, simpan dulu kritik politik, tunda pasang kuda-kuda penguasa versus oposisi. Kadar pengetahuan dan ketidaktahuan kita kira-kira berada pada derajat yang sama, kecuali para pakar di bidangnya tentu saja.

Jangan demi ego merasa paling jago. Ego, menurut Albert Einstein, berbanding terbalik dengan pengetahuan. Semakin tinggi ego, semakin terbatas pengetahuannya. ‘Ego=1/Pengetahuan’. More the knowledge lesser the ego, lesser the knowledge more the ego. Mari kita bergerak bersama. Lupakan perbedaan, abaikan pengelompokan dan galang kebersamaan seraya menebalkan kesamaan.

Ini bukan perkara politik, bukan ajang yang adab untuk berkompetisi, apalagi dikaitkan dengan 2024. Bukan pula soal kepemimpinan, karena tak seorang pun di antara kita yang pernah mengalami krisis global semasif ini, walau peran pemimpin tetap utama.

Ini masalah global, urusan kemanusiaan, yang menimbulkan dampak bagi kesehatan masyarakat dan ekonomi bangsa.

Baca juga : Di Balik Dapur Kemanusiaan yang Terus ”Ngebul”

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/lF2Ea-mzsfb_WzMY29tDrTWEkCY=/1024x1281/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F10%2Fcf99b62a-6761-4dbb-9765-3c953883e0fd_jpg.jpg
Kompas/Wawan H Prabowo

Erry Riyana Hardjapamekas

Semoga saat merayakan Hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 2021 kelak, kita bisa pula mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia mulai mampu mengendalikan pandemi Covid-19. Sebab —sekali lagi— ini bukan soal aku dan engkau, atau kami dan mereka. Ini soal kita. Para pemimpin, warga yang dipimpin. Ini masalah kita. Dirgahayu bangsaku!

Erry R Hardjapamekas Warga Negara, Mantan Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2003—2007

Editor:
yohaneskrisnawan, Sri Hartati Samhadi
Bagikan