logo Kompas.id
NusantaraKawasan Dieng Darurat Sampah

Kawasan Dieng Darurat Sampah

SEMARANG KOMPAS &mdash Kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara Jawa Tengah darurat sampah Penanganan sampah limbah rumah tangga dan aktivitas wisata tidak dikelola dengan baik Wisatawan mulai mengeluhkan kondisi kebersihan di salah satu destinas

· 2 menit baca

SEMARANG, KOMPAS — Kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah, darurat sampah. Penanganan sampah limbah rumah tangga dan aktivitas wisata tidak dikelola dengan baik. Wisatawan mulai mengeluhkan kondisi kebersihan di salah satu destinasi turisme unggulan Jateng itu. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jateng Ismail Al-Habib, Minggu (12/11), di Semarang, mengatakan, kawasan Dataran Tinggi Dieng memiliki dua persoalan utama, yakni sampah dan pasokan listrik. Walhi prihatin terhadap eksplorasi panas bumi yang berpotensi mencemari sumber mata air di kawasan Dieng. Eksplorasi berada di kawasan hutan lindung."Terkait dengan sampah yang menggunung juga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Sampah yang tidak tertangani baik bakal menurunkan derajat kesehatan masyarakat dan menjadi masalah sosial. Sampah juga berpotensi mencemari sumber-sumber mata air di Dieng, Kejajar, dan sekitarnya," ujar Ismail.Data di Kantor Unit Pelayanan Teknis Pariwisata Dieng di Kecamatan Garung, Wonosobo, rata-rata produksi sampah sebesar 5,2 ton per minggu atau 500 kilogram hingga 700 kilogram per hari. Besarnya volume sampah itu, di antaranya, seiring dengan peningkatan kunjungan wisatawan di Dieng. Jumlah pengunjung ke dataran setinggi 2.000 meter di atas permukaan laut itu berkisar 2.000-3.000 orang per pekan.Surikan, warga Desa Sembungan, Wonosobo, mengakui warga kewalahan membersihkan sampah yang timbul dari kegiatan wisatawan. Sampah yang susah ditangani itu sebagian besar sampah anorganik, seperti plastik, wadah makanan cepat saji, plastik bungkus makanan ringan, dan sampah yang sulit hancur dalam jangka pendek. Ketiadaan tempat pembuangan akhir (TPA) di Dieng juga memperparah persoalan."Di sejumlah lokasi pusat keramaian memang tersedia tempat sampah terbuka maupun tertutup. Hanya saja, banyak warga maupun wisatawan juga membuang sampah di lokasi-lokasi wisata yang jauh dari tempat keramaian dan belum dilengkapi tempat sampah," ujar Surikan. Dengan tiadanya TPA, sampah dibiarkan menumpuk menunggu pengambilan sampah menggunakan truk dari Dinas Kebersihan Pemerintah Kabupaten Wonosobo yang jadwalnya tidak pasti. Dampak dari pembuangan sampah yang tidak rutin, sebagian sampah yang terkumpul terpaksa dibuang di lahan-lahan kosong milik warga atau di lahan Perhutani.Persoalan penanganan sampah di Dieng juga menjadi perhatian pihak Bank Indonesia Perwakilan Jateng. Menurut Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Perwakilan Jateng Rahmad Dwisaputra, kawasan Dataran Tinggi Dieng berpotensi besar untuk dikembangkan secara terpadu.Saat ini, sebagian desa wisata di Dieng dalam kondisi memprihatinkan akibat buruknya pengelolaan sampah. Jika dibiarkan, lingkungan kawasan wisata bakal kumuh. (WHO)

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Memuat data..