logo Kompas.id
OlahragaMenanti Komitmen Pembinaan dan Dana

Menanti Komitmen Pembinaan dan Dana

Oleh
· 3 menit baca

Bakat atlet muda Indonesia tidak kalah kualitasnya dari negara lain. Yang belum jelas justru komitmen untuk pembinaan berkelanjutan serta dukungan dana.Hal tersebut disampaikan Muhammad Akbar Nasution (34), mantan perenang andalan Indonesia kepada wartawan, Jumat (21/7) petang, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten.Akbar baru tiba di Tanah Air setelah memimpin tim renang Indonesia di ASEAN School Games (ASG) ke-9 di Singapura. Akbar yang menjadi kepala pelatih sekaligus manajer tim renang mengantar 14 perenang putra serta 13 perenang putri.Renang menyumbang 20 medali emas dari total 26 medali emas, 33 perak, dan 26 perunggu yang diraih Kontingen Indonesia di ASG. Indonesia di bawah Thailand (29-25-32) sebagai juara umum ASG ke-9.Kontingen ASG disambut Yuni Poerwanti, Plt Deputi Menpora Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga. Yuni yang didampingi Marheny Dyah K, Plt Deputi Menpora Bidang Tenaga dan Organisasi Keolahragaan, mengalungkan bunga kepada Adinda Larasati Dewi (17), peraih sembilan medali emas dari renang.Tim renang yang diperkuat atlet-atlet berusia di bawah 17 tahun menyumbang 20 medali emas, 9 perak, dan 9 perunggu. "Bakat atlet muda kita tidak kalah dari anak-anak Singapura, Vietnam, Malaysia, Filipina, atau negara lainnya," ujar Akbar yang merupakan putra bungsu pelatih renang legendaris Radja M Nasution. "Justru yang belum jelas itu komitmen melakukan pembinaan berkelanjutan serta dukungan dana, baik dari pengurus PB PRSI sendiri maupun pemerintah," tegas Akbar yang lolos standar B FINA untuk berlomba pada nomor 200 meter gaya dada Olimpiade Sydney 2000. Bukan demam SchoolingAkbar juga menegaskan, saat ini PRSI cenderung membatasi pengiriman perenang-perenang muda Indonesia ke kejuaraan internasional. Pembatasan itu terlihat jelas pada nomor-nomor yang dikuasai oleh perenang andalan Singapura, Joseph Schooling, yaitu 50 meter dan 100 meter gaya kupu-kupu. Hal itu karena catatan waktu perenang kita tidak bisa mendekati waktu Schooling yang baru berusia 22 tahun. Menurut catatan Kompas, rekor 100 meter gaya kupu-kupu Indonesia sudah 52,90 detik, atas nama Glenn Victor Sutanto. Rekor dunia 100 meter gaya kupu-kupu dipegang Schooling dengan waktu 50,39 detik. Schooling juga meraih medali emas 100 meter gaya kupu-kupu di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, seusai mengalahkan "raja kolam renang dunia", Michael Phelps.Perenang Indonesia di nomor-nomor itu kini harus melewati batas waktu minimal supaya bisa dikirim ke kejuaraan internasional. Batas waktu minimal untuk 50 meter gaya kupu-kupu adalah 24,02 detik. "Kalau tidak masuk, ya tidak bisa mengikuti kejuaraan internasional. Begitu juga untuk nomor 100 meter gaya kupu-kupu," jelas Akbar.Akbar mengakui, PRSI tetap melakukan pembinaan untuk nomor-nomor Schooling itu, tetapi ada limit waktu supaya bisa mencari pengalaman di kejuaraan internasional. (NIC)

Editor:
Bagikan