logo Kompas.id
MetropolitanMenjaga Asa Anak yang...

Menjaga Asa Anak yang Kehilangan Orangtua karena Pandemi

Negara, baik pusat maupun pemerintah daerah, wajib hadir memastikan anak-anak yang tiada lagi berayah ataupun beribu karena pandemi Covid-19 dirawat dan terjamin masa depannya.

Oleh
AGUIDO ADRI
· 6 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/I2V1UrzH2yOWznPZFyyBbAO9lts=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2FIMG-20210725-WA0008_1628579771.jpg
FORKOPIMDA KOTA BOGOR

Wali Kota Bogor Bima Arya saat menjumpai kakak beradik di Kampung Awan, Kelurahan Genteng, untuk membagikan sembako sekaligus memberikan bantuan pendidikan. Dua kakak beradik itu adalah salah satu contoh anak-anak yang terdampak secara sosial dan psikologi. Di Kota Bogor terdata ada 299 anak-anak yang terdampak pandemi karena orangtua mereka meninggal.

”Apa pun yang dilakukan oleh seseorang itu hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya.” - Ki Hajar Dewantara.

Kedatangan Wali Kota Bogor Bima Arya dan wakilnya, Dedie A Rachim, di Gunungbatu, Bogor Barat, yang membawa paket bantuan kepada anak-anak yang kehilangan ayah, ibu, atau keduanya membuat AL (15) meneteskan air mata haru.

Kedatangan sosok Bima dan Dedie seperti menjadi penyemangat baru. Apalagi, dua sosok itu menjanjikan perlindungan masa depan, seperti pendidikan hingga tingkat SMA dan bantuan lainnya.

Kedatangan orang nomor satu dan dua di Kota Bogor itu juga menghadirkan kembali optimisme AL untuk berjuang meraih cita-citanya. Kesedihan AL ditinggal pergi ayahnya sekitar dua bulan lalu karena Covid-19 masih begitu membekas. Namun, kesedihan dan kenangan itu tidak akan membuatnya berhenti memperjuangkan cita-citanya seberat apa pun tantangan yang akan dihadapi. Dukungan keluarga dan berbagai pihak membuatnya tetap bersemangat.

”Saya masih harus berjuang. Saya belum bisa merdeka jika cita-cita sebagai dokter belum tercapai,” kata AL, Selasa (17/8/2021).

Keinginan AL menjadi seorang dokter karena ingin menyembuhkan dan menyelamatkan banyak nyawa, khususnya mereka yang tak mampu. Setiap warga, siapa pun dan berstatus apa pun, memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh hak kesehatan.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/g15GZqZCwt_BFAIGc0Mv66f01_E=/1024x677/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2FKemerdekaan-anak-terdampak-pandemi_1629209037.jpg
KOMPAS/AGUIDO ADRI

AL (15), warga Gunungbatu, Bogor Barat, kehilangan ayahnya sekitar dua bulan yang lalu karena Covid-19. AL menjadi salah satu anak yang mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Bogor, Selasa (17/8/2021).

Mendengar cita-cita anaknya, ibunda AL menunduk sejenak, seperti membayangkan apakah kelak setelah lulus SMA ia bisa membiayai kuliah anaknya karena ia hanya seorang ibu rumah tangga dan suami yang selalu menjadi tulang punggung keluarga sudah berpulang.

”Butuh biaya pastinya dan tidak sedikit. Berat dan tak mudah untuk mencapai cita-cita itu, tetapi ibu mendukung dan terus berdoa. Kita lihat ke depan semoga ada dukungan atau rezeki,” kata ibunda AL.

Baca Juga: Berbagi Kemerdekaan bagi Ratusan Anak Tanpa Orangtua di Kota Bogor

Di lokasi lainnya, Bima dan Dedie mengunjungi RN (11), yang saat ini tinggal bersama paman dan bibinya sejak ibu RN meninggal sekitar dua bulan lalu, sementara ayahnya juga meninggal pada 2015. RN sebenarnya memiliki kakak dan sudah menikah, tetapi ia dibawa pamannya agar mendapat perhatian lebih.

