logo Kompas.id
NusantaraSurya Aditya, Pamor Perak Kotagede untuk Dunia

Surya Aditya, Pamor Perak Kotagede untuk Dunia

Saat pamor industri perak di Kotagede, Yogyakarta belakangan lesu, Surya Aditya (27) justru tertantang melestarikannya. Melalui usaha rintisan Sweda.co, dia mengangkat pamor kerajinan perak hingga ke Amerika Serikat.

Oleh NINO CITRA ANUGRAHANTO
· 7 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO

Surya Aditya, pemilik Sweda.co, memamerkan kalung dan cincin buatannya, di Kantor Sweda.co, Yogyakarta, Jumat (23/3/2021). Sweda.co merupakan bisnis kerajinan perak yang fokus menggarap cincin dan liontin. Kini, usaha rintisan tersebut pasar utamanya berada di Amerika Serikat.

Saat pamor industri perak di Kotagede, Yogyakarta belakangan lesu, Surya Aditya (27) justru tertantang untuk melestarikannya. Melalui usaha rintisan Sweda.co, dia mengangkat pamor kerajinan perak hingga dipakai banyak pesohor Amerika Serikat.

Surya merintis Sweda.co sejak tahun 2014. Awalnya, dia terjun ke bisnis secara tak sengaja, karena hobinya memakai cincin. Suatu waktu, tidak ada lagi penjual yang memproduksi cincin sesuai dengan keinginannya. Lalu, ia iseng bikin desain sendiri dan meminta tetangganya, perajin perak, untuk membuatnya.

“Kebetulan aku asli Kotagede. Setelah mencoba desain sendiri dan dibikinkan tetangga, kok temen-temen suka. Mulailah aku merintis usaha ini pelan-pelan sambil kuliah,” kata Surya, saat ditemui di Studio Sweda.co, Kawasan Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (23/3/2021).

Memuat data...

Saat itu, Surya tengah berkuliah di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Perlahan usaha rintisannya berkembang pesat. Ia kewalahan mengurus bisnisnya sehingga menggandeng kakaknya Syah Rizal (31) dan teman sekolahnya, Taufik Hidayat (28), pada 2016. Setahun kemudian, 2017, Surya memutuskan tidak melanjutkan kuliah supaya fokus berwirausaha.

Kawasan Kotagede sudah sejak lama dikenal luas sebagai sentra kerajinan perak Yogyakarta. Papan nama beragam usaha kerajinan perak terpampang di kanan dan kiri jalan saat memasuki kawasan tersebut. Saat ini, industri kerajinan tersebut mengalami kemerosotan pamor.

Surya menilai lesunya industri karena terjadi stagnasi dalam berkreasi oleh para pengusaha kawasan sentra kerajinan perak tersebut. Seolah-olah tidak ada upaya pembaruan produk untuk membuat sektor usaha tersebut tetap digandrungi anak muda. Regenerasi juga terkesan mandek.

“Generasi yang seangkatan denganku sudah jarang banget. Kalaupun ikut bermain mereka hanya pada perhiasan konvensional seperti cincin akik atau cincin nikah. Tidak di-mix dengan kultur anak muda,” tutur Surya.

 

Baca juga:

Jemi Nikolaus Rahangiar, Memanfaatkan Limbah Tekstil Menjadi Produk Unik Saparo

 

Sempat diragukan

Orangtua Surya pun sempat meragukan keseriusan usaha anaknya di tengah industri kerajinan perak yang semakin sepi. Di sisi lain, tidak ada sesepuhnya yang bergerak pada sektor tersebut. Namun, ia bergeming dan terus menekuni bisnis rintisannya.

Lewat Sweda.co, Surya memberikan sentuhan kekinian pada produk perhiasan peraknya. Adapun, perhiasan yang diproduksinya berupa cincin signet dan liontin. Desainnya terdiri dari beragam tema. Ia ingin mengombinasikan antara kerajinan tangan tradisional dengan seni, musik, dan budaya anak muda.

Memuat data...
KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO

Deretan cincin buatan Sweda.co yang dipajang pada lemari, di Kantor Sweda.co, Yogyakarta, Selasa (23/3/2021). Sweda.co merupakan bisnis kerajinan perak yang dirintis seorang anak muda asli Kotagede, Yogyakarta, Surya Aditya. Kini, usaha rintisan tersebut pasar utamanya berada di Amerika Serikat.

Pada 2015, Surya mulai fokus menjalankan bisnisnya. Ada dua hal yang membuatnya mantap menekuni bisnis tersebut. “Pertama, ini memang belum banyak yang terjun. Selain itu, lewat bisnis ini sekaligus nguri-uri budaya kerajinan perak biar tidak ditinggalkan,” ujarnya.

