logo Kompas.id
NusantaraPerjalanan Lebih Bermakna...

Perjalanan Lebih Bermakna Melewati Tol Trans-Jawa

Terhubungnya Tol Trans-Jawa sejak tiga tahun lalu tidak hanya memangkas waktu, tetapi juga membuat perjalanan lebih bermakna. Sejumlah warga yang tak terburu-buru ke tempat tujuan menyempatkan singgah ke beberapa lokasi.

Oleh
TATANG MULYANA SINAGA/ABDULLAH FIKRI ASHRI
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/AGHeLp2CEbVSGKSl9BDuresCYoc=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F05%2Fb4e2844d-6b0b-4994-959d-66d351de3048_jpg.jpg
Kompas

Suasana Empal Gentong H Apud di Jalan Ir Juanda, Desa Battembat, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Minggu (19/5/2019).

Terhubungnya Tol Trans-Jawa sejak tiga tahun lalu tidak hanya memangkas waktu, tetapi juga membuat perjalanan lebih bermakna. Sejumlah warga yang tidak terburu-buru ke tempat tujuan menyempatkan diri singgah ke beberapa lokasi. Perjalanan semakin asyik karena tidak sekadar menempuh jarak yang panjang.

Sebelum 2018, Rizki (32) tak pernah merasakan lezatnya Empal Gentong H Apud di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Warga Sarijadi, Kota Bandung, itu hanya bisa membayangkan kegurihan makanan khas Cirebon itu dari cerita teman-temannya.

Cerita itu membuatnya penasaran. Sebab, banyak kuliner di Cirebon, tetapi Empal Gentong H Apud tak pernah absen disebutkan setiap ada temannya yang mengunjungi Cirebon.

”Sampai-sampai setiap kali saya mengingat Cirebon, yang terbayang justru Empal Gentong H Apud,” ujarnya di Bandung, Kamis (16/12/2021) sore.

Meskipun hampir setiap tahun berwisata sambil mengunjungi keluarganya di Semarang, Rizki tak pernah mampir ke Cirebon, kecuali di stasiun. Perjalanan kereta api dari Bandung ke Semarang ditempuh dalam waktu sekitar 7,5 jam.

Baca juga : Rasa Empal Gentong Tak Pernah Bohong

Rasa penasaran akan kelezatan Empal Gentong H Apud dibayarnya tiga tahun lalu. Dalam perjalanan menggunakan mobil berwisata ke Semarang, ia singgah ke Cirebon. Makanan gulai berisi potongan daging sapi yang direndam kuah santan dilahapnya kurang dari 10 menit.

Rizki mengatakan, sejak tersambungnya Tol Trans-Jawa, ia lebih sering melalui jalan bebas hambatan itu ketimbang menggunakan kereta sebab waktu tempuhnya relatif lebih singkat, sekitar 5,5-6 jam.

”Selain itu, kalau tidak buru-buru, bisa keluar tol untuk berwisata dan berburu kuliner di daerah terdekat. Hal ini membuat perjalanan menjadi tidak monoton,” ucapnya.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/gmxWyj92-LOSZQVUcsBxrF_dh38=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2Fb6a0074e-61d3-4cf5-be3c-123070379df9_jpg.jpg
KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI

Toko penjualan telur asin berdiri di perbatasan Tegal-Brebes, Jawa Tengah, Minggu (15/8/2021). Sejumlah pelaku usaha telur asin mengeluhkan penurunan omzet di tengah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Tol Trans-Jawa juga membuat Rizki bisa menyalurkan hobinya menjelajah sejumlah daerah. Salah satunya Brebes di Jawa Tengah. Semula ia ingin mengunjungi kios-kios penjual telur asin yang menjadi ikon daerah tersebut.

”Dalam perjalanan, justru bertemu kuliner unik, namanya sate blengong. Rasanya sangat berbeda dengan daging yang pernah saya makan sebelumnya. Sepertinya cuma ada di Brebes,” katanya.

Blengong adalah hasil persilangan antara entok jantan dan itik betina. Di Brebes, dagingnya dijadikan sate berpadu bumbu beradam rempah.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/56UZ7r0GJKZgml51E_HdDALaXs8=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F6c810aff-c082-4e93-b6c1-88d5ba1cc44d_jpg.jpg
Kompas

Rest area (tempat istirahat) Jalan Tol Trans-Jawa Kilometer 260B Banjaratma, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Jumat (17/12/2021). Rest area ini memanfaatkan bangunan bekas pabrik gula yang sudah tidak beroperasi lagi.

Kehadiran Tol Trans-Jawa menjadi kesempatan bagi Wahyu Wibisana (31), warga Kabupaten Cirebon, untuk eksis di lokasi rest area. Tempat peristirahatan Kilometer 260 B Jalan Tol Pejagan-Pemalang menjadi salah satu favoritnya.

”Setahun bisa dua kali singgah ke rest area itu. Terakhir, Agustus lalu setelah antar adik kuliah di Semarang,” katanya, Kamis (16/12/2021).

Selain melepas lelah dan kantuk, Wahyu juga berwisata di tempat istirahat yang memanfaatkan bangunan bekas Pabrik Gula Banjaratma yang dibangun 1908 itu. Dengan luas lahan 10,4 hektar, area pabrik gula yang tidak lagi digunakan sejak 1997 itu unik. Ciri khas bangunan berupa susunan bata merah tetap dipertahankan.

Baca juga :

Aneka produk usaha mikro kecil menengah khas Brebes dan Tegal, Jateng, tersedia di area istirahat itu. Wahyu dan keluarga kerap belanja telur asin di sana. Anaknya yang berusia empat tahun juga senang menyaksikan berbagai jenis burung dalam kandang berdinding kaca.

Ada jua perosotan pelangi seperti di Dusun Similir, Semarang, yang tengah viral di media sosial. ”Tetapi, di sana ukurannya mini. Kalau di rest area pasti bisa sejam. Istirahat, makan, dan foto-foto,” ucap bapak satu anak ini sembari tersenyum.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/Lb30OqH3Z9Tndxvxf65nWzSoiIc=/1024x714/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211215WEN4_1639559988.jpg
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Salah satu gerai yang menjual produk sepatu dan pakaian di Pendopo Kilometer 456, Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (15/12/2021).

Ia juga kagum dengan area istirahat Pendopo 456 Salatiga di Tol Semarang-Solo. Area istirahat ini juga punya jembatan yang terhubung dengan jalur lainnya. ”Pokoknya, kalau masuk sana kayak ada di mal. Kiri-kanan tempat makan. View-nya (pemandangannya) seperti berada di atas tol,” ujarnya.

Karyawan swasta ini berharap area istirahat yang nyaman dan punya daya tarik wisata bisa diperbanyak. ”Rest area di tempat lain ada yang kurang terawat,” ucapnya.

Kehadiran Tol Trans-Jawa menghadirkan beragam cerita bagi orang-orang yang melintasinya. Mereka bisa menghemat waktu tempuh sekaligus menabung pengalaman bermakna dalam perjalanan.

Baca juga : Mentari Pagi Menyapa Tol Trans-Jawa

Editor:
Cornelius Helmy Herlambang
Bagikan