logo Kompas.id
OpiniKotak Pandora RUU Terorisme

Kotak Pandora RUU Terorisme

Oleh
Boni Hargens, Direktur Lembaga Pemilih Indonesia
· 1 menit baca

<img alt="" class="alignnone size-medium wp-image-6013750" height="1440" src="https://kompas.id/wp-content/uploads/2018/05/65851505-546x1440.jpg" width="546"/>Air mata mengalir saat kita dengan geram mengutuk terorisme. Tetapi, kita juga sadar, terorisme tidak muncul ex nihilio, lahir dari kekosongan. Ada konteks historik, sosial, ekonomis, ideologis, dan politik yang membentuknya (McEntire, 2009). Semangat memerangi terorisme dan upaya memahaminya mesti membentuk grafik yang proporsional agar tak kontraproduktif.

Kepala Kepolisian RI Tito Karnavian mengajukan pendapat yang revolusioner. “Keluarga pelaku bom Surabaya juga korban. Mereka korban dari dakwah-dakwah radikal.” Kurang lebih begitu ujar Tito dalam tayangan televisi swasta (15/5/2018). Revolusioner karena mendobrak pakem universal tentang teroris sebagai penjahat murni.

Ungkapan Tito memuat substansi humanitarian yang berintensi memerangi terorisme sambil memperlakukan pelaku sebagai manusia yang bermartabat. Ini sinyal baik yang mesti ditangkap oleh para pembuat UU di parlemen.

Editor:
Bagikan