logo Kompas.id
OpiniPendidikan Tinggi 4.0

Pendidikan Tinggi 4.0

Oleh
Waras Kamdi
· 1 menit baca

Sejak dilantik, Presiden Joko Widodo yang \'gemes\' melihat perkembangan perguruan tinggi di Indonesia, yang dinilainya tak tanggap perubahan zaman, kalangan perguruan tinggi kontan menggeliat. Teknologi dan inovasi disrupsi yang menandai perubahan zaman menjadi "trending topic" di kalangan pendidik.

Kemristekdikti pun segera melakukan lompatan kebijakan menuju Pendidikan Tinggi 4.0 (Paparan Menristekdikti di Bali, 2/2/2018). Ini angin segar, karena selama ini perguruan tinggi (PT) di Tanah Air diperangkap berbagai macam nomenklatur dan tak mampu beranjak dari cara pikir (mindset) pedagogi masa silam.

Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0) tulisan Klaus Schwab yang dicuatkan pada World Economic Forum, Februari 2016, pun jadi bacaan yang menawan. Ceramah Jack Ma menjadi enak didengar dan disimak. Buku Clayton M Christensen plus buku Rhenald Kasali tentang inovasi disruptif jadi sedap dibaca lagi. Lalu muncul kesadaran kolektif bahwa DNA Inovator, yang sebenarnya jenis-jenis kecakapan meta-kompetensi, yang dibeberkan Jeff Dyer dkk sewindu lalu dipandang penting dalam kurikulum pendidikan nasional kita.

Editor:
Bagikan