logo Kompas.id
OpiniKolomGangguan Navigasi Sperma

Gangguan Navigasi Sperma

Volume spermatozoid yang kini dihasilkan kaum pria menurun drastis dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu. Ovula, alih-alih dibanjiri ribuan spermatozoid, kini paling-paling berhadapan dengan satu-dua peminat saja.

Oleh Jean Couteau
· 2 menit baca

Sebagai seorang kakek yang sudah cukup produktif, saya tidak mungkin tidak hirau terhadap fenomena pembuahan diri kita menjadi manusia. Segi konkretnya tak perlu saya tekankan di sini. Takut melanggar etika jurnalistik. Namun, kenyataan berbicara: kalau sudah berpredikat ayah atau ibu, berarti kita pernah terbawa oleh semacam program ragawi yang membuat kita melekat pada lawan jenis kita. Di situ, ujung-ujungnya, kita pernah berurusan dengan sperma/ovula atau, lebih tepatnya, sperma/ovula itu berurusan dengan kita. Kita pernah mengalami proses pembenihan atau pembuahan hidup.

Mengetahui hal ini, bisa dibayangkan betapa saya kaget dengan berita yang tiba-tiba muncul di depan mata saya beberapa hari yang lalu: volume spermatozoid yang kini dihasilkan kaum pria cenderung menurun drastis dibandingkan dengan beberapa puluh tahun yang lalu, notabene sebelum saya menjadi kakek. Singkatnya, sang ovula, alih-alih dibanjiri ribuan spermatozoid, kini paling-paling berhadapan dengan satu-dua peminat saja. Akibatnya, ya! Semangat sang ovula pun berkurang! Maka, pembuahan gagal. Oleh karena fenomena ini massal, masa depan manusia terancam.

Kalau tak percaya, bacalah tulisan The Guardian (28/03/21 dan kutipan 12/05/14): ”kepintaran renang dan navigasi sperma terganggu produk kimia biasa”. Lupakan alegori lautan, yang dimaksud ialah, apabila kini pria kekurangan sperma, ialah karena bahan-bahan kimia tengah merasuki unsur-unsur genetis kita. Perusakan ekologi tidak menimpa alam luar saja, tetapi juga terjadi di dalam tubuh kita.

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Editor: Mohammad Hilmi Faiq
Memuat data..