logo Kompas.id
OpiniPemajuan, Bukan Elitisme
Iklan

Pemajuan, Bukan Elitisme

Premis bahwa kebudayaan suatu masyarakat bisa mati, sekarat, di dalam sebuah masyarakat yang masih hidup sungguh problematik dalam berbagai segi.

Oleh
Hikmat Darmawan
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/RP5wVYMRd5B7icKnjIbvaI39NdA=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F08%2F6dab8740-b7ae-4b6d-828b-3fb2f62ddd3a_jpg.jpg
KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Pelajar tampil dalam balutan busana tradisional dalam Karnaval Kebudayaan di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (12/8/2019). Dalam rangka menyambut HUT Ke-74 RI, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Karnaval Kebangsaan sebagai sarana untuk mewujudnyatakan toleransi.

Apakah kebudayaan di suatu masyarakat yang masih hidup bisa mati? Radhar Panca Dahana, dalam tulisan di Kompas (21/1/2020) menyebut Indonesia saat ini mengalami ”sakratul maut seni-budaya”.

Radhar menyatakan, kebudayaan mengalami ”humilisasi” dan ”asasinasi” oleh negara/rezim Jokowi. Diungkapkan, sejak Orde Baru hingga era Susilo Bambang Yudhoyono, tak ada yang memahami kebudayaan di pemerintahan. Di era Gus Dur yang mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta, kebudayaan dan seni ”tak dapat porsi yang cukup”. Di era Jokowi, menurut Radhar, negara kerjanya menghina kebudayaan.

Editor:
yohaneskrisnawan
Bagikan