RN yang duduk di tumpukan bebatuan sembari memegang buku pelajaran terlihat heran dengan kedatangan Bima dan Dedie yang mengenakan seragam putih dan bermasker hitam. Ia tak mengenal dua pria itu sampai pamannya memberi tahu.

Perkenalan RN dengan Bima dan Dedie masih membuatnya bingung. Ia merasa asing karena memang tak pernah bertemu sebelumnya. Ia diam, tampak malu, serta dengan suara pelan menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan dari Bima dan Dedie.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/Em4w3ZOjmq9ru1-xrJTi2yCRa00=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2FBantuan-kepada-anak-terdampak_1629210172.jpeg
KOMPAS/AGUIDO ADRI

Wali Kota Bogor Bima Arya dan Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengunjungi RN (11) di Sukadamai, Tanah Sareal, Selasa (17/8/2021). RN saat ini tinggal bersama paman dan bibinya.

RN baru tampak antusias ketika Bima ikut duduk di tumpukan batu dan Dedie juga berdiri mendekat disamping RN. ”Kamu cita-citanya apa?” kata Bima.

”Polwan,” kata RN cepat, lalu disambut pertanyaan kedua oleh Dedie alasan ia bercita-cita menjadi polwan.

RN bercerita dengan suara pelan, ingin menjadi polwan karena cerita dari ayahnya langsung. Ayahnya RN dulu bercita-cita ingin menjadi polisi, tetapi itu tidak terwujud.

Tak ada rasa sedih dari mata RN ketika ia bercerita. Begitu pula ketika ia dan pamannya bercerita tentang kondisi ibunya saat berjuang sembuh dari Covid-19 hingga tutup usia.

Bima dan Dedie pun menantang RN untuk berjuang mengejar cita-citanya sembari berpesan untuk rutin shalat dan berdoa untuk ibu dan ayahnya, serta menjadi pribadi yang tangguh, displin, dan jujur. RN menganggukkan kepala.

RN juga diminta fokus untuk belajar dan tak perlu khawatir dengan pendidikannya karena akan dibiayai hingga SMA dan sejumlah bantuan lainnya.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/D2N0DKR572TR7c51fBhIYtgcJhc=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2Fkemerdekaan-dan-anak-terdampak_1629208720.jpg
KOMPAS/AGUIDO ADRI

RN (11) menerima kunjungan Wali Kota Bogor Bima Arya (kiri) dan Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim (kanan), di Sukadamai, Tanah Sareal, Selasa (17/8/2021). Bima dan Dedie datang untuk memberikan penguatan kepada RN yang tidak lagi memiliki ayah dan ibu. Pemkot Bogor memastikan anak-anak yang terdampak pandemi mendapat perhatian khsusus.

Tak lama bagi RN, yang awalnya canggung, untuk mulai merasa nyaman dengan kehadiran Bima dan Dedie. Bima beberapa kali mengusap bahu dan punggung RN. Begitu pula dengan Dedie yang kerap memegang dan mengusap kepalanya.

Bima, Dedie, atau paman dan bibinya memang tidak bisa menggantikan sosok ayah dan ibu RN. Namun, empati yang terbangun seperti mengobati kerinduan RN kepada orangtuanya, tempat ia mendapat perlindungan, dukungan, perhatian, dan kasih sayang.

Entah kapan terakhir kali kepala RN diusap oleh ayahnya. Ketika nanti menghadapi masalah, apakah ada yang mengusap bahu dan punggungnya seperti yang dilakukan ibunya. Atau, adakah yang akan memberinya semangat saat dalam kondisi terpuruk.

”Saya tidak sedih ayah dan ibu meninggal. Saya mau belajar biar jadi polwan. Itu, terima kasih bantuannya dan baju sekolahnya,” kata RN malu-malu sembari memeluk tangan bibinya.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/3pu751u0Q1g-KbQG40weSXn3hG0=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2F87cae86c-9060-4fc4-a28a-6c0f6ba8ba31_jpg.jpg
KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS

Siswa-siswi dari sejumlah SMA di Kendari membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 108 meter yang dibuat khusus untuk memperingati kemerdekaan Indonesia, di Ranomeeto, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Selasa (17/8/2021). Puluhan pelajar ini berupaya memberi semangat, khususnya terhadap generasi muda, untuk bersama-sama menghadapi persoalan bangsa.

