logo Kompas.id
NusantaraRI Jadi Pusat Gambut Tropis Dunia

RI Jadi Pusat Gambut Tropis Dunia

PALANGKARAYA KOMPAS &mdash Para ahli gambut dunia sepakat membangun komite internasional di Indonesia Komite itu untuk membangun pusat gambut tropis Kalimantan Tengah menjadi salah satu kandidat wilayah pusat gambut tropis duniaHal itu terungkap dalam kunjungan 69 ahli gambut dari sembilan n

· 2 menit baca

PALANGKARAYA, KOMPAS — Para ahli gambut dunia sepakat membangun komite internasional di Indonesia. Komite itu untuk membangun pusat gambut tropis. Kalimantan Tengah menjadi salah satu kandidat wilayah pusat gambut tropis dunia.Hal itu terungkap dalam kunjungan 69 ahli gambut dari sembilan negara, seperti Jepang, Jerman, Finlandia, Meksiko, Singapura, Malaysia, Vietnam, Belanda, dan Indonesia di Kalimantan Tengah. Bersama Badan Restorasi Gambut RI, mereka melihat langsung proses restorasi gambut, seperti pembuatan sekat kanal dan pembibitan."Ini menjadi keuntungan untuk Indonesia karena akan menjadi pusat gambut tropis dunia. Semua bentuk penelitian, penerapan teknologi untuk menjaga gambut akan dilakukan di sini," kata Deputi Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut RI Haris Gunawan di Pulang Pisau, Sabtu (4/10).Haris menambahkan, sebelum mengunjungi Kalteng, ke-69 ahli gambut yang terdiri dari ilmuwan, peneliti, pengambil kebijakan, dan akademisi tersebut telah membangun komitmen melalui Deklarasi Jakarta, Kamis (2/10) di Jakarta. Deklarasi itu bertujuan menjaga gambut melalui pengelolaan yang bertanggung jawab.Ada lima poin utama dalam deklarasi, antara lain membentuk komite internasional gambut, membangun pusat gambut tropis, membangun sistem monitoring yang terintegrasi, membangun kapasitas sumber daya manusia, membangun komite internasional, dan memprakarsai model pengelolaan gambut."Setelah bencana asap karena kebakaran hutan dan lahan, Indonesia jadi perhatian internasional, lima poin dalam deklarasi itu menjadi pilar dan bukti perhatian dunia," kata Herman.Mitsuru Osaki, profesor gambut dari Universitas Hokkaido Jepang, mengatakan, kerja sama dalam penelitian gambut dan pengelolaan sudah dilakukan sejak akhir tahun 1990 di Kalteng. Saat itu, pihaknya bersama beberapa peneliti Indonesia meneliti dampak pembangunan proyek lahan gambut. "Tanah gambut jika dikelola dengan baik dan bijak merupakan tanah yang subur. Tetapi bisa membawa petaka jika pengelolaannya salah," ungkapnya.Berdasarkan data Badan Restorasi Gambut RI, Indonesia memiliki 18,9 juta hektar lahan gambut. Di Kalteng ada 3,4 juta hektar. (IDO)

banner registration
Lanjutkan baca artikel ini dan artikel lainnya dengan daftar akun Kompas.id.
Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Dapatkan akses tanpa batas ke seluruh artikel premium dengan berlangganan Kompas.id.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Editor:
Bagikan
Memuat data..