logo Kompas.id
β€Ί
Opiniβ€ΊKeluhan Pramoedya dan Keadaan ...
Iklan

Keluhan Pramoedya dan Keadaan Kini

Kerja-kerja kreatif kesusastraan tak akan pernah mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seorang pengarang, kecuali dia termasuk segelintir dari pengarang beruntung yang diberkati.

Oleh
Anindita S Thayf
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/6iZQGX_rs7VAc2a7Ccmken-Q8SI=/1024x620/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F06%2FFC-09325-I-36-IKA011_1592344426.jpg
KOMPAS/ARBAIN RAMBEY

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang pernah dibuang di Pulau Buru pada masa pemerintahan Soeharto (tengah) bersama tiga wartawan Kompas yang mewawancarainya, Kenedi Nurhan (paling kiri), JB Kristanto (nomor dua dari kanan) dan Bre Redana (paling kanan), di Blora, Jawa Tengah (30/3/1999).

Sejak tahun 1952, Pramoedya Ananta Toer telah mengeluhkan soal kondisi finansial pengarang Indonesia.

Lewat dua esai, Hidup dan Kerja dan Keadaan Sosial Para Pengarang: Perbandingan Antarnegara, Pramoedya membandingkan pendapatan pengarang di China dengan pengarang di Indonesia. Saat itu, pengarang China mendapatkan bayaran Rp 1.000-Rp 3.000 untuk tiga halaman tulisan mereka, sementara pengarang Indonesia hanya dihargai Rp 30. Kondisi inilah yang, menurut Pramoedya, membuat pengarang di Indonesia mesti pontang-panting mencari pekerjaan lain agar bisa hidup.

Editor:
yohaneskrisnawan
Bagikan