logo Kompas.id
OlahragaPeluang Baru ”Merah Putih”
Iklan

Peluang Baru ”Merah Putih”

Indonesia membuka peluang merebut Piala Thomas setelah lolos ke final dengan kemenangan atas Denmark. Namun, bendera Merah Putih tak akan dikibarkan karena Indonesia dikenai sanksi WADA.

Oleh
YULIA SAPTHIANI
· 5 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/DOsGZmf6fCIGfvTuYr7O-cAk4hU=/1024x575/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F20211016_1741_ThomasUberCupFinals2020_BPYN8167_1634403586.jpg
BADMINTONPHOTO/BWF/YOHAN NONOTTE

Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto memastikan kemenangan Indonesia atas Denmark, 3-1, pada semifinal Piala Thomas di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Sabtu (16/10/2021). Fajar/Rian mengalahkan ganda kedua Denmark, Mathias Christiansen/Frederik Sogaard, 21-14, 21-14.

AARHUS, SABTU — Indonesia memiliki kesempatan yang jarang didapat dengan melaju ke final kejuaraan bulu tangkis beregu putra Piala Thomas 2020. Final melawan China menjadi peluang baru setelah skuad ”Merah Putih” melewatkan beberapa kesempatan lain untuk menjadi yang terbaik dalam ajang beregu.

Tiket final didapat Indonesia setelah mengalahkan tuan rumah Denmark, 3-1, di Ceres Arena, Aarhus, Sabtu (16/10/2021). Dalam perebutan gelar juara, Minggu pukul 18.00 WIB, Anthony Sinisuka Ginting dan kawan-kawan akan bertemu China yang pada semifinal lain menang atas Jepang, 3-1. Pertemuan terakhir Indonesia dan China pada final Piala Thomas terjadi di Kuala Lumpur 2010, ketika Indonesia kalah 0-3.

Final ini membuka harapan Indonesia untuk membayar kegagalan pada kejuaraan beregu campuran Piala Sudirman di Vantaa, Finlandia, dua pekan lalu. Datang dengan materi peraih medali emas dan perunggu Olimpiade Tokyo 2020, dua ganda putra terbaik dunia, serta juara All England 2020, Indonesia menjadi salah satu tim dengan kekuatan merata pada empat nomor. Akan tetapi, langkah Indonesia dihentikan Malaysia, 2-3, pada perempat final.

Baca juga : Tantangan Berlipat Melawan Denmark

Peluang emas lain yang gagal berbuah gelar juara terjadi pada final Piala Thomas 2016. Setelah tim kuat China tersingkir pada perempat final, Indonesia menang atas Korea Selatan pada semifinal dan tinggal berhadapan dengan Denmark.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/zwcrnKkeQt26aU6gNinv4mBKPdc=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2Ftho01_1634399515.jpg
AP/CLAUS FISKER/RITZAU SCANPIX

Pemain Denmark, Viktor Axelsen (kiri), merayakan kemenangannya atas Anthony Sinisuka Ginting, yang tengah memprotes wasit karena dinyatakan melakukan kesalahan pada angka terakhir. Axelsen mengalahkan Anthony, 21-9, 21-15, dan Denmark memimpin 1-0 atas Indonesia pada semifinal Piala Thomas di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Sabtu (16/10/2021).

Penampilan konsisten dua ganda putra yang bisa menyumbangkan poin, salah satunya Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, tak diimbangi pemain tunggal. Meski tinggal membutuhkan satu kemenangan, Indonesia kalah 2-3 yang membuat Denmark untuk pertama kalinya menjadi juara. Indonesia akhirnya membalas kekalahan itu di depan publik Denmark, lima tahun kemudian.

Final ini menjadi final ketiga Indonesia sejak Piala Thomas 2004. Padahal, para pemain putra Tanah Air mendominasi kejuaraan yang digelar sejak 1949 itu dengan 13 kali juara, lima di antaranya dilakukan secara beruntun pada 1994-2002.

