logo Kompas.id
NusantaraJalan Panjang Menambang Emas...

Jalan Panjang Menambang Emas Hitam

Kita tidak boleh bergantung pada ekspor. Oleh karena itulah, mengolah produk turunan porang harus dilakukan sendiri di Indonesia.

Oleh
RUNIK SRI ASTUTI
· 6 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/ZBuqtCX8GlY1wKOiT5TxGRbatN8=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2FPresiden-Jokowi-kunjungi-pabrik-pengolahan-porang-di-jawa-timur-19-Agustus-2021_1629868636.jpeg
BIRO PERS SEKRETARIAT PRESIDEN/LAILY RACHEV

Presiden Joko Widodo mengunjungi PT Asia Prima Konjac, salah satu pabrik pengolahan porang di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis (19/8/2021).

Presiden Joko Widodo mengatakan, umbi porang merupakan komoditas pertanian unggulan di masa depan karena nilai ekonominya yang tinggi dan pangsa pasarnya yang terbuka lebar. Namun, upaya menambang ”emas hitam” ini masih harus melalui jalan panjang dan penuh tantangan.

Nurcholis Mustazim (32) tengah menyiapkan pelatihan pengolahan umbi porang (Amorphophallus muelleri) yang akan digelar dalam waktu dekat. Melalui pelatihan itu, dia berharap kelompok taninya yang beranggotakan 60 orang bisa memproduksi aneka produk makanan berbahan umbi porang.

Ketua Paguyuban Petani Porang Bumi Makmur Kabupaten Madiun itu mengatakan, produk olahan yang diincarnya, antara lain, bakso, kerupuk, dan donat. Produk makanan olahan itu akan memperkaya lini usaha kelompok tani agar kesejahteraan mereka semakin meningkat.

Upaya menghadirkan aneka produk makanan olahan ini merupakan bagian dari ikhtiarnya menggarap pasar dalam negeri. Selain itu, sebagai upaya mengenalkan produk pangan sehat karena kandungan karbohidrat dan kadar gula pada porang yang rendah.

Saat ini porang diolah menjadi irisan (chips) dan tepung untuk kebutuhan pasar ekspor. Di negara tujuan, diolah lagi menjadi beragam produk bernilai tinggi, seperti jelly atau konyaku, beras shirataki, bahan kosmetik, dan bahan obat-obatan. Harga beras shirataki ini mencapai Rp 200.000 per kilogram.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/mCesFjm35lADtcodQoUD-k2SuJk=/1024x550/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2F1908-BRI_BUAH-PORANG-TAJA_1629292821.jpg

Dengan tergarapnya pasar lokal, pangsa pasar porang akan semakin luas sehingga petani tambah bergairah. Saat ini, penjualan masih bergantung pada pasar ekspor sehingga saat terjadi gangguan, seperti pandemi Covid-19, harga porang menjadi tidak stabil.

”Terjadi penurunan harga secara signifikan karena pasar tujuan banyak yang ditutup. Hukum pasar berlaku, yakni harga turun karena permintaan berkurang dan pasokan barang banyak,” ujar Nurcholis, Rabu (25/8/2021).

Bagi petani, penurunan harga porang saat ini sampai pada taraf mengkhawatirkan. Umbi porang basah yang baru dipanen hanya dihargai Rp 4.000 hingga Rp 7.000 per kilogram. Harga tersebut turun signifikan dibandingkan dengan musim panen tahun lalu, Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per kg.

Baca juga: Presiden Jokowi Minta Nilai Tambah Porang Ditingkatkan

Dampak dari penurunan harga ini, sebagian petani porang, terutama pemain pemula menunda masa panen dengan harapan harga kembali naik setidaknya menjadi Rp 10.000 per kg. Kenaikan diharapkan terjadi seiring membaiknya penanganan pandemi Covid-19 dan dibukanya kembali keran ekspor secara penuh ataupun sebagian, di sejumlah negara.

