Pesan dari Respons Tiga Jam Penanganan Bencana Adonara
Pengambil kebijakan perlu hadir di lokasi bencana untuk memahami secara utuh kondisi di sana. Dengan begitu, keputusan yang diambil akan tepat sasaran.
Oleh
FRANSISKUS PATI HERIN
·3 menit baca
KOMPAS/P Raditya Mahendra Yasa
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo, Bupati Flores Timur Antonius G Hadjon dan Wakil Gubernur NTT Josef N Soi menggunakan kendaraan bermotor setelah turun dari helikopter untuk menjangkau Desa Nelelamadike di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT pada Kamis (8/4/2021).
Kamis (8/4/2021) pagi, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Josef N Soi, dan Bupati Flores Timur Antonius G Hadjon bertolak menggunakan helikopter dari Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Mereka hendak ke lokasi banjir bandang dan longsor di Pulau Adonara.
Mereka baru bisa terbang setelah cuaca buruk yang menyelimuti daerah itu dalam beberapa hari sebelumnya, mulai reda. Bibit siklon tropis menyebabkan hujan deras selama beberapa hari. Hampir setiap hari, awan hitam yang menggantung di langit sehingga mengganggu penerbangan.
Sekitar 10 menit terbang, helikopter mendarat di Desa Nobo, Kecamatan Ile Boleng. Doni dan Josef menumpang ojek menuju lokasi bencana ke Desa Nelelamadike. Lokasi tersebut merupakan yang terparah dengan korban terbanyak di NTT. Hingga Kamis, 55 orang ditemukan meninggal dan satu orang masih hilang di Desa Nelelamadike.
Banjir bandang di Nelelamadike terjadi pada Minggu (4/4/2021). Material batu, pasir dan lumpur meluncur menutupi permukiman sekitar 500 meter. Puluhan rumah bergeser tanpa bekas. Belum lagi kendaraan roda empat dan roda dua juga ikut terbawa.
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Petugas menutup bagian mesin heli milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mengirimkan bantuan di Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (8/4/2021). Distri bantuan tersebut juga dilakukan melalui jalur laut ke sejumlah wilayah terdampak.
Di lokasi bencana, Doni dan Josef bertemu dengan para korban dan memantau proses pencarian. Di desa itu, warga mengeluhkan minimnya ketersediaan air bersih dan lauk berupa ikan. "Kami langsung catat permintaan, dan kemudian menghubungi petugas di lapangan untuk segera menyiapkan secepat mungkin," kata Doni.
Sementara Anton sendirian menggunakan helikopter itu untuk terbang ke Desa Demodei di Kecamatan Wotan Ulumado. Desa itu berada di pegunungan sehingga helikopter tidak terlalu lama mendarat. Anton turun membawa bantuan dan menyerahkan kepada warga setempat kemudian naik lagi.
Terisolir
Demondei terisolir akibat banjir dan longsor. Jalan sepanjang tujuh kilometer menuju desa itu putus sehingga tidak bisa dilewati. Talud sepanjang tiga kilometer yang mengelilingi permukiman pun anjlok. Juga belasan hektar tanaman komoditas seperti vanili, pinang, cengkeh, dan kemiri pun terbawa longsor.
Ikan-ikan ini diborong di Pasar Larantuka (Doni Monardo)
Laporan itu diperoleh Anton dari pemerintah desa setempat yang ditulis tangan di atas secarik kertas. Jaringan telekomunikasi di desa itu hilang. Listrik pun padam. Kejadian banjir dan longsor di Demondei juga terjadi pada Minggu (4/4).
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Selat yang memisahkan beberapa pulau antara lain Larantuka, Adonara, Lembata dan Alor terlihat dari helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (8/4/2021). Sejumlah lereng pegunungan di kawasan kepulauan tersebut masih dalam kondisi rawan longsor.
Selepas dari Demondei, helikopter terbang ke Nobo untuk menjemput Doni dan Josef. Helikopter kemudian kembali ke Larantuka. Belum lama mendarat, sejumlah barang yang dibutuhkan para pengungsi seperti ikan, sudah tiba. Ikan-ikan itu segera dikirim ke Nelelamadike. "Ikan-ikan ini diborong di Pasar Larantuka," ucap Doni.
Josef menambahkan, di kondisi bencana seperti saat ini, seorang pemimpin harus turun langsung menyerap aspirasi. Ini bukan berarti tidak percaya pada bawahan. Dalam kondisi tertentu, bawahan tidak berani mengambil keputusan yang dianggap berisiko.
"Kadang waktu habis hanya untuk urusan koordinasi sementara para korban perlu penanganan secepatnya. Di tengah kondisi kedarurat, tidak perlu menunggu prosedur terlalu lama. Yang paling penting adalah menyelamatkan manusia," Josef
Sejumlah daerah di NTT dilanda banjir bandang dan longsor, yakni Kabupaten Alor, Lembata, Flores Timur, Ende, Ngada, Malaka, Sabu Raijua, Kota Kupang, dan Kabupaten Kupang. Hingga Kamis, 136 orang meninggal dan 61 orang dinyatakan masih hilang.
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Warga membawa bahan kebutuhan pokok yang akan didistribusikan kesejumlah pulau dari Dermaga Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (8/4/2021). Jalur laut menjadi urat nadi distribusi barang dan jasa ke beberapa wilayah kepulauan.
Doni tidak menampik bahwa penanganan bencana di tingkat bawah kadang berjalan lambat karena terhalang sejumlah aturan. Ini perlu terobosan seorang pemimpin. Terobosan itu bisa diambil secara tepat dan minim risiko jika seorang pemimpin memahami kondisi lapangan.
Kebutuhan darurat para korban bencana yang diperoleh saat blusukan itu langsung dieksekusi. Hanya dalam tempo tiga jam sejumlah barang langsung dikirim dari Larantuka ke Adonara. "Prinsip utama yang dipegang adalah keselamatan rakyat menjadi hukum tertinggi," katanya.