logo Kompas.id
β€Ί
Opiniβ€ΊNegara yang Bukan-bukan
Iklan

Negara yang Bukan-bukan

Betapa tidak mudahnya menjaga keseimbangan antara prinsip demokratik dalam sebuah negara yang tidak berasaskan agama, tetapi di sisi lain sangat kuat kehidupan keberagamaannya.

Oleh
Alissa Wahid
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/94ee_tGi8_vSt1TO0Ui1rAeldUU=/1024x1073/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F12%2F20191221-Ilustrasi-Udar-13_web_85921138_1576933441.jpg

Indonesia bukan negara agama, tetapi juga bukan negara sekuler, maka paling tepat Indonesia disebut sebagai negara yang bukan-bukan. Demikian salah satu pandangan jenaka Gus Dur yang membawa sebuah muatan kritis yang sangat fundamental: betapa tidak mudahnya menjaga keseimbangan antara prinsip demokratik dalam sebuah negara yang tidak berasaskan agama, tetapi di sisi lain sangat kuat kehidupan keberagamaannya. Tergelincir ke satu sisi akan membawa ketegangan yang luar biasa karena sisi diametralnya akan meregang dan meradang.

Di negara ini, agama adalah salah satu hal paling penting dalam kehidupan warganya, sebagaimana diperlihatkan dalam riset oleh Pew Research Center. Tahun 2017, lebih dari 90 persen warga Indonesia mengakui hal tersebut dan menempatkan Indonesia di urutan kedua setelah Etiopia secara global. Mudah untuk membayangkan bahwa ini akan diterjemahkan menjadi dominasi perspektif agama dalam setiap sudut kehidupan berbangsa dan bernegara.

Editor:
Bagikan