logo Kompas.id
MetropolitanPemkot Harus Lindungi...

Pemkot Harus Lindungi Anak-anak Terdampak Psikologi dan Sosial

Sejumlah anak merasakan beban hidup yang berat karena orangtua yang meninggal akibat Covid-19 dan orangtua yang semakin berat beban pekerjaan karena dampak Covid-19. Perlu perhatian khsusus bagi anak-anak.

Oleh
AGUIDO ADRI
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/qzLsPIQQmH_a-38eKDyNfdAObus=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F06%2Fb2abeded-7135-4fb8-813e-4d6ca567b4af_jpg.jpg
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Anak-anak bermain di rel kereta api di kawasan hunian semipermanen padat penduduk, Pademangan, Jakarta Utara, Jumat (18/6/2021).

BOGOR, KOMPAS — Selain penanganan Covid-19, pemerintah harus memberikan perhatian khusus kepada anak-anak yang terdampak secara sosial dan psikologis. Banyak anak harus merasakan beban hidup yang berat karena orangtua mereka meninggal.

Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) Bima Arya, saat rapat virtual bersama kepala daerah seluruh Indonesia, mengatakan, pemerintah kota memberikan perhatian kepada hal-hal yang luput dari perhatian selama penanganan Covid-19. Salah satunya adalah banyak  anak  terdampak pandemi Covid-19 secara psikologis keluarga dan sosial.

Baca juga: Mendampingi Jiwa Anak Melewati Tekanan Pandemi

”Kita ingin seluruh kota  memberikan perhatian kepada anak, aspek psikologis harus diperhatikan. Ada keluarga yang ditinggalkan, anak-anak yang kehilangan bapaknya, tulang punggung keluarganya, bahkan ada anak-anak yang kehilangan bapak ibunya. Kita data dan bantu mereka. Mereka masa depan bangsa,” kata Bima Selasa (10/8/2021).

Bima menilai kondisi psikologis keluarga, khususnya anak-anak tersebut, luput dari perhatian. Berdasarkan data yang terus dihimpun, di Kota Bogor ada sekitar 300 anak yatim piatu terguncang, bukan saja secara ekonomi, melainkan juga psikis dan sosial.

Sejumlah anak-anak itu merasakan beban hidup berat karena orangtua yang meninggal karena Covid-19 dan orangtua  semakin berat beban pekerjaan karena dampak Covid-19. Selain bantuan sembako dan uang tunai, perlu ada bantuan langsung dan perhatian kepada anak-anak tersebut.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/I2V1UrzH2yOWznPZFyyBbAO9lts=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2FIMG-20210725-WA0008_1628579771.jpg
FORKOPIMDA KOTA BOGOR

Wali Kota Bogor Bima Arya, saat menjumpai kakak adik di Kampung Awan, Kelurahan Genteng, untuk membagikan sembako sekaligus memberikan bantuan pendidikan.

”Pemkot Bogor saat ini tengah mendata   anak yang terdampak Covid-19 akibat ditinggal meninggal orangtuanya. Perhatian dalam bentuk bantuan sembako dinilai tidaklah cukup, karena ada persoalan pendidikan, kesehatan, konseling bimbingan dan sebagainya. Perlu gerakan yang sistematis melindungi anak-anak,” tutur Bima.

Salah satunya program yang saat ini sudah jalan, kata Bima, ASN diajak berkontribusi untuk menyisihkan penghasilannya dalam membantu warga yang membutuhkan, seperti UMKM, warung, para dhuafa dan sebagian disisihkan bagi anak-anak yatim piatu. Selain perhatian kepada anak-anak yang terdampak pandemi Covid-19, Bima mengajak untuk mengantisipasi potensi gejolak di bawah akibat dampak secara ekonomi.

”Harus hati-hati, kita sangat fokus membangun harmoni di bawah, jangan fokus di protokol kesehatan saja, tapi pada aspek sosial ekonomi tidak diantisipasi. Ini harus menjadi atensi kita bersama,” tegas Bima.

Baca juga: Menjadi Rumah bagi Anak-anak Yatim Korban Pandemi

Bima menceritakan, saat ia blusukan ke sejumlah wilayah untuk memberikan bantuan paket sembako dan vitamin, seperti di Kampung Awan, Kelurahan Genteng, ia menemui kakak adik yang terdampak secara ekonomi dan psikologis karena ibunya meninggal. Saat ini mereka tinggal dengan ayahnya yang berprofesi sebagai sopir angkot dan kerap bekerja melebihi 10 jam agar bisa memenuhi kebutuhan harian.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/Yo2tJP-n9kgfzGZGuBXhMMhGKI8=/1024x577/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F06%2Fb97002cd-5872-4ca7-a77b-fce2a5bd1c07_jpg.jpg
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Suasana saat pelatihan penulisan aksara Sunda di Vihara Maha Brahma Phan Ko Bio, Pulo Geulis, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/6/2021).

Di tempat lainnya, di wilayah Kelurahan Cibogor, Kecamatan Bogor Tengah, Bima menemui Zulfa, Zulfan, dan Zahira. Tiga kakak adit itu telah kehilangan ibunda tercinta yang meninggal pada Minggu (18/7/2021). Sedangkan ayahnya sudah 7 tahun berpisah dengan ibunya. Tiga kakak adik itu saat ini hidup sebatang kara dan harus tetap bertahan memenuhi kebutuhan harian.

Baca juga: Tekanan Persoalan Keluarga Pengaruhi Kehidupan Anak

Sekretaris Kecamatan Bogor Tengah, Dicky Iman Nugraha, mengatakan, dari instruksi Wali Kota Bogor Bima Arya, selain mendata anak-anak yang terdampak, pihaknya akan memberikan perhatian kepada anak-anak yatim piatu. Selain pemenuhan kebutuhan sembako, pemerintah akan memberikan perhatian pendidikan. Bantuan sementara yang diberikan adalah bantuan pulsa untuk pembelajaran jarak jauh dari Dinas Pendidikan Kota Bogor.

”Ini menjadi tanggung jawab bersama. Selain bantuan pemerintah, kami pantau dan beri perhatian langsung ke anak-anak itu. Karena hidup sebatang kara, tiga kakak adik itu kita penuhi kebutuhannya. Para tetangga juga baik memberikan perhatian. Lingkungan sekitar harus terus menjaga dan membantu,” kata Dicky.

Editor:
nelitriana
Bagikan