logo Kompas.id
NusantaraEkspor Serat Abaka dari Talaud...

Ekspor Serat Abaka dari Talaud Masih Sulit Terealisasi

Ekspor serat abaka di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, sulit terealisasi karena petani kesulitan mendatangkan mesin pemintal benang. Akses infrastruktur ke daerah perkebunan juga sangat terbatas.

Oleh
KRISTIAN OKA PRASETYADI
· 1 menit baca
Tampak Pulau Miangas di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, dari ketinggian bukit, Jumat (6/3/2020). Sebagian besar Pulau Miangas ditumbuhi pohon kelapa dan tumbuhan lain, seperti laluga, semacam talas yang dapat dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat.
KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI

Tampak Pulau Miangas di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, dari ketinggian bukit, Jumat (6/3/2020). Sebagian besar Pulau Miangas ditumbuhi pohon kelapa dan tumbuhan lain, seperti laluga, semacam talas yang dapat dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat.

MANADO, KOMPAS — Ekspor serat abaka di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, sulit terealisasi karena petani terkendala mendatangkan mesin pemintal benang. Akses infrastruktur ke daerah perkebunan juga sangat terbatas. Padahal, pasar ekspor komoditas ini ke Jepang disebut terbuka lebar.

Jufri Amiman, petani pisang abaka (Musa textilis) di Kecamatan Essang, Talaud, mengatakan, ia dan kelompok taninya mengelola lahan seluas lebih kurang 70 hektar. Jumlah pohon yang tumbuh di lahan itu diperkirakan ratusan ribu batang. Satu batang bisa menghasilkan hingga 1 kilogram serat kering.

Editor:
CORNELIUS HELMY HERLAMBANG
Bagikan