Lebih merata

Dibandingkan dengan final 2016, materi pemain Indonesia tahun ini lebih merata pada semua partai. Namun, kemenangan atas Denmark tak mudah didapat. Apalagi, tuan rumah memiliki Viktor Axelsen dan Anders Antonsen, tunggal putra peringkat kedua dan ketiga dunia.

Baca juga : Kali Ini, Indonesia Lebih Baik

Anthony, yang berstatus tunggal kedua pada final 2016, kali ini punya tanggung jawab lebih besar dengan menjadi tunggal pertama. Dia pun menghadapi lawan lebih tangguh, yaitu Axelsen, peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/-djBOkf-HfpGu2Pf06MOi6axSIc=/1024x666/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2Ftho03_1634399524.jpg
AP/CLAUS FISKER/RITZAU SCANPIX

Reaksi Jonatan Christie setelah mengalahkan tunggal kedua Denmark, Anders Antonsen, dalam laga yang berlangsung 1 jam 40 menit pada semifinal Piala Thomas antara Indonesia dan Denmark di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Sabtu (16/10/2021). Kemenangan Jonatan membuat Indonesia unggul 2-1.

Sebelum bertemu di Aarhus, kedua pemain berbagi empat kemenangan dengan keunggulan Axelsen pada dua pertemuan terakhir, awal tahun ini. Sejak kompetisi dimulai di ”gelembung” Bangkok, Thailand, awal 2021, Axelsen tampil sangat konsisten. Dari 46 pertandingan sebelum bertemu Anthony, dia hanya kalah tiga kali.

Anthony pun kesulitan menghadapi permainan Axelsen yang hampir sempurna. Semua upaya pemain Indonesia peringkat kelima dunia tersebut untuk menghasilkan angka selalu dipatahkan Axelsen. Anthony kalah 9-21, 15-21.

Iklan

”Viktor sangat agresif dan tidak banyak membuat kesalahan. Apa yang terjadi pada saya adalah sebaliknya. Saya sudah berusaha menyerang, tetapi Viktor benar-benar bermain bagus hari ini. Dia susah ditembus,” tutur Anthony.

Berbeda dengan Anthony, tunggal kedua Jonatan Christie, yang sering tampil buruk sejak Piala Sudirman, kali ini bermain baik ketika berhadapan dengan Antonsen. Kemenangan 25-23, 15-21, 21-16 dalam waktu 1 jam 40 menit dinilai Jonatan sebagai penampilan terbaiknya setelah bertahun-tahun.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/y3FKF8mea5BVEzEPgI4oP9pZl5Y=/1024x679/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F20211016_1459_ThomasUberCupFinals2020_BPYL9940_1634399642.jpg
BADMINTONPHOTO/BWF/YVES LACROIX

Kevin Sanjaya Sukamuljo terbang menjangkau kok disaksikan rekannya, Marcus Fernaldi Gideon, saat melawan ganda pertama Denmark, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen, pada semifinal Piala Thomas antara Indonesia dan Denmark di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Sabtu (16/10/2021). Kevin/Marcus mengalahkan Astrup/Rasmussen, 21-13, 10-21, 21-15, dan membuat kedudukan imbang 1-1.

”Mungkin sejak Asian Games 2018, ini menjadi penampilan terbaik saya. Saya tahu pertandingan akan sulit, tetapi saya berusaha untuk fokus pada poin demi poin,” ujar peraih emas Asian Games 2018 itu.

Kemenangan Jonatan pun disambut riuh pendukung Indonesia, termasuk rekan-rekannya, meski jumlah mereka kalah banyak dari pendukung Denmark. Sebaliknya, dukungan untuk pemain tuan rumah terdengar kian sepi.

”Kita tahu, sebelum laga dimulai, Denmark diunggulkan juara karena memiliki pemain-pemain tunggal yang tangguh. Meski begitu, Indonesia memiliki ganda yang kuat, sehingga kalau bisa mengalahkan salah satu pemain tunggal Denmark, Indonesia punya peluang menang,” tutur Jonatan.

