logo Kompas.id
NusantaraMengenang Pertempuran...

Mengenang Pertempuran Leuwiliang di Situs Purbakala Pasundan

Monumen di Taman Peringatan Cianten di Leuwiliang, Bogor, untuk memperingati Pertempuran Leuwiliang 2-4 Maret 1942. Saat itu, pasukan Jepang menghadapi pasukan Sekutu dari Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Oleh
Iwan Santosa
· 6 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/vYfznUKWHjXHu-ycEvx7g_r44Zc=/1024x769/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2Fmonumen-tjianten_1635857024.jpeg
KOMPAS/IWAN SANTOSA

Monumen di Taman Peringatan Tjianten di Leuwiliang, Bogor, untuk memperingati pasukan Jepang yang gugur saat menghadapi tentara Sekutu pada masa Perang Dunia II.

Belasan orang dari Kedutaan Besar Jepang dan dari berbagai perusahaan swasta Jepang di Indonesia berkumpul di tepi Sungai Cianten di Kecamatan Leuwiliang, Jawa Barat, Selasa (26/10/2021) pagi.

Mereka berdoa di depan sebuah monumen beraksara Kanji. Lalu meletakkan bunga, memasang dupa, dan menyiramkan sake ke atas monumen yang berterakan deretan tulisan kanji.

Bunyi tulisan tersebut, Hiroyasu Teitai atau Kolonel Hiroyasu selaku Komandan Resimen yang bertempur; Senbotsusha Ireihi (prasasti untuk mengenang mereka yang gugur); Nihon Koku Niigataken (mereka berasal dari Prefektur Niigata); Shibata kyu-Hohei dari 16 Rentai Senyu-kai (didirikan oleh para veteran resimen infanteri ke-16 dari Kota Shibata).

Monumen tersebut dibangun untuk mengenang pasukan Jepang yang gugur dalam Pertempuran Leuwiliang.

Monumen tersebut dibangun untuk mengenang pasukan Jepang yang gugur dalam Pertempuran Leuwiliang. Dalam pertempuran yang berlangsung pada 2-4 Maret 1942 ini, pasukan Angkatan Darat Jepang (Rikugun) menghadapi pasukan sekutu dari Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Dalam pertempuran berdarah itu, ribuan serdadu Jepang ditahan selama dua hari di tepi Sungai Cianten, kini di seberang monumen. Pasukan sekutu yang jumlahnya lebih sedikit, yakni dua batalion infanteri, satu skuadron kavaleri, dan satu kompi artileri, bertahan di bukit yang kini menjadi Museum Purbakala Pasir Angin.

Bukit itu berada di dekat lokasi Monumen Cianten. Untuk mengenang pertempuran tersebut, dibangun Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/y6XE9spc3vmvoN9S294CfagDalQ=/1024x682/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F01%2Fkompas_tark_10715447_40_0.jpeg
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Ranting pohon tumbang di antara patung di makam kuno yang kini menjadi Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat, Senin (18/2/2013). Museum dengan berbagai arca kuno tersebut merupakan lahan bekas pemakaman orang Belanda dan Eropa bernama Kebon Jahe Kober, yang berdiri sejak 1795 sebagai tempat pemakaman pejabat dan tokoh penting masa itu. Kuburan yang dulu disebut Kerkhof Laan ini merupakan taman pemakaman umum tertua di dunia dan file arsip sejarah kolonial Belanda terbesar di Asia.

Para serdadu Jepang yang terlibat pertempuran berasal dari Kompi 19 Batalion 16 Divisi 2 dari Kota Shibata, Prefektur Niigata, Jepang. Mereka gugur pada tahun 17 Showa atau 1942 Masehi.

Pasukan sekutu yang unggul karena menguasai daerah ketinggian menghujani tembakan ke arah pasukan Jepang yang datang dari dataran lebih rendah di tebing Sungai Cianten.

Ketika pertempuran terjadi, dua batalion, yakni Batalion Senapan Mesin 2/3 (Machine Gun Battalion) dan Batalion Perintis 2/2 (Pioneer Battalion) Australia Imperial Forces (AIF), membangun pertahanan di Bukit Pasir Angin. Beberapa bekas pill box dan jalur galian lubang pertahanan terlihat mengular di lingkar bukit.

Baca juga: Mengenang 76 Tahun Pertempuran Leuwiliang

Pihak Angkatan Darat Inggris menempatkan satu skuadron kavaleri dari 3 King’s Own Hussars yang dibentuk sejak tahun 1685. Mereka mengoperasikan tank ringan Vickers MkV1B, Bren Gun Carrier, dan sejumlah kendaraan lain.