Meski harga turun, petani porang di Madiun tak berniat meninggalkan porang karena nilai ekonominya lebih tinggi dibandingkan dengan ketela dan jagung. Sejumlah kelompok tani, seperti Bumi Makmur, memiliki terobosan mengolah umbi basah menjadi irisan (chips) porang kering. Pengolahan ini memberikan nilai tambah porang dengan harga jual Rp 42.000 per kg. Sebelum pandemi, harga irisan porang sempat menyentuh Rp 72.000 per kg.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/aXOXOqTX86L6BZwzrPJNhIx1edw=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F03%2F52d34911-e919-462f-947d-29e828d87f2f_jpg.jpg
Kompas/Hendra A Setyawan

Petani menanam porang (Amorphophallus muelleri) di kawasan hutan kota Sangga Buana, Karang Tengah, Jakarta, Rabu (17/3/2021).

Komarudin (45), petani porang di Kecamatan Dagangan, Madiun, mengatakan, petani tak hanya menjual umbi. Seiring masifnya gerakan menanam porang di sejumlah provinsi di Tanah Air, permintaan bibit sangat tinggi. Bibit itu berupa umbi atau disebut katak dan biji atau disebut juga bunga.

”Harga katak mencapai Rp 140.000 per kg, sedangkan benih lebih mahal lagi, yakni Rp 650.000 per kg. Harga bibit juga turun, tetapi hal itu tetap memperkaya sumber pendapatan petani. Apalagi biaya perawatan porang sangat murah dan tidak ada hama penyakit,” ucap Komarudin.

Setiap hektar tanaman porang bisa menghasilkan 15-20 ton umbi dalam setiap musim panen. Petani porang bisa membukukan pendapatan hingga Rp 40 juta pada panen perdana setelah masa tanam yang berlangsung delapan bulan. Pendapatan pada musim panen berikutnya lebih besar karena tidak ada biaya bibit.

Kita tidak boleh bergantung pada ekspor. Oleh karena itulah, mengolah produk turunan porang harus dilakukan sendiri di Indonesia. (Syahrul Yasin Limpo)

Ikhtiar menghadirkan produk turunan porang dengan nilai ekonomi tinggi juga dilakukan oleh Antok, petani dari Kecamatan Saradan. Kepada Presiden Joko Widodo, Kamis (19/8/2021), dia meminta bantuan alat dan pelatihan teknologi pengolahan porang menjadi pupuk organik.

”Petani berharap pengembangan porang dilakukan di hulu (on farm) dan hilir (off farm). Agar petani bisa mengolah porang secara mandiri (demi meningkatkan nilai tambah),” ujar Antok.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/PGatqWUN1g0uSqxC9TFJSYshyqg=/1024x696/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F01%2Fkompas_tark_11115961_13_1.jpeg
Kompas

Petani menunjukkan tanaman porang yang hidup di kawasan hutan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, akhir Mei 2011. Tanaman ini sengaja tidak dipanen karena digunakan sebagai indukan bibit porang.

Penjaga hutan

Umbi porang berwarna hitam dengan bentuk bulat besar dan kasar. Getahnya sangat gatal jika terkena tangan. Tanaman yang memerlukan teduhan ini dulu dijauhi masyarakat karena umbinya tidak bisa dikonsumsi secara langsung seperti ketela. Hanya petani tepian hutan yang membudidayakannya.

Sejak 10 tahun lalu, petani di Madiun sudah bisa mengolah umbi porang menjadi irisan (chips). Bedanya, teknologi pengolahan sekarang lebih berkembang. Contohnya, pengirisan umbi yang dulu manual kini memakai mesin. Proses pengeringan yang dulu mengandalkan sinar matahari, kini sebagian menggunakan mesin pemanas (oven).

Sejak mengenal porang, masyarakat tepian hutan berubah secara drastis. Jika sebelumnya mereka terlibat dalam pencurian dan penebangan kayu secara ilegal, kini menjadi penjaga hutan paling garang. Hal itu terjadi karena petani harus mempertahankan tanaman peneduh agar porangnya tumbuh optimal.

