logo Kompas.id
OpiniAtaturk, Hagia Sophia, dan...
Iklan

Ataturk, Hagia Sophia, dan Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menandatangani dekrit yang menyatakan Hagia Sophia yang sebelumnya museum menjadi masjid kembali. Ada apa di balik langkah Erdogan mengubah status Hagia Sophia?

Oleh
Trias Kuncahyono
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/JDAywoV2ht4M4oOWoW-8ZFI-0-Q=/1024x1140/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F12%2Ftrias-kuncahyono-baru2012_1545311337.jpg
INDRO UNTUK KOMPAS

Trias Kuncahyono, Wartawan Kompas 1988-2018

Tahun lalu 3,7 juta wisatawan mengunjungi Hagia Sophia, yang  dalam bahasa Turki disebut Ayasofya. Tak berlebihan kalau dikatakan bahwa Hagia Sophia adalah simbol bagi Istanbul dan juga Turki yang sangat menarik bagi para wisatawan. Namun, Hagia Sophia, yang pada 1985 oleh UNESCO dijadikan sebagai situs Warisan Dunia, bukan hanya simbol pariwisata, melainkan juga merupakan simbol politik.

Bangunan megah, monumental, yang dibangun pada abad ke-6 (532-537) atas perintah Kaisar Justinian I, penguasa Emporium Romanum Timur (Kekaisaran Romawi Timur) ini, dimaksudkan untuk menjadi sebuah gereja. Karena itu, Hagia Sophia juga disebut Gereja Kebijaksanaan Suci atau Gereja Kebijaksanaan Ilahi.

Editor:
prasetyoeko
Bagikan