logo Kompas.id
NusantaraManfaat Asuransi Belum Diketahui

Manfaat Asuransi Belum Diketahui

CIREBON KOMPAS &mdash Sosialisasi program asuransi usaha tani harus ditingkatkan Gara-gara minim informasi sebagian petani di sejumlah sentra padi di Jawa Barat dan Banten belum mengetahui pasti manfaat program tersebutPada musim tanam rendeng pertama tahun ini saya ikut asuransi tani Pa

· 4 menit baca

CIREBON, KOMPAS — Sosialisasi program asuransi usaha tani harus ditingkatkan. Gara-gara minim informasi, sebagian petani di sejumlah sentra padi di Jawa Barat dan Banten belum mengetahui pasti manfaat program tersebut."Pada musim tanam rendeng (pertama) tahun ini, saya ikut asuransi tani. Panen tidak gagal sehingga tidak mengklaim asuransi. Namun, mengira panen musim gadu (kedua) atau saat musim kemarau berhasil, saya tidak ikut asuransi. Ternyata, saya keliru. Sawah diserang wereng coklat," kata ujar Rokhi (39), Ketua Kelompok Tani Sumber Sri Asih di Desa Wanguk, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, Senin (24/7).Asuransi usaha tani padi adalah program pemerintah untuk melindungi petani dari kerugian gagal panen akibat perubahan iklim, hama, dan bencana alam. Dalam program ini, pemerintah menanggung 80 persen dari total premi petani Rp 180.000 per hektar per musim tanam. Petani hanya perlu membayar Rp 36.000 per hektar per musim tanam untuk mendapatkan pertanggungan maksimal Rp 6 juta.Rokhi tidak sendirian. Banyak petani Wanguk belum ikut asuransi tani. Akibatnya, banyak petani berpotensi merugi pada musim gadu ini. Sedikitnya 90 persen dari 500 hektar tanaman padi di Wanguk, kata Rokhi, diserang wereng coklat dan tikus."Seharusnya 1 hektar sawah menghasilkan 5-6 ton gabah kering giling (GKG) per musim tanam. Sekarang, sawah yang sudah terserang hama paling banyak menghasilkan 2,5 ton sampai 3 ton GKG per ha," katanya.Tidak menjadi peserta asuransi tani juga membuat Engkos, petani Desa Sadu, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, merugi. Panen terakhirnya pada Juli 2017 anjlok. Dari lahan 1 hektar, ia hanya mendapat 9 kuintal GKG. Hasil panen itu jauh lebih kecil ketimbang panen sebelumnya yang 3-4 ton GKG. Lebih sedikit"Empat bulan menanam, saya hanya mendapat Rp 4 juta per hektar. Jumlahnya jauh lebih kecil ketimbang ongkos tanam sekitar 6 juta. Padahal, sebelumnya bisa mendapat Rp 16 juta-Rp 22 juta per hektar. Banyak padi busuk karena hujan berkepanjangan," ujar Engkos.Di Cirebon, belum semua petani tercakup dalam asuransi usaha tani padi. Sumaya (40), petani di Desa Suranenggala Lor, Kecamatan Kapetakan, tidak ikut asuransi karena tidak mengetahui pasti manfaat program ini.Kepala Seksi Serealia Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Iwan Mulyawan mengatakan, dari kuota 10.000 hektar pada 2016, baru sekitar 5.000 hektar lahan di Cirebon yang tercakup program asuransi tani. Padahal, lahan pertanian di Cirebon 45.000 hektar.Asuransi usaha tani juga belum diminati petani di Banten. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Banten Oong Sahroni mengatakan, baru sedikit petani memiliki asuransi. Rendahnya minat petani disebabkan minimnya sosialisasi program itu.Kepala Dinas Pertanian Banten Agus Tauchid, di Serang, mengatakan, saat ini baru sekitar 5.000 petani padi di Banten yang memiliki asuransi usaha tani. Padahal, jumlah petani padi di Banten sekitar 200.000 orang.Target jumlah petani yang sudah memiliki asuransi itu hingga akhir 2017 sebanyak 35.000 orang. Menurut Agus, inovasi itu membutuhkan waktu agar diterima masyarakat.Direktur Operasi dan Ritel PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero), selaku penyelenggara asuransi, Sahata Tobing mengatakan, saat ini asuransi usaha tani baru melindungi 400.000 hektar dari total sekitar 14 juta hektar sawah di Indonesia. Saat musim pancaroba dan rawan serangan hama seperti saat ini, asuransi bisa menjadi solusi.Informasi terpaduDi Kabupaten Malang, Jawa Timur, pemerintah kabupaten berupaya mengurangi kerugian akibat serangan hama wereng coklat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menurunkan tim Brigade Perlindungan Tanaman (Brilian). Begitu menerima laporan dari petani yang masuk secara online, Tim Brilian akan turun ke lapangan untuk melakukan pembasmian bersama masyarakat.Brilian adalah sistem informasi terpadu memanfaatkan teknologi informasi berbasis telepon pintar. Sistem yang bekerja 24 jam tersebut mempercepat penanganan masalah pertanian, terutama serangan hama. "Di wilayah Malang juga terjadi serangan hama wereng, tetapi bisa dikendalikan sehingga tidak meluas. Kami memiliki Tim Brilian yang turun ke lapangan satu jam setelah menerima laporan. Tim akan melakukan penyemprotan bersama petani," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang Nasri Abdul W, Senin.Menurut Nasri, tanaman padi seluas 49,3 hektar telah terserang wereng. Setelah dilakukan pembasmian oleh tim dan kelompok tani, 48,5 hektar di antaranya berhasil dikendalikan. Sisanya, 0,8 hektar, gagal panen.(iki/bky/sem/bay/wer)

Editor:
Bagikan
Memuat data..