logo Kompas.id
NusantaraCahaya ”Tuntul” Sambut...

Cahaya ”Tuntul” Sambut Lailatul Qadar di Kotamobagu

Syahdan datanglah Lailatul Qadar pada malam ke-27 Ramadhan, malam ketika Al Quran difitrahkan ke Bumi. Maka, umat Islam di Kotamobagu, Sulawesi Utara, menyalakan pelita ”tuntul” di muka rumah untuk memuliakan malam itu.

Oleh
KRISTIAN OKA PRASETYADI
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/AePGKhzzIXKg8l7zV7qpz1BEO7g=/1024x684/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F05%2F82ecfeb8-ed06-4554-b000-affacf4532f1_jpg.jpg
KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI

Warga menyalakan pelita tuntul di depan rumah di Desa Kopandakan I, Kotamobagu, Sulawesi Utara, Minggu (9/5/2021) malam. Tradisi yang disebut monuntul itu dilaksanakan pada malam ke-27 Ramadhan yang dipercaya sebagai malam kemuliaan Lailatul Qadar.

Syamsu terbenam, azan Maghrib berdahanam. Tunailah 27 hari puasa pada bulan suci. Syahdan datanglah Lailatul Qadar, malam ketika Al Quran difitrahkan ke Bumi. Maka, umat Islam di Kotamobagu, Sulawesi Utara, menyalakan pelita di muka rumah untuk memuliakan malam itu, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Sebelum temaram menjadi malam, Minggu (9/5/2021), kanan dan kiri sepanjang jalan Desa Kopandakan I, Kotamobagu Selatan, telah benderang oleh cahaya tuntul, lampu lilin dari botol kaca bekas. Hajima Damo (49) termasuk kalangan warga pertama yang menyalakan sumbu tuntul-nya.

Editor:
Fransiskus Pati Herin
Bagikan