logo Kompas.id
β€Ί
Olahragaβ€ΊBelajar dari Rio 2016
Iklan

Belajar dari Rio 2016

Oleh
Β· 3 menit baca

Arena pertandingan dan infrastruktur warisan Olimpiade Rio de Janeiro 2016 kembali menjadi sorotan. Olympic Park Barra da Tijuca dan Deodoro, sebagai pusat arena Olimpiade, terbengkalai. Padahal, pembangunan fasilitas olahraga seharusnya bisa menguntungkan banyak pihak. Enam bulan setelah Olimpiade usai, dua pusat arena Olimpiade itu sepi. Beberapa di antaranya bahkan rusak. "Kami pikir, pembangunan arena yang ada di sini untuk kami, ternyata tempatnya selalu tutup," kata Alex da Silva Ferreira, warga Brasil.Bersama putranya yang berusia tujuh tahun, Ferreira semula ingin berjalan-jalan di tempat yang seharusnya menjadi taman di Deodoro. Saat Olimpiade, tempat yang didatanginya menjadi arena persaingan atlet kano dan sepeda gunung. Namun, saat Ferreira datang, gerbang taman itu dikunci. Di Olympic Park, tempat digelarnya cabang tenis, renang, balap sepeda, dan beberapa cabang bela diri, suasana juga sepi. Padahal, tempat tersebut cukup indah. Selain arena pertandingan, pengunjung bisa menikmati indahnya taman bunga."Tempat ini sangat indah, tetapi terabaikan. Semua kegiatan berhenti dan tak ada yang datang ke sini," kata warga lainnya, Wagner Tolvai. Tolvai dan kekasihnya, Patricia Silva, juga menunjuk mal yang terletak tak jauh dari Olympic Park, namun juga sepi. Satu-satunya kegiatan yang pernah digelar di stadion tenis seusai Olimpiade adalah turnamen voli pantai yang hanya berlangsung sehari.Stadion Maracana, stadion kebanggaan Brasil, juga tak jauh dari masalah. Tempat upacara pembukaan dan penutupan Olimpiade serta Piala Dunia 2014 ini rusak. Aliran listrik telah diputus karena adanya tunggakan sebesar 1 juta dollar AS (Rp 13 miliar).Perkampungan atlet, yang terdiri atas 3.604 unit apartemen, baru terjual 260. Warga lokal tak mampu membelinya. Untuk menangani masalah ini, seperti dilaporkan surat kabar Globo, Wali Kota Rio Marcelo Crivella memberi pinjaman agar warga bisa membeli apartemen.Berbagai proyek Olimpiade dan Piala Dunia di Brasil terkait dengan skandal korupsi. Mantan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva (2003-2010) adalah salah satu yang dikaitkan dengan korupsi itu. Mantan Gubernur Rio Sergio Cabral, bahkan, telah berada di penjara karena kasus yang sama.Satu-satunya warisan yang dinilai positif adalah sarana transportasi. Untuk menyambut Olimpiade, pemerintah setempat membenahi bandara internasional, pelabuhan, membangun jalur subway baru, dan trotoar yang ramah pejalan kaki.Cermin Asian Games 2018 Apa yang terjadi di Rio bisa menjadi contoh bagi Indonesia, khususnya Jakarta dan Palembang, yang akan menggelar Asian Games 2018. Meski "hanya" diikuti negara-negara dari satu benua, jumlah atlet Asian Games tak berbeda jauh dengan Olimpiade. Asian Games Incheon 2014, misalnya, diikuti 9.501 atlet, sementara Olimpiade Rio 2016 diikuti 11.237 atlet.Untuk menyambut kontingen dari 40-an negara, Jakarta dan Palembang tengah bersiap. Jakarta membenahi arena pertandingan, terutama di kompleks Gelora Bung Karno, Senayan. Perkampungan atlet dibangun di Kemayoran.Palembang, berdasarkan pantauan pada pekan lalu, memperbaiki dan membangun kompleks olahraga Jakabaring, wisma atlet, dan sarana transportasi kereta ringan (light rail transit/LRT).Proyek LRT sepanjang 23,4 kilometer akan menghubungkan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, dengan Kompleks Olahraga Jakabaring yang lalu lintasnya padat. Wakil Ketua Bidang Kompetisi PP PBVSI Regi Nelwan menuturkan, pembangunan infrastruktur dan arena untuk Asian Games 2018 akan berdampak positif bagi kemajuan olahraga Tanah Air. Regi mencontohkan, pembangunan Gedung Olahraga Sriwijaya menjadi Palembang Sport and Convention Center (PSCC) untuk SEA Games Jakarta-Palembang 2011. Seusai SEA Games, tempat ini dipakai untuk menggelar kejuaraan nasional dan internasional."Dulu, kami kesulitan mencari arena kejuaraan yang memenuhi standar internasional, sekarang PSCC bisa dipakai. Untuk kejuaraan voli, hingga sekarang PSCC masih salah satu yang terbaik," ujar Regi.Membangun fasilitas olahraga bisa menguntungkan berbagai pihak jika dikelola dengan baik. Mengambil contoh dari arena pertandingan basket, hoki, dan bisbol di Amerika Serikat, buku The Economics of Sports (2016) menjelaskan, pembangunan fasilitas olahraga bisa menguntungkan klub olahraga, penggemar olahraga, warga setempat, dan kota tempat dibangunnya fasilitas olahraga tersebut. (ap/reuters/iya)

Editor:
Bagikan