logo Kompas.id
OpiniArtikel OpiniMenyikapi Pemodelan Pandemi

Menyikapi Pemodelan Pandemi

Di tengah pandemi yang hingga sekarang terus merundung pikiran kita, yang diperlukan adalah sinergi dari semua sektor. Eksperimen demi eksperimen, termasuk kekeliruan dan kegagalan dalam proses, tetap bermanfaat.

Oleh Djoko Santoso
· 1 menit baca
Memuat data...
AFP/JUSTIN TALLIS

Sebuah gambar menunjukkan Gedung Parlemen (kiri) di ujung Westminster Bridge yang kosong dengan satu pejalan kaki di trotoar London tengah pada pagi hari pada 24 Maret 2020 setelah Inggris memerintahkan penguncian untuk memperlambat penyebaran virus korona jenis baru, Covid-19.

Tulisan Ratna Megawangi, ”Korona dan Statistik Kepanikan” (Kompas, 20/6/2020) menarik diperbincangkan. Artikel itu bernada menggugat prediksi penyebaran korona dengan pemodelan matematis yang banyak disodorkan para ahli.

Secara khusus, Ratna mengulas Dr Neil Ferguson dari Imperial College London, epidemiolog yang sejak awal getol menyarankan agar karantina wilayah diterapkan di Inggris. Dengan pemodelan matematis yang dibuatnya, pertengahan Maret lalu, Ferguson memprediksi angka kematian akibat korona di Inggris akan mencapai 510.000 orang jika tak diterapkan karantina wilayah ketat. Prediksi inilah yang membuat banyak pihak panik.

Editor: Yohanes Krisnawan
Bagikan
Memuat data..