logo Kompas.id
NusantaraMari Mengejar Matahari di...

Mari Mengejar Matahari di Curug Ibun Pelangi, Majalengka

Curug Ibun Pelangi di Desa Sukasari Kaler, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menyimpan keindahan alam. Pengunjung dapat menikmati matahari dan buliran air terjun di antara dua tebing tinggi.

Oleh
ABDULLAH FIKRI ASHRI
· 4 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/gBEn6Za9EqhEZWd2XbkY4Krd-nU=/1024x684/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2Fset_curug-ibun-3_1633148868.jpg
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Wisatawan menikmati keindahan Curug Ibun Pelangi di Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Selasa (28/9/2021). Wisata yang dikelola badan usaha milik desa (BUMDes) setempat ini mulai ramai lagi setelah sempat ditutup saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat beberapa waktu lalu.

Deru air sungai seakan menggoda pengunjung untuk mendekatinya pagi itu, Selasa (28/9/2021). Ratusan anak tangga yang harus ditapaki jadi tantangan tersendiri. Melelahkan. Namun, semuanya lantas hanyut dalam kemegahan Curug Ibun Pelangi.

Bulir-bulir air yang terbang terbawa angin mulai menerpa wajah. Dua anak muda duduk di atas batu besar di tengah aliran sungai. Ketika sinar matahari menelusuk di antara dua tebing tinggi, mereka sontak berdiri dan berfoto tepat di bawah cahaya itu.

Begitulah momen incaran wisatawan di Curug Ibun Pelangi, destinasi yang kerap disebut Green Canyon, merujuk kemegahan Grand Canyon di Amerika Serikat. Disebut serupa dengan wisata di AS itu, Curug Ibun juga dikelilingi tebing tinggi yang membentuk lembah dengan Sungai Cilongkrang di dasarnya.

Baca juga: Burung di Angkasa Majalengka

Bedanya, jika dinding tebing di AS kering kecoklatan, lereng Curug Ibun basah oleh rembesan air. Dan, terdapat air terjun atau curug. Nama Ibun Pelangi diberikan karena banyak embun yang beterbangan dan ketika matahari menerobos bulir air terjun itu muncullah pelangi.

Pengunjung juga bakal dibuat takjub dengan batuan beku atau andesit di sana. Batuan itu terbentuk dari aliran lava yang merayap di lereng Ciremai, gunung tertinggi di Jabar. Lava itu tergerus dan tererosi aliran sungai di bawahnya sehingga lava itu membeku menjadi batuan. Diperkirakan, pembentukannya 2 juta tahun lalu.

Destinasi ini berada di Desa Sukasari Kaler, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Jaraknya sekitar 17 kilometer dari pusat pemerintahan Majalengka atau 5 kilometer dari jalan besar. Dari permukiman, pengunjung harus jalan kaki sekitar 200 meter.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/WENrTn-XOabrXLzjlNg9DJxNlv4=/1024x684/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2Fset_curug-ibun-4_1633148847.jpg
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Wisatawan menikmati keindahan Curug Ibun Pelangi di Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Selasa (28/9/2021). Di hari biasa, jumlah pengunjung hanya puluhan orang, sedangkan di akhir pekan bisa ratusan orang per hari.

Jalur aspal menuju tempat wisata itu kecil. Jika dua mobil berpapasan, salah satunya harus berhenti dan menutup spionnya. Medan yang menanjak membutuhkan keahlian pengemudi dan rem prima. Sepeda motor matik bahkan disarankan istirahat setiap 2 kilometer.

Jangan khawatir, pemandangan kebun bawang merah hingga cabai di sepanjang jalan sejenak bisa menggantikan tontonan hutan beton di kota. Sebagai sentra bawang merah, 11.000 ton dipanen setiap tahun. Hawanya sejuk, mengalahkan penyejuk ruangan kendaraan.

Bagi pengendara sepeda motor, parkiran sudah tersedia. Namun, untuk mobil, hanya dua unit yang bisa parkir di bawah pohon durian. Biasanya, kendaraan roda empat mangkal di pinggir jalan yang sempit.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/nBB2QMU-NTX29vwDGgMCOc552yw=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F20210928_085622_1633149454.jpg
KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI

Papan petunjuk jalan mengarahkan pengunjung ke Curug Ibun Pelangi di Desa Sukasari Kaler, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Selasa (28/9/2021).