Dalam kunjungan kerjanya di Madiun, Presiden Joko Widodo juga mengunjungi pabrik pengolahan porang PT Asia Prima Konjac. Presiden mendorong industri porang tersebut mampu memproduksi produk olahan yang lebih variatif untuk pangsa pasar ekspor.

Menurut Presiden, porang berpotensi jadi komoditas unggulan di masa depan. Porang bisa menjadi alternatif sumber karbohidrat pengganti beras yang rendah kalori dan kadar gula. Program ini sejalan dengan diversifikasi pangan yang tengah didorong oleh pemerintah.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/-U7f470FhrZotlvBe9IRRQQMwe8=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F04%2F20190406_FOTO-PILIHAN_E_1554540213-e1554540886960.jpg
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Pekerja mengangkut potongan porang untuk dikeringkan di Desa Pingit, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (3/4/2019). Porang yang telah diolah tersebut nantinya untuk dibuat tepung sebagai bahan baku makanan. Beberapa jenis umbi-umbian tersebut saat ini mulai banyak diolah sebagai bahan makanan lokal.

Presiden minta Menteri Pertanian lebih serius menggarap porang dan menjadikannya komoditas unggulan ekspor. Meski demikian, dia melarang ekspor produk mentah untuk melindungi sumber daya alam Indonesia, memberikan nilai tambah yang lebih tinggi kepada petani, dan membuka lapangan kerja.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dalam kesempatan tersebut, mengatakan, untuk menjamin kesinambungan pasar porang baik di dalam maupun luar negeri, tata kelola mulai hulu, budidaya, hingga pengembangan hilir, ditangani dalam wadah ekosistem yang baik pada skala ekonomi.

”Kita tidak boleh bergantung pada ekspor. Oleh karena itulah, mengolah produk turunan porang harus dilakukan sendiri di Indonesia,” kata Syahrul.

Ekspor porang telah mencapai tahap hilirisasi berupa produk irisan (chips) dan dalam tahap pengembangan produk berupa beras. Kementan akan mengembangkan porang di seluruh Indonesia karena nilai ekonominya yang tinggi dan peluangnya yang terbuka di pasar ekspor.

Baca juga: Porang, Emas yang Terpendam

Berdasarkan data Kementan, sentra budidaya porang terbesar ada di Jatim, NTT, Jateng, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan daerah lainnya. Luas tanaman porang (eksisting) saat ini mencapai 47.461 ha, meningkat dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 19.950 ha.

Luasan tanaman porang itu tersebar di 15 provinsi dan ditargetkan menjadi 100.000 ha dengan dukungan pengembangan industri hilir dan perluasan pasar. Adapun rencana target tanam porang tahun ini terbesar di Jatim sebanyak 3.000 ha, Sulsel 2.000 ha, dan Jateng 1.500 ha. Selain itu, di NTT dan Aceh masing-masing seluas 1.000 ha serta di NTB seluas 500 ha.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/wABLQz0syTuG6m4ts9xQKCPSkL4=/1024x767/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2F20210825-Ilustrasi-Dari-Porang-ke-Daulat-Pangan_1629899005.jpg
DIDIE SW

Didie SW

Di Jatim, sentra budidaya porang terbesar di Kabupaten Madiun. Selain menjadi pemasok umbi porang untuk produksi, Madiun juga menjadi pemasok benih di seluruh wilayah Nusantara. Hal itu karena masyarakatnya telah lama menggeluti budidaya tanaman porang, mengolah, dan memasarkannya.

Madiun juga berhasil meregenerasi petani porangnya sehingga banyak anak-anak muda yang terlibat. Mereka bangga menjadi petani porang dan memiliki kepedulian besar pada upaya pengembangan. Semoga di tangan petani-petani muda, seperti Nurcholis, jalan panjang mendulang emas hitam bisa dilalui tanpa hambatan.

Editor:
Siwi Yunita
Bagikan