logo Kompas.id
OpiniArtikel OpiniEuforia Perguruan Tinggi Disruptif

Euforia Perguruan Tinggi Disruptif

Oleh Clayton M Christensen pengembang teori inovasi disruptif perguruan tinggi yang menerapkan teknologi disruptif dijuluki sebagai PT inovatif bukan disruptif seperti dalam buku karyanya bersama Henry J Eyring The Innovative University 2011 Dalam buku itu inovasi disruptif diwakili

Oleh Budi Widianarko
· 1 menit baca

Oleh Clayton M Christensen, pengembang teori inovasi disruptif, perguruan tinggi yang menerapkan teknologi disruptif dijuluki sebagai PT inovatif, bukan disruptif, seperti dalam buku karyanya bersama Henry J Eyring, The Innovative University (2011).

Dalam buku itu, inovasi disruptif diwakili oleh kehadiran lembaga perguruan tinggi (PT) dan berbagai peranti pembelajaran daring. Dua konsep kunci dalam PT inovatif, menurut Christensen dan Eyring, adalah: (1) inovasi disruptif membawa ke pasar produk dan jasa yang tidak sebagus produk terbaik yang ditawarkan secara tradisional; (2) pembelajaran daring adalah teknologi disruptif yang memaksa PT mengevaluasi model pendidikan yang mereka tawarkan.

Namun, entah kenapa, belakangan yang menguat justru sebutan PT disruptif dan PT 4.0 merujuk pada Revolusi Industri 4.0. Tampaknya, julukan ”disruptif” dan ”4.0” terkesan lebih menggugah perbincangan soal pendidikan tinggi di negeri ini. Gairah ini tecermin dari dua tulisan di harian ini, ”Pendidikan Tinggi 4.0” oleh Waras Kamdi (3/3/2018) dan ”Kampus Disruptif” oleh Arif Satria (19/4/2018).

Editor:
Bagikan
Memuat data..