logo Kompas.id
MudaSerba-serbi Teh Masa Kini
Iklan

Serba-serbi Teh Masa Kini

Tak hanya sebagai minuman, teh kini juga menjadi media edukasi. Teh kekinian hadir sebagai upaya pemenuhan kebutuhan selera dan anak muda.

Oleh
Maria Alexandra Fedho dan Riki Kurniawan
· 4 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/lEjSWtTB09VtHf49JaD5JFtpDOk=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211223MUDA34_1640418469.jpg

Pengunjung Teh Menantea, Jakarta, Selasa (22/11/2021).Tak hanya sebagai minuman, teh kini juga menjadi media edukasi. Teh kekinian hadir sebagai upaya pemenuhan kebutuhan selera dan anak muda.

Koperasi Edukarya Negeri Lestari atau Kenes (Ken8) merupakan sebuah koperasi yang memiliki keunikan tersendiri. Keinginan dalam mengajak banyak orang untuk menggunakan ilmu pengetahuan dalam keseharian menjadi latar belakang Kenes memilih berfokus di bidang riset dan edukasi.

Kenes yang berlokasi di Pasar Kranggan, Yogyakarta, ini memiliki beberapa unit usaha yang bergerak dalam pengolahan kopi, teh, dan kakao. Hilangnya pengetahuan, kemandirian, dan kedaulatan pangan menjadi alasan Kenes memilih tiga komoditas tersebut menjadi media pembelajarannya.

”(Dengan adanya kebijakan cultuurstelsel) warga pribumi dipaksa untuk menanam tanaman yang berorientasi ekspor, yang bahkan mereka tidak tahu nilai pakainya itu seperti apa. Mereka cuma sekadar membudidayakan tanpa pernah bisa menikmati produknya,” ujar Tauhid Aminulloh, salah satu pengurus Kenes (Ken8), Selasa (23/11/2021), di Yogyakarta.

Sebagai bentuk keseriusan Kenes, hadir Wikiti, merek dari produk teh yang dimiliki koperasi tersebut. Selaras dengan tujuannya, Wikiti juga menghadirkan kelas teh sebagai sarana edukasi kepada masyarakat.

”Rasa-rasa tersirat, yang kecil-kecil malah terasa. Dan mungkin karena minumannya lebih ringan jadi saya lebih suka,” ujar Hilman (25).

Sependapat dengan Hilman, Arbain (24) pun menyampaikan alasannya tertarik dengan teh. ”Untuk orang yang baru mau belajar, kayaknya aku akan menemukan banyak hal yang spesial dari teh,” ujarnya. Hilman dan Arbain adalah pemuda yang akan mengikuti kelas teh di Wikiti.

Nasgitel yang memiliki arti panas, legi (manis), dan kentel (kental) menjadi teh kegemaran masyarakat. Belum banyak masyarakat yang paham mengenai ragam dan cara penyeduhan teh. Hal ini tentu menjadi sebuah hal yang menarik untuk dipelajari.

”Teh memang cocok untuk orang-orang yang menikmati kesendirian atau keintiman. Mungkin masih banyak yang bisa digunakan untuk bisa menemukan diri kita melalui teh,” ujar Tauhid Aminulloh, sebagai ajakan bagi kaum muda.

Teh kekinian

Kini teh kembali populer di kalangan anak muda. Teh yang biasanya dikenal dengan rasa yang itu-itu saja sekarang hadir dengan inovasi baru. Inovasi tersebut terletak dengan pencampuran rasa yang unik, segar, dan baru. Contohnya inovasi teh dengan susu dan teh dengan buah-buahan. Inovasi teh dengan pencampuran rasa buah, susu, dan unsur lain selain teh kemudian menciptakan istilah ”teh kekinian”.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/GyKlBLX3HRqc_wP1j2R9Y_aK6sw=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211225MUDA01_1640418473.jpg
NOVIA ANGGI

Penyajian teh di Wikiti, Yogyakarta, Selasa (22/11/2021).

