logo Kompas.id
NusantaraBencana Alam di NTT Sudah Menewaskan 117 Jiwa

Bencana Alam di NTT Sudah Menewaskan 117 Jiwa

Pencarian korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur masih terus berlangsung. Hingga Selasa malam, jumlah korban meninggal mencapai 117 orang, sementara 76 orang belum ditemukan.

Oleh ISMAIL ZAKARIA
· 3 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Banjir yang menghancurkan infrastruktur jalan dan jembatan di jalur trans-Pulau Adonara, Kecamatan Wotan Ulumado, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (6/2/2021). Sebagian akses jalan tersebut tidak dapat dilalui kendaran roda empat sehingga hanya  mengandalkan jalur laut.

LARANTUKA, KOMPAS — Jumlah korban tewas dalam bencana alam di Nusa Tenggara Timur sudah mencapai 117 orang, sementara korban hilang sebanyak 76 orang. Proses pencarian dan evakuasi korban, hingga Selasa (6/4/2021) malam masih terkendala minimnya alat berat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo dalam konferensi pers secara daring, Selasa (6/4/2021) malam, mengatakan, dari 117 korban meninggal di NTT, sebanyak 60 orang dari Flores Timur, kemudian Alor sebanyak 21 orang, dan Malaka tiga orang.

Baca Juga: Bencana Banjir Bandang di Adonara

Selain itu, korban meninggal dari Kota Kupang dan Kabupaten Kupang masing-masing satu orang, Lembata 28 orang, Sabu Raijua dua orang, dan Ende satu orang.

Walau sudah disiapkan, belum bisa dikirim ke tujuan. Terutama di Adonara dan Alor.

Doni menambahkan, adapun 76 warga yang dinyatakan hilang meliputi 12 orang di Flores Timur, 20 di Alor, dan 44 di Lembata. Terkait pencarian korban yang hilang, kata Doni, masih terkendala alat berat. ”Walau sudah disiapkan, belum bisa dikirim ke tujuan. Terutama di Adonara dan Alor,” kata Doni.

Memuat data...

 

Sementara alat berat untuk Lembata, kata Doni, masih diupayakan dari perusahaan-perusahaan yang sedang mengerjakan proyek jalan. Mereka sudah dimobilisasi menuju sasaran.

Baca Juga: Pencarian Korban di Adonara Terkendala Peralatan

Selain itu, untuk mempercepat pencarian, kata Doni, akan didatangkan SAR Dog yang sudah berpengalaman, misalnya pencarian korban di Mamuju. Satwa-satwa itu akan dibawa ke daerah prioritas, yakni Lembata, Adonara, dan Alor.

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Henri Alfiandi yang turut hadir dalam konferensi pers mengatakan, tim SAR melakukan penanganan cepat untuk membantu pencarian dan pertolongan ke korban terdampak bencana. ”Tetapi itu juga sangat tergantung pada kondisi cuaca di lokasi,” kata Henri.

Memuat data...
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Warga melihat proses evakuasi korban banjir bandang di Desa Nelelamadiken, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (6/4/2021). Terdapat 54 korban meninggal telah ditemukan di kawasan bencana tersebut dan proses evakuasi masih terus berlangsung.

Henri menambahkan, pada Rabu besok tim akan dikirim dengan kapal menuju Adonara. Selain dari Kupang, kapal itu juga juga datang Denpasar dan Makassar.

Bantuan per keluarga

Doni mengatakan, guna mengurangi risiko penularan Covid-19, setiap keluarga akan mendapatkan bantuan dana dengan skema hunian Rp 500.000 per keluarga per bulan. Skema bantuan ini sesuai arahan Presiden untuk penanganan pengungsi bencana alam NTT.

Baca Juga: Perantau di NTT Berharap Ada Kabar Baik dari Lokasi Bencana di Desa

Dana yang diberikan bisa digunakan oleh penerima untuk menyewa rumah. Akan tetapi, untuk hal itu, kata Doni, BNPB akan menunggu usulan dari daerah. Harus ada data akurat meliputi nama dan alamat serta kartu identitas dan nomor induk kependudukan yang diserahkan ke BNPB.

Sementara terkait bantuan, logistik sudah didatangkan dari Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Sebagian besar sudah didistribusikan ke daerah terdampak di Adonara, Lembata, dan Alor.

Memuat data...
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Sebuah bangunan yang terimbun menyisakan sebuah jendela rumah di Desa Nelelamadiken, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (6/2/2021).

BNPB, kata Doni, juga akan memberikan dukungan enam helikopter karena beberapa kawasan belum bisa dijangkau transportasi darat ataupun laut sehingga membutuhkan transportasi udara.

”Cuaca juga sudah semakin baik sehingga besok sudah semakin cerah dan jarak pandang semakin jauh, angin tidak kencang. Dengan begitu, daerah terisolir segera dapat bantuan,” kata Doni.

Memuat data...
Editor: Agnes Swetta Pandia
Memuat data..