Apalagi, saat akhir pekan atau libur. Kendaraan bisa mengular panjang. Wisatawan asal Cirebon, Bandung, hingga Jakarta tidak hanya menyasar Curug Ibun, tetapi juga lembah terasering Panyaweuyan yang berada di dataran lebih tinggi.

”Habis Lebaran tahun lalu, pengunjungnya hampir 1.000 orang,” kata Memen, pengelola Curug Ibun Pelangi. Saking banyaknya, warga harus mengantre masuk ke lokasi wisata. Namun, kini, hanya sekitar 200 wisatawan yang datang karena pandemi.

Itu sebabnya, ada baiknya wisatawan berkunjung di hari biasa. ”Bagusnya datang pukul 8-10 pagi kalau mau lihat matahari dan pelangi. Kalau siang, biasanya pukul 14.00 sampai pukul 15.00. Selain itu, mataharinya enggak ada,” ucap Memen.

Keselamatan pengunjung

Biaya masuk Curug Ibun Pelangi Rp 10.000 per orang dan Rp 2.000 untuk asuransi jiwa. Adapun biaya parkir sepeda motor dan mobil masing-masing Rp 3.000 dan Rp 5.000 per unit. Uang tersebut masuk ke kas Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukasari Kaler.

Dana itu, antara lain, digunakan untuk membangun toilet, mushala, serta perlengkapan keamanan, seperti pelampung dan handy talky. Sinyal telepon dan internet sulit di sana. Mungkin tertutup tebing raksasa setinggi 20-an meter.

Keselamatan pengunjung diprioritaskan. Sedikitnya dua warga berjaga di sekitar curug, memantau para pengunjung. ”Kalau akhir pekan, bisa empat sampai lima yang di bawah. Kalau hujan deras, wisata ditutup. Bisa sampai dua bulan,” ujarnya.

Kalau hujan deras, wisata ditutup. Bisa sampai dua bulan. (Memen)

Pengelola bahkan meminta pengunjung keluar dari area curug ketika hujan deras. Akhir pekan lalu, misalnya, pengelola terpaksa menyuruh satu mobil travel pulang karena lokasi ditutup mendadak setelah hujan deras. Tidak ada keindahan alam seharga nyawa.

Petugas acap kali berkoordinasi dengan pengelola wisata Lawang Saketeng Panyaweuyan. ”Kalau di sana hujan, kami di bawah siaga. Selama ini tidak ada kejadian (orang terseret arus). Pokoknya, hujan (wisata) distop,” ungkap Oman Hermanto (37), petugas di Curug Ibun Pelangi.

Menurut Oman, Curug Ibun Pelangi kian terkenal setelah ramai di media sosial dan perbaikan akses oleh Pemerintah Kabupaten Majalengka dan Batalyon Infanteri 321 Galuh Taruna Kostrad pada 2018. Melalui program TNI Bakti Desa Mandiri, tangga berbahan semen dengan pegangan di kedua sisinya mengantar wisatawan ke lokasi wisata.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/as-jlntxKR2x_K8fDW7pVeD_mww=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F20210928_083722_1633149619.jpg
KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI

Lahan bawang merah terhampar di Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Selasa (28/9/2021). Selain menjadi sentra bawang merah, Argapura juga kaya akan destinasi wisata, seperti Curug Ibun Pelangi.

”Dulu, orang turun ke sini pakai tali tambang. Warga biasanya memburu kelelawar untuk dimakan. Sekarang sudah tidak begitu,” kata Oman.

Pariwisata perlahan mengubah wajah daerah dengan ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut itu. Warung-warung bermunculan. Bahkan, ada rumah yang ditawarkan menjadi guest house. Warga kini punya alternatif saat menunggu panen bawang merah.

”Daripada enggak ngapa-ngapain tiga bulan tunggu bawang panen. Kadang-kadang (panen) juga rugi kalau hujan terus. Harganya bisa Rp 6.000 per kilogram. Padahal, biasanya Rp 10.000 per kg,” ungkap Oman yang menggarap lahan bawang merah milik mertuanya.

Jika air terjun bisa meredakan kerinduan wisatawan akan keindahan alam, destinasi wisata itu juga meringankan kekhawatiran warga, seperti Oman, terhadap hasil panennya. Yuk, mengejar matahari di Curug Ibun Pelangi.

Editor:
Cornelius Helmy Herlambang
Bagikan