logo Kompas.id
β€Ί
Opiniβ€ΊKisah yang Tak Betah Jadi...
Iklan

Kisah yang Tak Betah Jadi Kata-kata

Itu juga membuktikan bahwa kisah-kisah pada buku selalu tak betah berlama-lama menjadi sekadar kata-kata, ia juga membutuhkan realitas (konkret) yang membuatnya terus berdenyut di dalam nadi kita masing-masing.

Oleh
Putu Fajar Arcana
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/VEb4jN0NSW2namTseYHTSg1ybII=/1024x1167/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F08%2FCAN_1565170607-e1583251049886.jpg
Kompas

Putu Fajar Arcana, wartawan senior Kompas

Aku ingin mengenang Bapak lagi. Banyak hal yang harus kusampaikan tentang lelaki sederhana itu kepadamu. Dia cuma petani yang coba melompat-lompat dari pematang sawah untuk menyusuri Sungai Ijogading jadi nelayan; sesekali juga coba turut memelopori mendalami manajemen koperasi dengan mendirikan koperasi unit desa; tetapi lebih sering menjadi penembang kisah-kisah klasik dan sedikit menjadi seorang balian. Kalau anak-anak tetangga sering menangis sampai menjerit-jerit di malam hari, biasanya Bapak yang menjadi penyembuhnya.

Hal paling melekat dalam hidupku sampai kini, Bapak memperkenalkan epos-epos seperti Mahabharata dan Ramayana, sebelum aku benar-benar bisa membaca. Ia sama sekali tak berpretensi bahwa kedua epos ini bagian dari kitab suci Weda, yang dikelompokkan dalam Weda Smerti; yakni kisah-kisah yang dikumpulkan berdasarkan ingatan.

Editor:
Sri Rejeki
Bagikan