Untuk itu, meski produk kerajinan perak Sweda.co bergaya kekinian, cara produksinya masih sepenuhnya tradisional. Semua produknya merupakan hasil kerajinan tangan. Metode tersebut dipertahankan karena justru memberi nilai tambah. Produk yang dihasilkan juga punya tingkat ketelitian tinggi.

Surya coba menjamah pasar luar negeri pada akhir 2015. Ini bermula dari kesukaan seorang teman dekatnya pada produk streetwear asal Amerika Serikat bernama Us Versus Them. Kenalannya itu memintanya membuat cincin untuk merek streetwear itu.

Tanpa pikir panjang, Surya langsung mendesain cincin yang diminta. Desain itu dikirimkan lewat surat elektronik oleh temannya. Ternyata, desainnya mendapat respons dari salah satu pendiri Us VersusThem. “Mereka senang ada orang Indonesia yang mengapresiasi produknya. Lalu, dia minta dibuatkan contoh cincinnya,” tutur Surya.

Saat cincin yang diminta jadi, pihak Us Versus Them semakin takjub. Sebab, Surya juga mengirimkan video proses pembuatan cincin. Adapun metode pembuatan cincin dilakukan secara tradisional. Mereka mengapresiasi cara pembuatan cincin secara tradisional. Kolaborasi keduanya terjalin manis. Saat itu, sedikitnya 150 buah cincin terjual dengan harga berkisar 150-300 dollar AS.

Memuat data...
KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO

Surya Aditya, pemilik Sweda.co, memamerkan kalung dan cincin buatannya, di Kantor Sweda.co, Yogyakarta, Jumat (23/3/2021). Sweda.co merupakan bisnis kerajinan perak yang fokus menggarap cincin dan liontin. Kini, usaha rintisan tersebut pasar utamanya berada di Amerika Serikat.

Kolaborasi

Dari titik itu, peluang berkolaborasi dengan berbagai pihak lainnya muncul. Merek streetwear lain yang sempat berkolaborasi dengannya bernama Tribal Gear, yang juga dari Amerika Serikat. Usia merek tersebut sudah 30 tahun. Lebih tua dari usia Surya.

“Setelah itu, komunitas mobil dan motor mulai masuk. Hasilnya, sampai sekarang 80 persen dari pasar kami adalah Amerika Serikat. Lalu, 10 persen ada di Eropa, Asia, dan Australia. Untuk lokal, hanya 10 persen. Itu pun hanya di Jakarta, Surabaya, dan luar Pulau Jawa,” jelas Surya.

Hal yang lebih menggembirakan lagi, penjualan Sweda.co tidak mengalami penurunan selama pandemi Covid-19. Penjualan justru sempat meningkat dua kali lipat pada Mei-Juli 2020.

Hasilnya, sampai sekarang 80 persen dari pasar kami adalah Amerika Serikat. Lalu, 10 persen ada di Eropa, Asia, dan Australia. Untuk lokal, hanya 10 persen. --- Surya Aditya

Usaha membesarkan nama Sweda.co tidak pernah berhenti dilakukan Surya. Tak cukup menggandeng merek-merek streetwear ternama. Dia berupaya melobi musisi top luar negeri agar mau bekerja sama dengannya. Entah membuat produk bersama atau sekedar mau mengenakan produk yang dibuat Surya.

Sejumlah musisi yang pernah dibuatkan cincin oleh Surya, yaitu Machine Gun Kelly (MGK), Joey Badass, dan Layzie Bone. Ke depan, ia akan menjalin kerja sama dengan pemain skateboard asal Amerika Serikat, Christian Hosoi. Kini, ia sedang mencari cara agar bisa bekerja sama dengan Kendrick Lammar.

Memuat data...
KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO

Salah satu cincin buatan Sweda.co saat ditunjukkan, di Kantor Sweda.co, Yogyakarta, Jumat (23/3/2021). Sweda.co merupakan bisnis kerajinan perak yang fokus menggarap cincin dan liontin. Kini, usaha rintisan tersebut pasar utamanya berada di Amerika Serikat.

Ada satu pengalaman menarik saat menemui MGK di sela-sela konser Hotel Diablo World Tour di Jakarta pada 2019. Surya yang dapat akses belakang panggung langsung memberikan cincin buatannya. MGK mengunggah cincin itu ke story Instagram. Ponsel Surya sempat macet selama empat jam akibat padatnya notifikasi dari unggahan MGK.