Jaga asa

Pada momen HUT Ke-76 Republik Indonesia, Bima bersama Dedie didampingi camat dan lurah turun ke wilayah menyerahkan bantuan kepada 133 keluarga terdampak pandemi. Lewat program ini, pemerintah berupaya memastikan anak-anak bisa terus bertahan.

”Kami pastikan tidak ada lost generation. Kami sudah mendata, ada 229 anak di bawah 18 tahun yang kehilangan orangtuanya karena terpapar Covid-19. Kita perlu terus menumbuhkan kepedulian, khususnya kepada keluarga dan anak-anak terdampak pandemi,” tutur Bima.

Dari 229 anak tersebut, 150 di antaranya merupakan anak yatim, 72 anak piatu, dan 7 anak yatim piatu. Mereka berasal dari 133 keluarga, 46 anak di antaranya masih anak balita, SD (76), SMP (53), dan SMA (54). Data itu masih mungkin bertambah karena pandemi masih melanda.

Dari data tersebut tercatat 97 anak di antaranya telah menerima bantuan melalui program-program bantuan keluarga tidak mampu, seperti PKH, BPNT, dan BPJS. Anak-anak yang belum menerima bantuan akan diupayakan segera memperolehnya.

”Mereka ini harus kita selamatkan, mereka tidak boleh kehilangan masa depan. Mereka tidak boleh putus asa, mari kita jaga asa mereka dengan memberikan harapan dan pertolongan,” ujar Bima.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/CyXulk3fjvB3d9MNDOZiN6NXSeY=/1024x894/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2FIMG-20210815-WA0050_1629112750.jpg
TANGKAPAN LAYAR AKUN ISTAGRAM BIMA ARYA

Wali Kota Bogor Bima Arya melelang 46 koleksi pribadinya, mulai dari batik, kemeja, jaket, tas, sepatu, jam tangan, hingga sepeda di Live Instagram di akun @bimaaryasugiaryo, Minggu (15/8/2021). Lelang yang berlangsung sekitar 3 jam itu mengumpulkan Rp 53.750.000 untuk didonasikan bagi anak-anak yang kehilangan orangtua karena Covid-19.

Anak-anak tersebut, kata Bima, akan dijamin pendidikannya sampai lulus SMA, termasuk yang bersekolah di swasta. Momentum hari kemerdekaan menjadi penyemangat untuk terus berjuang dengan menempatkan kepentingan yang lebih besar, yaitu warga, melalui komitmen kuat, solid, solidaritas, dan kolaborasi.

Baca Juga: Kota Bogor dan Depok Dampingi Anak Tanpa Orangtua akibat Covid-19

”Dananya kita usahakan ada yang dari kegiatan atau program dinas, ada juga donasi dari gaji ASN yang disisihkan, termasuk hasil lelang barang pribadi saya kemarin (Rp 53,7 juta). Kemudian semuanya juga akan didampingi konseling dari DPMPPA (Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan dan Anak). Mereka harus tetap bisa meraih masa depan,” tutur Bima.

Bima melanjutkan, agar program bantuan terus berjalan, ia meminta camat dan lurah terus mendata kebutuhan anak-anak yang terdampak. ”Akan dilihat kasus per kasusnya. Saya sudah minta camat dan lurah mendata kebutuhannya apa saja. Bermacam-macam, ada yang sudah tinggal dengan keluarganya, ada yang mungkin masih mencari tempat tinggal, ada yang perlu biaya kuliah, semuanya di data terlebih dahulu,” tuturnya.

”Di mana ada kemerdekaan, di situlah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat self-discipline, yaitu kita sendiri mewajibkan dengan sekeras-kerasnya. Dan, peraturan yang sedemikian itu harus ada di dalam suasana yang merdeka.” - Ki Hajar Dewantara.

Editor:
nelitriana
Bagikan