logo Kompas.id
OpiniMemahami Katalisator Kebencian dalam Islamofobia

Memahami Katalisator Kebencian dalam Islamofobia

Islamofobia memiliki perubahan makna yang signifikan dari masa ke masa. Dan fakta menunjukkan, terorisme menjadi perpanjangan katalis kebencian paling signifikan yang dapat berdampak negatif terhadap Islam.

Oleh
IMA SRI RAHMANI
· 1 menit baca
https://assetd.kompas.id/aN11S4hjRG1HFmf3kzozJZgryqM=/1024x813/https://kompas.id/wp-content/uploads/2021/06/20210610-OPINI-Memahami-Katalisator-Kebencian-dalam-Islamofobia_1623332722.jpg

Menelaah islamofobia akan membawa kita pada sejarah kebencian yang telah tumbuh berkembang dengan berbagai ragam bentuk dan fungsi. Menurut Mastnak dalam artikelnya yang berjudul Western hostility toward Muslims: A history of the present (2010), permulaan sikap antipati yang dikenal sebagai anti-Muslim di dunia Kristen dimulai pada pertengahan abad ke-9, yaitu terjadi ketika ketakutan dialami oleh masyarakat Kristen yang hidup di bawah pemerintahan Muslim di masa lalu terhadap asimilasi budaya Islam. Dan, saat pertama kali ketika Islam menjadi normative, fundamental, quintessential, universal enemy terjadi ketika Paus Urban menyerukan Perang Salib pada 1095.

Glorifikasi yang kemudian terus digunakan untuk menyulut semangat yang oleh Gottschalk dan Greenberg dalam bukunya Islamophobia and anti-Muslim Sentiment bahwa masyarakat Kristen pada saat itu menganggap sikap dan perlakuan mereka terhadap Islam sebanding dengan ”Christ” dalam kekristenan. Sebuah semangat yang menggunakan kekristenan sebagai pola untuk penaklukan dan ekspansi ekonomi dan politik di wilayah Mediterania.

Editor:
yovitaarika
Bagikan