Untuk mendukung perimeter pertahanan di sebelah barat Kota Bogor, posisi baterai artileri ”The Lost Battalion” dari Texas, yakni dari Batalion 2 Resimen Artileri 131 US Army, ditempatkan di dekat Bogor, antara Leuwiliang dan Kota Bogor.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/IPSWt0ZBWI0geQbvsdSL2Rol_5s=/1024x1065/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2Fbatalionsenapan_1635909146.jpg
AUSTRALIAN WAR MEMORIAL/043856

Pasukan dari Batalion Senapan Mesin 2/3 Australia yang merupakan bagian dari pasukan Blackforce berfoto bersama kendaraan lapis baja mereka di Perkebunan Arinem, Garut, Jawa Barat, Februari-Maret 1942. Mereka lah yang terlibat pertempuran menghadang invasi pasukan Jepang di Leuwiliang, Bogor, 2-4 Maret 1942.

Dengan meriam kaliber besar, mereka menghujani tembakan ke arah kedatangan pasukan Jepang dari seberang Sungai Cianten. Dalam pertempuran yang berlangsung selama musim hujan itu, arus Sungai Cianten mengalir deras. Jembatan keburu dihancurkan pihak Sekutu.

Pasukan Jepang terhambat gerak majunya seusai mendarat di Pantai Merak. Saat itu pasukan Angkatan Laut Jepang (Kaigun) baru saja mengalahkan Angkatan Laut ABDA Command dalam pertempuran Selat Sunda atau fase terakhir pertempuran Laut Jawa tanggal 1 Maret 1942.

Ketika itu, dua kapal penjelajah Sekutu, yakni USS Houston dari AL Amerika Serikat dan HMAS Perth dari AL Australia, ditenggelamkan armada Jepang. Sebelumnya, pasukan sekutu yang menenggelamkan beberapa kapal perang Jepang.

Setelah itu, Jepang berhasil mendaratkan pasukan di pantai barat Jawa dan terus merangsek ke arah Pandeglang dan Bogor dengan sasaran akhir markas pasukan Sekutu dan Belanda di Kota Bandung.

Gerak maju mereka nyaris tidak terbendung kalau saja tidak ada pasukan sekutu di bawah Brigadir Jenderal Arthur Blackburn—dikenal sebagai Black Force—yang menghadang Jepang di perbatasan Leuwiliang di Pasir Angin dan Jembatan Cianten.

Pihak sekutu akhirnya mundur dari Leuwiliang setelah mendapatkan perintah dari markas besar di Bandung. Pihak Jepang dengan gerakan melambung berhasil menyeberangi Sungai Cianten di beberapa lokasi untuk menjauhi Bukit Pasir Angin yang menjadi pusat pertahanan Sekutu.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/036xt33HtBOAbfpM2NctI_Czw4Y=/1024x1010/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2FAustraliaWarJava_1635909294.jpg
AUSTRALIAN WAR MEMORIAL/043855

Pasukan dari Batalion Senapan Mesin 2/3 Australia tengah mempersiapkan titik-titik pertahanan di sebuah ruas jalan di Pulau Jawa, sekitar bulan Februari-Maret 1942. Batalion ini adalah bagian dari pasukan Black Force yang menghadang pasukan Jepang di Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat, dalam salah satu pertempuran darat paling menentukan di episode jatuhnya Hindia Belanda ke tangan Jepang dalam fase awal Perang Dunia II.

Ziarah 

Tampak khidmat mengikuti rangkaian upacara di Taman Peringatan Tjianten adalah Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Jepang di Jakarta Tsunoda Katsunori, Atase Pertahanan Kapten (Angkatan Beladiri Jepang) Hidenori Mizuno, beberapa pejabat dan pengusaha Jepang, serta dari Yayasan Warga Persahabatan (Fukushi Tomo no Kai).

Tsunoda Katsunori mengatakan, monumen tersebut direnovasi karena hampir roboh jatuh ke sungai akibat abrasi. Monumen kini berada lebih ke darat dari posisi semula.

Seusai berziarah, rombongan kemudian mengikuti ramah tamah dengan pihak Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, di Museum Purbakala Pasir Angin.

Kepala Desa Cemplang Odah menyatakan kesiapannya melestarikan situs Perang Dunia II itu agar bisa menjadi daya tarik, terutama bagi wisatawan dari Jepang dan negara-negara asal pasukan sekutu, seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Belanda.

Kepala Desa Cemplang menyambut baik kunjungan delegasi Jepang dan berharap agar lokasi tersebut bisa menjadi tujuan wisata ziarah dan edukasi. Pihaknya juga ingin menggandeng para pengusaha Jepang untuk memberi kesempatan magang kepada pemuda-pemudi asal Desa Cemplang dan sekitarnya.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/-eCYnpGzB806urRSPhDr1UTRqsA=/1024x577/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2Ftjianten_1635890420.jpeg
KOMPAS/IWAN SANTOSA

Rombongan dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta berpose dengan perangkat Desa Cemplang di dekat monumen Taman Peringatan Tjianten. Monumen itu untuk memperingati gugurnya pasukan Jepang saat menghadapi tentara Sekutu dalam Perang Dunia II.

