logo Kompas.id
OpiniAnalisis PolitikMeruwat Daulat Rakyat

Meruwat Daulat Rakyat

Keraguan serta ramalan kepunahan justru menghasilkan umpan balik yang mampu mendorong upaya mengoreksi demokrasi. Demokrasi tetap dianggap sebagai pilihan yang paling kurang buruk dibanding tatanan kekuasaan lain.

Oleh J Kristiadi
· 1 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/HERU SRI KUMORO (KUM)

J Kristiadi

Beberapa tahun terakhir ini, sebagian warga dunia galau karena daulat rakyat sebagai tata kelola kekuasaan negara yang menyatu dengan nilai-nilai kemanusiaan mengalami ancaman eksistensial. Pemilu atau biasa disebut pesta demokrasi, sebagai sarana rakyat memilih pemimpin yang mengabdi rakyat, menjadi rute pemakaman daulat rakyat karena dapat disulap menghasilkan tirani. Martabatnya merosot jadi sekadar perabot politik yang sangat instrumental, melampiaskan nafsu kuasa para pemburu kekuasaan. Demokrasi membunuh demokrasi; manajemen kekuasaan yang dapat membangun peradaban lumpuh menghadapi sakratulmaut.

Banyak penyebabnya, tetapi yang dominan adalah merebaknya paham populisme, pasca-kebenaran, serta pesatnya kemajuan teknologi digital. Adonan ketiga unsur tersebut menghasilkan demokrasi semu karena jurus memperoleh dukungan publik dengan hasutan, provokasi, dan kebohongan membuat pemilu seakan arena sah mengonsolidasi dukungan dengan kebohongan (demagoguery).

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Editor: Antony Lee
Memuat data..