”Teh kekinian adalah teh dengan inovasi yang targetnya adalah anak muda yang selalu penasaran dengan hal-hal baru. Tetapi, kita bukan asal bikin yang baru. Kita juga mau yang bersifat long last (tahan lama). Jadi anak-anak muda suka dan menerima inovasi dari kita dan anak-anak muda ini akan terus ingat dan terus beli produk teh yang baru,” ujar Mulyanto, Area Manager Menantea.

Iklan

Menantea adalah salah satu gerai yang menjual teh kekinian milik influencer (pemengaruh) Jerome Polin dan Jehian. Gerai ini menjual teh kekinian dengan membaginya menjadi dua bagian, yaitu teh dengan susu dan teh dengan buah.

Menantea menggunakan beberapa jenis teh yang ada untuk menciptakan produknya. Jenis teh tersebut adalah teh oolong, teh klasik, teh vanila, dan teh hijau yang proses pengolahannya kebanyakan dilakukan secara manual.

Pemilihan metode pengolahan secara manual ditujukan untuk memastikan teh menghasilkan rasa yang sesuai dengan standar Menantea. Alasan melakukan pengolahan secara manual karena merasa mesin, meskipun sudah diset (diatur), sering kali kurang memenuhi ekspektasi.

Pengolahan teh kekinian dilakukan dengan cara dimasak, kemudian membuat minuman dan mulai untuk produksi. Produksinya dengan cara mengambil konsentrat dari daun teh.

Saat penyeduhan juga harus diperhatikan detail suhu air supaya teh tidak terlalu mendidih. Suhu yang terlalu tinggi akan memberikan rasa pahit pada hasil seduhan teh.

Kaum muda

Merebaknya minum teh kekinian kian membuktikan bahwa teh mulai menunjukkan popularitasnya. Teh yang dahulu sering dianggap sebagai minuman tradisional kini menjadi minuman kekinian dengan varian yang segar.

Menantea yang berdiri sejak 10 April 2021 terus melakukan inovasi unik dan baru untuk memenuhi selera anak muda. ”Melakukan sesuatu yang baru dan unik di mana hal itu ketemu dengan selera anak muda yang mau dengan selera yang berbeda,” jelas Mulyanto.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/k8qyU4GuqCUEIUj_Cdf3tnRFZvA=/1024x579/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211223MUDA31_1640418465.jpg
NANDA FAJRUS ZAIN

Tampilan kekinian teh Menantea, Jakarta, Selasa (22/11/2021).

Inovasi yang dilakukan di Menantea salah satunya pada saat pemilihan rasa. Sebelumnya banyak orang belum terpikirkan bagaimana rasa teh dicampurkan dengan buah kiwi. Namun, saat banyak orang mencoba teh tersebut, sensasi lembut pada teh langsung membaur dengan segarnya buah kiwi.

Adanya berbagai varian unik ini membuat kalangan muda tertarik untuk membeli dan terus mencoba teh kekinian. ”Teman saya lumayan banyak yang tertarik karena minuman itu gampang dibawa dan enteng. Jadi, banyak yang suka. Apalagi kalau banyak varian, banyak orang jadi makin tertarik,” kata Nashwa, pembeli di Menantea Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Selasa (23/11/2021).

Banyak hal unik dan menarik di balik penyajian teh yang belum diketahui banyak orang. Salah satunya menjadi sarana edukasi yang memberi banyak arti.

Teh yang dulu hanya hadir dengan orisinalitasnya pun kini terus bertransformasi mengikuti arus waktu dan mulai menunjukkan popularitasnya di kalangan muda. Inovasi demi inovasi rasa terus dilakukan oleh para produsen teh kekinian agar selalu menemukan rasa yang cocok dan pas untuk kaum muda.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/lBsKVr8yhksFDiqHtuEfw9XPmTk=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211225MUDA04_1640418479.jpg
NANDA FAJRUS ZAIN

Magangers Kelompok IV

Magangers Kompas Muda Batch XII :

  • Fadllur Rahmani (Institut Teknologi Bandung)
  • Nanda Fajrus Zain (Binus University)
  • Maria Alexandra Fedho (Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta)
  • Riki Kurniawan (Universitas Diponegoro)
  • Novia Anggi Tri Sulistyowati (Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta)
Editor:
Budi Suwarna
Bagikan