Jejak tentara Sekutu

Terpisah, pegiat sejarah dan pengurus Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Australia Michael Kramer menceritakan, dirinya berulang kali mengunjungi situs Pasir Angin dan mencari jejak serdadu Sekutu yang hilang seusai pertempuran melawan Jepang.

Selain keberadaan monumen yang didirikan pihak Jepang, Michael Kramer juga menempatkan dua plakat untuk mengenang Batalion 2/2 Pioneer dan Batalion 2/3 Senapan Mesin AIF yang ditempatkan di dalam Museum Pasir Angin.

Kantor Atase Pertahanan Australia di Jakarta pada setiap awal Maret mengadakan makan malam Blackburn untuk mengenang pertempuran Leuwiliang.

Baca juga: Mencari Jejak Serdadu Sekutu di Leuwiliang

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/O7-smFWl_QZX6FvYNJdyS4kkjGE=/1024x781/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2FAustraliaBlackForce_1635909401.jpg
AUSTRALIAN WAR MEMORIAL/123666/BUCHANAN, ROBERT JOHN

Para perwira dari Batalion Senapan Mesin 2/3 Australia yang menjadi tawanan perang Jepang, baru saja dibebaskan dari salah satu kamp tawanan di Batavia, 25 September 1945. Mereka adalah bagian dari pasukan Black Force yang bertempur sengit melawan invasi pasukan Jepang di Leuwiliang, pada 2-4 Maret 1942.

Sejarah purbakala

Monumen Tjianten dan Museum Pasir Angin dinilai potensial dikembangkan sebagai magnet wisata ziarah dan sejarah purbakala. Di situs Pasir Angin, pernah ditemukan topeng emas, yang hanya ditemukan di dua lokasi di Indonesia.

Dalam keterangan Pusat Arkeologi Nasional seperti terdapat di Museum Pasir Angin, topeng emas berukuran 18 x 15 sentimeter itu ditemukan di kedalaman 75 sentimeter di bukit Pasir Angin. Tempat itu pada tahun 1976 kemudian dijadikan Museum Pasir Angin.

Bukit dengan radius 500 meter berketinggian 210 meter di atas permukaan laut itu membujur dari arah barat daya hingga timur laut. Keberadaan situs itu awalnya ditemukan oleh tim survei Yayasan Penelitian Masalah-masalah Asia pada tahun 1970.

Temuan lantas dilaporkan kepada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) yang kini dikenal sebagai Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Pusarkenas). Pada tahun 1971-1975 dilakukan ekskavasi secara terencana dan sistematis.

Dari situs itu, ditemukan berbagai artefak logam perunggu berupa kapak sriti, candrasa, dan perhiasan bandul kalung. Selain itu, ditemukan pula artefak dari bahan besi berupa mata tombak dan senjata seperti belati.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/YnoJaM179nnw4NekP9RZdsGah70=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2F20120329gala_1635890839.jpg
KOMPAS/ANTONY LEE

Pengunjung melihat koleksi kapak perunggu di Museum Pasir Angin di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (25/3/2012). Saat itu, kendati museum berada di kawasan cagar budaya megalitik, kemasan museum kurang menarik dan tidak dilengkapi dengan keterangan dan alat peraga yang memadai.

Temuan lainnya adalah manik-manik batu dan kaca dengan variasi warna biru, coklat, hijau, dan kuning. Ditemukan juga fragmen keramik Tiongkok yang diperkirakan berasal dari periode awal Dinasti Qing (pertengahan 1650 Masehi).

Lokasi Bukit Pasir Angin diyakini sebagai tempat suci. Temuan batu andesit berbentuk monolit di atas bukit, menandakan adanya kehidupan pada masa prasejarah yang memfungsikan batu tersebut sebagai pemujaan arwah leluhur.

Di Museum Pasir Angin juga tersimpan temuan arca megalitik di dalam dan halaman museum, seperti arca yang ditemukan di situs Cibodas Ciampea. Beberapa lokasi temuan merupakan daerah latihan TNI.

Beberapa kali prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD yang berlatih di kawasan kars Ciampea-Leuwiliang melaporkan temuan-temuan benda purbakala ke instansi terkait.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/8dLAtYI_H_g-LiagKZxpU-ZvuXA=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2F20120329galc_1635890908.jpg
KOMPAS/ANTONY LEE

Museum Pasir Angin dengan sebuah batu monolit di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, seperti terlihat Minggu (25/3/2012).

Kehidupan yang terjadi di Pasir Angin ribuan tahun silam mencakup tiga fase budaya, yakni neolitik akhir, paleometalik atau perundagian, dan masa klasik.

Keberadaan situs pertempuran Perang Dunia II di Leuwiliang yang juga berada di lokasi purbakala Pasundan dan Pulau Jawa menjadi pengingat betapa tingginya nilai geostrategi dan betapa tuanya peradaban di Pulau Jawa dan Kepulauan Nusantara.

Editor:
Sri Rejeki
Bagikan