logo Kompas.id
OpiniAnalisis Budaya: Halalbihalal

Analisis Budaya: Halalbihalal

Meski halalbihalal tidak dikenal di negara lain, perayaan atau festival Idul Fitri itu ada di sejumlah negara. Kita bisa melihat tradisi yang sama dalam takbiran, shalat Idul Fitri, berpakaian bagus, dan makan bersama.

Oleh
Ahmad Najib Burhani
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/xX5ujhCA4jekqsRG6_Kp42WdQ7A=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F05%2Fbe514787-ab3e-4595-a2e7-b1f9575a6781_jpg.jpg
KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI

Sultan Kanoman XII Raja Muhammad Emirudin (duduk sebelah kanan) berfoto bersama keluarga di Bangsal Jinem di Keraton Kanoman, Kota Cirebon, Jawa Barat, dalam acara halalbihalal atau buka griya (open house) setelah Idul Fitri 1442 Hijriah, Selasa (18/5/2021). Kegiatan tersebut untuk mempererat silaturahmi antara warga dan keluarga keraton.

Idul Fitri memang sudah berlangsung pada 13 Mei 2021 yang lalu. Namun, kegiatan halalbihalal biasanya masih terus diadakan selama bulan Syawal, bulan kesepuluh dalam kalender Hijriah. Berbagai kantor pemerintah dan swasta, sekolah, organisasi Islam, perkumpulan alumni, atau kluster perumahan akan bergantian melaksanakan halalbihalal. Banyak yang melakukan secara luring, tetapi karena pandemi belum berakhir, lebih banyak lagi yang menyelenggarakan secara daring.

Halalbihalal merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam perayaan Idul Fitri. Ini merupakan tradisi khas Indonesia yang tidak ditemukan di negara-negara Islam lain. Meski kosakatanya berasal dari bahasa Arab, ia bukanlah istilah Arab. Secara gramatika bahasa, istilah ini tidak pas atau tidak mengikuti standar bahasa Arab yang diakui sehingga ia tidak memiliki makna yang jelas. Secara harfiah, ia berarti ”boleh dengan boleh” atau ”halal dengan halal”. Namun, secara umum, istilah ini dimaknai sebagai permohonan untuk saling memaafkan dan menyelesaikan masalah.

Editor:
Mohammad Hilmi Faiq
Bagikan