Nama-nama besar itu bisa digaet berkat kegigihan Surya. Ia selalu mencari berbagai jalan agar kelak mendapat akses bekerja sama dengan tokoh-tokoh papan atas. Untuk itu, ia tak sungkan mengontak orang-orang terdekat dari musisi yang ingin diajaknya kerja sama.

“Cara pemasaran kami memang mengutamakan greeting (menyapa melalui media sosial). Ini penting sekali memulai pembicaraan dengan sosok-sosok penting itu. Dibalas atau tidak itu urusan belakangan yang penting sudah berusaha menjangkau mereka,” kata Surya.

Ini penting sekali memulai pembicaraan dengan sosok-sosok penting itu. Dibalas atau tidak itu urusan belakangan yang penting sudah berusaha menjangkau mereka. -- Surya Aditya

Untuk bisa berkontak dengan nama-nama besar itu, Surya rela tidur sekitar pukul 04.00 setiap harinya. Ia mencocokkan dengan jam aktifnya orang-orang dari Amerika Serikat. Sebab, negara tersebut menjadi orientasi utama pasarnya. Ketika memasang iklan lewat aplikasi Instagram pun, ia juga memilih agar unggahannya bisa masuk di linimasa pemilik akun Instagram, di Amerika Serikat.

Tak hanya mendapat proyek dari luar negeri, Surya pernah mendapat proyek untuk Piala Presiden. Dua kali, ia sempat diminta menggarap trofi untuk turnamen sepakbola tersebut, pada 2017 dan 2019. “Ini juga dari ketidaksengajaan. Ada seorang klien yang pesan cincin klub sepakbola asal Australia, Brisbane Roar. Besoknya, saya diminta ikut dia ke Solo. Ternyata, dia orang PSSI dan minta saya menggarap piala tersebut,” kata Surya.

 

Baca juga:

Handoko Hendroyono, Menciptakan Etalase Mentereng Produk Lokal di Blok M

 

Kendala SDM

Salah satu kendala utama yang dihadapi Surya dalam menjalani bisnis tersebut adalah sumber daya manusia. Ia mengaku kesulitan mencari perajin yang bisa menggarap cincin sesuai dengan desain yang dia inginkan. Sebab, desain cincin dari Sweda.co membutuhkan ketelitian tinggi.

Saat ini, total ada 19 orang pegawai yang bekerja di Sweda.co. Mereka sudah termasuk pegawai di kantor dan perajin. Usia para pegawai mulai dari 22 tahun hingga 35 tahun. Semuanya digaji sesuai dengan Upah Minimal Kota Yogyakarta.

Sebelum pandemi, Surya kerap menggelar lokakarya pembuatan perhiasan perak singkat selama tiga hingga lima jam. Setiap sesi pesertanya hanya lima orang. Dalam lokakarya tersebut, ia mengajarkan pembuatan perhiasan perak dengan metode tradisional. Biasanya lokakarya ini digelar dari kota ke kota.

Memuat data...
KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO

Surya Aditya, pemilik Sweda.co, mengecek penggarapan cincin perak, di Kantor Sweda.co, Yogyakarta, Jumat (23/3/2021). Sweda.co merupakan bisnis kerajinan perak yang fokus menggarap cincin dan liontin. Kini, usaha rintisan tersebut pasar utamanya berada di Amerika Serikat.

Sekali waktu, lokakarya pernah diadakan di Singapura. Para peserta lokakarya takjub dengan buah lerak yang digunakan untuk mencuci perak. “Mereka bertanya-tanya kok bisa buah mengeluarkan busa seperti itu. Saya menjawab. Tidak usah heran. Nenek moyangku sudah dari dulu pakai buah ini buat membersihkan perak,” ucapnya seraya terkekeh.

Surya mengharapkan supaya pandemi segera berakhir. Ia tak sabar bisa melakukan lokakarya lagi ke berbagai kota. Lewat lokakarya itu, ia sekaligus memperkenalkan warisan budaya daerahnya, yakni proses pembuatan kerajinan perak secara tradisional.

“Aku pengen merepresentasikan budaya Kotagede ke luar negeri. Targetku sendiri, pengen bikin workshop di Amerika Serikat. Setelah pandemi nanti, aku juga berencana pergi ke sana. Mungkin, kalau sudah sampai sana, aku sekaligus bisa membuat jejaring lebih kuat lagi dan mengenalkan kerajinan perak ini ke lebih banyak orang,” kata Surya.

 

Surya Aditya

Lahir: Yogyakarta, 29 Oktober 1994

Pendidikan :

  • SMK Negeri 3 (Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta), Kasihan, Bantul
  • Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta (tidak selesai, 2017)
Editor: Dahono Fitrianto
Memuat data..