logo Kompas.id
OpiniChomsky, Biden, dan Palestina

Chomsky, Biden, dan Palestina

Penderitaan rakyat Palestina harus menjadi agenda kemanusiaan bagi manusia sejagat. Chomsky adalah salah seorang tokoh yang berada di garis depan dalam membela hak-hak dasar bangsa Palestina.

Oleh
Ahmad Syafii Maarif
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/qUZrj6rUwwrGP05YyCPpLtT5Qy0=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F09%2FBRAZIL-POLITICS-JAIL-LULA-CHOMSKY_70450532_1537543256.jpg
HEULER ANDREY / AFP

Ahli bahasa dan aktivis politik Amerika Serikat, Noam Chomsky (kanan), berbicara selama konferensi pers setelah mengunjungi mantan Presiden Luis Inacio Lula da Silva, yang ditangkap karena korupsi di Inspektur Polisi Federal di Curitiba, Brasil, pada 20 September 2018.

Siapa yang tidak kenal Noam Chomsky? Dalam usia 92 tahun, dia masih garang dan galak dalam makna yang sangat positif. Chomsky adalah pengkritik yang paling keras terhadap politik luar negeri Amerika yang imperialistik, tidak peduli siapa pun presidennya, yang dia lawan atau yang didukungnya.

Chomsky adalah di antara intelektual Yahudi kelas dunia yang anti-Zionisme. Simpatinya kepada penderitaan rakyat Palestina sudah dikenal publik secara luas. Ayahnya, Dr William Zez Chomsky, dan ibunya, Elsie Simonofsky, dari Ukraina hijrah ke Amerika pada 1913 untuk kemudian jadi warga negara di sana.

Editor:
yohaneskrisnawan
Bagikan