logo Kompas.id
OlahragaJurang Semakin Lebar di ”Benua Biru”

Jurang Semakin Lebar di ”Benua Biru”

Kalau yang mengkritik bukan Roy Keane entah bagaimana reaksi manajemen Manchester United terutama sang manajer Jose Mourinho Namun karena kecaman datang dari seorang legenda manajemen MU relatif menerima dengan besar hati Sejak pasukan Setan Merah terseok-seok bersaing di Liga Primer bahka

· 3 menit baca

Kalau yang mengkritik bukan Roy Keane, entah bagaimana reaksi manajemen Manchester United, terutama sang manajer Jose Mourinho. Namun, karena kecaman datang dari seorang legenda, manajemen MU relatif menerima dengan besar hati. Sejak pasukan "Setan Merah" terseok-seok bersaing di Liga Primer, bahkan untuk sekadar masuk zona Liga Champions, Keane yang merupakan salah satu legenda Old Trafford rajin mengkritik mantan klubnya itu. Didorong rasa cinta yang amat dalam terhadap klub yang membesarkan namanya tersebut, sasaran kecaman Keane adalah Mourinho yang dianggapnya "tidak punya kelas" untuk berada di "Teater Mimpi" Old Trafford yang agung. Mourinho, yang selalu mengeluhkan padatnya jadwal laga MU yang terlibat dalam kompetisi domestik dan Eropa, dianggap Keane sebagai "sampah". "Saya tidak pernah mendengar pernyataan sampah seperti ini untuk klub sebesar Manchester United," ujar Keane mengecam penampilan jauh di bawah standar MU saat menyingkirkan Celta Vigo di Liga Europa. MU akan mempertaruhkan reputasinya sebagai tim besar dengan status klub terkaya sejagat dalam final Liga Europa melawan wakil Belanda, Ajax Amsterdam, 24 Mei mendatang di Stockholm, Swedia. Inilah satu-satunya kesempatan bagi MU untuk bisa berkompetisi di ajang antarklub paling bergengsi, Liga Champions, musim depan. Terpaku di peringkat keenam klasemen Liga Primer, MU praktis tak bisa menembus posisi empat besar karena kalah bersaing dengan Manchester City, Liverpool, dan Arsenal yang masih akan bertarung sampai akhir musim. Posisi MU di klasemen inilah yang juga memicu badai kecaman para fans fanatiknya yang semula sangat percaya klub ini akan kembali mendominasi Liga Inggris dengan kedatangan Mourinho dan pemain termahal sedunia, Paul Pogba. Klub terkaya Status sebagai klub paling kaya sedunia 2017 versi Deloitte juga memberikan tekanan beban kepada pasukan Mourinho. Tahun ini, MU dinobatkan sebagai klub paling kaya sedunia menggeser posisi raksasa Spanyol, Real Madrid, yang sudah 11 tahun bertengger di puncak Liga Finansial. MU mencatat rekor pendapatan 689 juta euro yang mengindikasikan pertumbuhan kuat pada tiga jenis pendapatan, yakni hari pertandingan (matchday), penyiaran (broadcast), dan komersial. Pertumbuhan pendapatan MU ini juga dipicu oleh keikutsertaan mereka di Liga Champions pada 2015-2016 dan kenaikan nilai kemitraan komersial. Liga Finansial Deloitte 2017 masih didominasi oleh klub-klub tradisional kaya dengan formasi MU, Real Madrid, dan Barcelona di tiga teratas.Rata-rata pendapatan 20 klub terkaya naik 12 persen dengan total 7,4 miliar euro pada 2015-2016, sebuah rekor baru dengan tiga klub menembus batas 600 juta euro.Namun, gambaran gemerlap klub-klub papan atas Eropa ini sesungguhnya tidak merefleksikan keadaan utuh industri persepakbolaan di Eropa. Laporan majalah World Soccer yang dirilis Maret lalu memperlihatkan jurang antara si kaya dan si miskin di persepakbolaan Eropa semakin menganga lebar. Negara-negara utama sepak bola Eropa, seperti Inggris, Spanyol, Italia, dan Perancis, menyumbang lebih dari setengah angka pertumbuhan dan total pendapatan. Sekitar 30 klub terbesar di negara-negara itu "menguasai" industri sepak bola Eropa. Sementara di sejumlah negara lain, seperti Portugal, Belanda, Norwegia, dan Denmark, rata-rata mengalami kontraksi pertumbuhan. Inggris dan Spanyol adalah negara yang paling menikmati kenaikan nilai kontrak penyiaran. Liga Inggris dan Liga Spanyol yang popularitasnya mendunia memakan sebagian besar "kue" kontrak penyiaran televisi. Di negara-negara "dunia ketiga" Eropa, jumlah penonton dan klub peserta kompetisi liga nasional terus merosot dalam satu dekade terakhir. Hal yang tidak terjadi pada Liga Inggris atau Liga Spanyol yang terus menikmati pertumbuhan. Tidak heran Roy Keane, yang memang terkenal vokal saat jayanya pada dekade 1990-an, terus mencak-mencakmengkritisi penampilan MU yang tidak menggambarkan sebuah tim paling kaya di dunia. (joy)

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Memuat data..