logo Kompas.id
NusantaraCengkeh Minahasa, ”Emas...

Cengkeh Minahasa, ”Emas Coklat” Sisa Kejayaan Masa Lalu

Cengkeh Minahasa, yang masyhur dengan sebutan “emas coklat” setengah abad lalu, kini hanyalah butir-butir murah incaran pabrik rokok.

Oleh
KRISTIAN OKA PRASETYADI
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/1UyOTI76JD-LlPAUuZWAixNydWw=/1024x681/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F06%2Ff37369d4-c532-4f03-9e92-d96d393e5329_jpg.jpg
Kompas

Rio (46), petani cengkeh di Desa Rumengkor, Tombulu, Minahasa, Sulawesi Utara, meratakan cengkeh yang dijemur di halaman rumahnya, Rabu (24/6/2020). Para petani seperti Rio mengeluhkan harga cengkeh yang terus merosot, dari Rp 70.000-Rp 80.000 per kilogram tahun lalu menjadi Rp 61.500 per kg saja. Dengan rata-rata produktivitas sekitar 83,67 Kilogram per hektar, Sulut menyumbang  tidak lebih dari 3.800 ton terhadap 120.000 ton kebutuhan cengkeh nasional.

Tatapan kosong Rio (46) jatuh pada hamparan butir-butir cengkeh yang tengah dijemur di pekarangan rumahnya. Awan kelabu yang menggantung di langit Desa Rumengkor siang itu seperti kegundahan yang melingkupi pikirannya. Cengkeh, yang masyhur dengan sebutan ”emas coklat” semasa ia kanak-kanak, kini hanyalah butir-butir murah incaran pabrik rokok.

Ada rumah bertembok beton dan satu lagi rumah panggung dari kayu berdiri menyerupai huruf L di sisi pekarangan Rio. Entah berapa luasnya, tetapi pelataran cor semen itu hampir semuanya tertutup oleh tak kurang dari 45 kain terpal yang mengalasi cengkeh. Aroma cengkeh yang khas dalam rokok Indonesia mengambang, kali ini tanpa diiringi asap.

Editor:
agnespandia
Bagikan