logo Kompas.id
NusantaraMaaf Terakhir Sang Kapten

Maaf Terakhir Sang Kapten

Kapal pembawa 4.800 zak semen tenggelam di perairan Buton Selatan. Sebelumnya, kapten pengganti kapal ini meminta maaf berkali-kali ke penyewa kapal karena terlambat dihadang gelombang. Ia ditemukan meninggal.

Oleh
SAIFUL RIJAL YUNUS
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/FMXtmgxC309E6aznDZOKi8Z7qsU=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F09%2F1d137dfa-e0b2-4149-ac0e-a8e99be64d87_jpeg.jpg
KOMPAS/DOKUMENTAI SAR KENDARI

Petugas SAR Kendari melanjutkan pencarian korban KM Yuliner yang tenggelam di perairan Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, Rabu (16/9/2020). Satu orang awak ditemukan meningga dan satu orang selamat. Sementara itu, empat orang masih dalam pencarian. Kapal yang berlayar dari Pangkep, Sulsel, menuju Binongko ini tenggelam setelah kapal terbakar dan dihantam gelombang tinggi.

Dari seberang telepon, Jawade (35), nakhoda pengganti kapal, meminta maaf berkali-kali. Mulyadin (37) juga berkali-kali meminta agar ia tidak perlu meminta maaf karena cuaca yang tengah berkecamuk. Tak dinyana, itu menjadi permintaan terakhir sebelum sang chief meninggal karena kapal terbakar dan karam di lautan.

Sabtu (12/9/2020) sekitar sore hari, di Binongko, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Mulyadin bertanya-tanya, mengapa Kapal Motor (KM) Yuliner yang membawa 4.800 zak semen pesanannya belum juga tiba. Padahal, kapal tersebut diketahui berangkat dari Pangkep, Sulawesi Selatan, sejak Rabu (2/9/2020). Jika normal, perjalanan bisa ditempuh hanya dalam lima hari.

Editor:
hamzirwan
Bagikan