logo Kompas.id
OlahragaMental Baja Para Pembidik Medali Emas

Mental Baja Para Pembidik Medali Emas

Layaknya tuan rumah pesta olahraga tentu Malaysia ingin menyapu bersih lima medali emas pertama SEA Games Kuala Lumpur 2017 Akan tetapi saraf baja dua pemanah Indonesia Sri Ranti dan Prima Wisnu Wardhana memorak-porandakan rencana tuan rumahTangan kanan Sri Ranti merentang tali busur compound

· 3 menit baca

Layaknya tuan rumah pesta olahraga, tentu Malaysia ingin menyapu bersih lima medali emas pertama SEA Games Kuala Lumpur 2017. Akan tetapi, saraf baja dua pemanah Indonesia, Sri Ranti dan Prima Wisnu Wardhana, memorak-porandakan rencana tuan rumah.Tangan kanan Sri Ranti merentang tali busur compound, tangan kirinya kukuh memegang busur, matanya membidik sasaran sejauh 50 meter. Di rambahan ketiga babak perempat final nomor compound perseorangan itu, Ranti menghadapi pemanah Singapura, Christina Gunawan.Ranti unggul pada rambahan pertamanya. Rambahan adalah bagian dari babak perlombaan. Setiap babak sistem gugur terdiri atas lima rambahan dan pada setiap rambahan pemanah diberi kesempatan melepaskan tiga anak panah. Tiga anak panah Ranti meraih nilai 28, meninggalkan Christina yang meraih 26 poin.Tapi saat rambahan keduanya, tiga anak panah Ranti seperti kehilangan mata. Ranti hanya mendapatkan nilai 26, sehingga total nilainya 54 poin.Sementara Christina justru menajam. Dua anak panah Christina menancap di tengah sasaran, masing-masing bernilai 10. Satu anak panah lainnya pun meraih nilai tinggi, 9. Dengan raihan 29 poin di rambahan kedua itu, Christina mengumpulkan total poin 55. "Saya tak tahu apa yang terjadi. Sepertinya angin berubah itu mengganggu ketepatan sasaran saya," ujar Ranti, bercerita soal ketegangannya saat rambahan kedua perempat final, Rabu (16/8).Pada rambahan ketiga, jemari Ranti lembut melepas anak panah. Satu anak panahnya menancap sempurna, 10. Dua anak panah lainnya meraih nilai 9.Christina, yang berdiri di sebelah kanan Ranti, mungkin terintimidasi oleh kecepatan Ranti mengembalikan lesatan panah terbaiknya. Christina kehilangan iramanya, tiga anak panahnya "hanya" menghasilkan nilai 25, membuatnya harus rela membiarkan Ranti melangkah ke semifinal, juga final. Pada final, Ranti mengalahkan Chau Kieu Oanh (Vietnam), 144-142, dan meraih medali emas pertama Indonesia di SEA Games 2017.Teror PrimaLain lagi dengan Prima Wisnu Wardhana. Pemanah 22 tahun itu benar-benar piawai membuat para penggemarnya dag-dig-dug. Pada babak penyisihan nomor compound perseorangan putra, performa Prima sangat cemerlang. Ia meraih skor tertinggi di antara 31 pemanah. Dari 72 anak panah yang dilesakkannya, ia meraih nilai 703. Nyaris semua anak panah yang ia lepaskan meraih nilai 10.Akan tetapi, Prima justru selalu mencemaskan saat berlomba pada babak-babak sistem gugur. Saat menghadapi pemanah tuan rumah Malaysia, Zulfadhli Ruslan, Prima kalah jitu pada empat rambahan pertama, dan baru mampu mengejar di rambahan terakhir, memaksakan hasil imbang 144-144. Beruntung Prima memang punya nyali besar untuk bertarung dengan "satu anak panah terakhir". Sementara anak panah Zulfadhli meraih angka 9, anak panah terakhir Prima meraih angka 10.Pada babak final, Prima bikin senewen lagi, gara-gara tertinggal dari pemanah Malaysia, Mohd Juwaidi bin Mazuki. Di rambahan ketiga, barulah Prima bangkit, tiga anak panahnya semua berbuah angka 10, membungkam riuhnya pendukung Juwaidi di tribune arena panahan di kompleks Stadion Nasional, Bukit Jalil. Kebangkitan Prima pada rambahan ketiga seperti teror buat Juwaidi, yang tak mampu mencetak satu angka 10 pun di rambahan keempat. Prima akhirnya meraih medali emas SEA Games pertamanya setelah menang 145-144."Yang paling mendebarkan memang beradu anak panah terakhir melawan Zulfadhli. Saya beruntung, pelatih terus menggembleng mental dan fokus pikiran kami untuk menghadapi duel satu anak panah terakhir," ujar Prima yang berjuang keras setelah gagal lolos skuad SEA Games 2015.Prima dan Ranti memang tahan banting. Bidikan mereka semakin jitu ketika dalam tekanan. Itulah senyatanya karakter mereka di luar arena panahan. Dua "muka lama" di tim nasional panahan Indonesia, yang sempat absen dari pelatnas itu, telah kembali untuk mengharumkan Merah Putih.ARYO WISANGGENI GENTHONG dari Kuala Lumpur, Malaysia

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Memuat data..