Baca juga : Mati-matian Melawan Malaysia di Piala Thomas

Sebelum Jonatan membawa Indonesia unggul 2-1, duet Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon mempertahankan performa mereka sejak tampil baik pada perempat final melawan Malaysia. Ganda berjulukan ”Minions” itu mengalahkan Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen, 21-13, 10-21, 21-15.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/iaowQn8rEbpFiICPqRvfWrZKnDI=/1024x669/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F20211016_1741_ThomasUberCupFinals2020_BPYN8191_1634403593.jpg
BADMINTONPHOTO/BWF/YOHAN NONOTTE

Warga Indonesia di Denmark memberikan dukungan kepada para pemain Indonesia dengan membawa bendera Merah Putih saat menghadapi Denmark pada semifinal Piala Thomas di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Sabtu (16/10/2021).

Pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi menilai, kemenangan Kevin/Marcus didapat berkat semangat juang yang muncul kembali sejak melawan Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia). Sebelumnya, ganda nomor satu dunia itu mengalami penurunan performa sejak tersingkir pada perempat final Tokyo 2020.

Baca juga : Drama Persaingan Tiga Tim

Berbeda dengan tiga laga sebelumnya yang berlangsung cukup menegangkan, kepastian kemenangan Indonesia ditentukan oleh Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dalam pertandingan selama 38 menit. Ganda putra nomor tiga Indonesia itu mengalahkan Mathias Christiansen/Frederik Soegaard, 21-14, 21-14.

Tak ada Merah Putih

Meski tim Thomas Indonesia sudah pasti berdiri di podium dengan lolos ke final, bendera Merah Putih tak akan dikibarkan pada upacara penghormatan pemenang. ”Saya sudah bicara dengan perwakilan BWF, tidak akan ada bendera Merah Putih. Yang akan dikibarkan adalah bendera PP PBSI. Lagu ’Indonesia Raya’ masih bisa berkumandang jika Indonesia juara, tetapi bendera tetap menggunakan bendera PP PBSI,” ujar Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PP PBSI Bambang ”Rudy” Roedyanto.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/5mLF2E6UkDilvGATPbdlMg9428Y=/1024x583/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F20211016_1534_ThomasUberCupFinals2020_BPYN7675_1634399649.jpg
BADMINTONPHOTO/BWF/YVES LACROIX

Jonatan Christie tampil gemilang mengalahkan tunggal kedua Denmark, Anders Antonsen, 25-23, 15-21, 21-16, pada semifinal Piala Thomas antara Indonesia dan Denmark di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Sabtu (16/10/2021).

Jika benar-benar terjadi, itu menjadi momen pertama wujud sanksi Badan Antidoping Dunia (WADA) terhadap Indonesia. Melalui pengumuman yang dirilis pada 7 Oktober, WADA memberi sanksi bagi lima federasi olahraga internasional dan organisasi antidoping nasional karena tidak mematuhi kode etik antidoping dunia. Sanksi diberikan di antaranya kepada organisasi antidoping nasional Korea Utara, Thailand, dan Indonesia.

Baca juga : Indonesia Mencoba Keluar dari Jerat Sanksi WADA

Ketidakpatuhan Indonesia disebabkan Lembaga Antidoping Indonesia (LADI) tidak menerapkan program pengujian yang efektif. Hal ini memunculkan berbagai konsekuensi, di antaranya tidak boleh menjadi tuan rumah kejuaraan tingkat regional, kontinental, atau dunia selama dinilai masih dalam masa ketidakpatuhan.

Sanksi lain adalah tidak boleh ada bendera Merah Putih dalam kejuaraan regional, kontinental, atau dunia. ”Semoga pemerintah menaruh perhatian terhadap sanksi WADA ini,” ujar Rudy.

Editor:
Johan Waskita
Bagikan