logo Kompas.id
NusantaraSesar Lawanopo Terus Bergerak,...

Sesar Lawanopo Terus Bergerak, Total 73 Gempa dalam Sepekan

Sesar Lawanopo di Konawe, Sulawesi Tenggara, terus bergerak sepekan terakhir. Total 73 gempa terjadi dengan gempa utama berkekuatan magnitudo 5,2 pada pekan lalu.

Oleh
SAIFUL RIJAL YUNUS
· 3 menit baca
Petugas tanggap bencana Dinas Sosial Sulawesi Tenggara menyiagakan tenda darurat di Desa Bajo Mekar, Konawe, Minggu (27/3/2022). Gempa dengan kekuatan M 5,2 pada Sabtu (26/3/2022) malam membuat warga pesisir mengungsi dan sejumlah bangunan rusak.
KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS

Petugas tanggap bencana Dinas Sosial Sulawesi Tenggara menyiagakan tenda darurat di Desa Bajo Mekar, Konawe, Minggu (27/3/2022). Gempa dengan kekuatan M 5,2 pada Sabtu (26/3/2022) malam membuat warga pesisir mengungsi dan sejumlah bangunan rusak.

KENDARI, KOMPAS — Sesar Lawanopo di Konawe, Sulawesi Tenggara, terpantau terus bergerak dalam sepekan terakhir. Total ada 73 gempa terjadi dengan gempa utama berkekuatan magnitudo 5,2 pada pekan lalu. Warga diharapkan tidak panik tetapi tetap waspada akan gempa susulan yang kemungkinan masih terjadi.

Pada Sabtu (2/4/2022) siang, gempa berkekuatan M 3,3 kembali terjadi di barat laut Konawe. Gempa dengan skala II-III (MMI) ini dirasakan hingga ke Kendari, yang berjarak 18,4 kilometer dari pusat gempa.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Kendari Rudin mengatakan, gempa yang berpusat di laut tersebut tidak berdampak pada kerusakan dan korban jiwa. Guncangan gempa juga tidak menimbulkan ancaman tsunami. Meski begitu, gempa ini masih lanjutan dari gempa sepekan sebelumnya. Selama sepekan terjadi 73 gempa yang semuanya berada di Sesar Lawanopo.

”Rentetan gempa terjadi di sesar yang sama dengan total ada 73 gempa. Gempa utama berkekuatan magnitudo 5,2 dengan gempa pembuka sebesar magnitudo 4,9,” kata Rudin, Sabtu siang.

Anak-anak bermain di salah satu lokasi pengungsian darurat di Desa Telaga Biru, Konawe, Sulawesi Tenggara, Minggu (27/3/2022) pagi. Gempa dengan kekuatan M 5,2 pada Sabtu (26/3/2022) malam membuat warga pesisir mengungsi dan sejumlah bangunan rusak.
KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS

Anak-anak bermain di salah satu lokasi pengungsian darurat di Desa Telaga Biru, Konawe, Sulawesi Tenggara, Minggu (27/3/2022) pagi. Gempa dengan kekuatan M 5,2 pada Sabtu (26/3/2022) malam membuat warga pesisir mengungsi dan sejumlah bangunan rusak.

Pada Jumat (25/3/2022) malam, gempa berkekuatan M 4,9 terjadi di barat laut Konawe dan membuat panik warga. Guncangan gempa terasa cukup kuat di Kendari. Sehari setelahnya, gempa utama sebesar M 5,2 kembali terjadi di lokasi yang sama dan membuat sejumlah bangunan rusak hingga warga mengungsi.

Baca juga: Diguncang Delapan Gempa, Peta Rawan Bencana Sesar Lawanopo Belum Ada

Gempa berkekuatan M 3,3 yang terjadi siang ini, tutur Rudin, menunjukkan Sesar Lawanopo masih terus bergerak dan mencari formasi kuncian. Tidak menutup kemungkinan akan ada gempa susulan lainnya dalam beberapa hari ke depan.

”Kami berharap warga tetap waspada tetapi tidak panik. Yang jelas, gempa berkekuatan M 5,2 pekan lalu adalah gempa utama dari puluhan rentetan gempa sejauh ini,” katanya.

Berdasarkan data Stasiun Geofisika Kendari, selama 2020 terjadi 33 gempa di Sesar Lawanopo. Sebanyak tiga gempa di antaranya dirasakan. Pada 2021, tercatat baru ada dua kali gempa dan dua-duanya dirasakan warga.

Puing-puing bangunan yang roboh terlihat di salah satu sisi kawasan tugu  bekas MTQ, Kendari, Sulawesi Tenggara, Minggu (27/3/2022), akibat gempa dengan kekuatan M 5,2 pada Sabtu (26/3/2022) malam. Rentetan gempa yang terjadi di Sesar Walanopo selama dua hari terakhir membuat beberapa bangunan rusak dan warga pesisir mengungsi.
KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS

Puing-puing bangunan yang roboh terlihat di salah satu sisi kawasan tugu bekas MTQ, Kendari, Sulawesi Tenggara, Minggu (27/3/2022), akibat gempa dengan kekuatan M 5,2 pada Sabtu (26/3/2022) malam. Rentetan gempa yang terjadi di Sesar Walanopo selama dua hari terakhir membuat beberapa bangunan rusak dan warga pesisir mengungsi.

Jamhir Safani, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana Sultra, menjabarkan, rentetan gempa yang terjadi di Sesar Lawanopo menunjukkan akan rentannya daerah di wilayah ini terdampak bencana. Gempa bisa menimbulkan bencana lanjutan, baik itu tsunami, tanah longsor, maupun hanya runtuhnya bangunan.

”Selama ini, korban dari gempa sebagian besar terjadi karena adanya dampak lanjutan, utamanya reruntuhan bangunan. Di satu sisi, di Kendari ini kondisi batuan merupakan batuan lunak yang mudah untuk bergerak,” katanya.

Oleh karena itu, Jamhir menyampaikan, pemerintah daerah penting untuk membuat kebijakan yang peka terhadap bencana. Aturan pendirian bangunan, lokasi, struktur, hingga tinggi bangunan sebaiknya memperhitungkan dampak gempa.

”Peta rawan bencana yang lengkap, dengan memperhitungkan kondisi struktur batuan, dan rentannya bencana gempa, harus diaplikasikan pada kebijakan. Dengan begitu, antisipasi korban bisa dilakukan lebih dini ketika gempa terjadi. Selain itu, mitigasi dan program penyebarluasan informasi ke masyarakat harus terus dilakukan,” katanya.

Baca juga: Rentetan Gempa di Sesar Walanopo Paksa Warga Mengungsi

Editor:
Bagikan