MultimediaInfografikStatisSehat dengan Obat Bahan Alam

Sehat dengan Obat Bahan Alam

Oleh Arie Nugroho, Luhur Arsiyanto, Ningsiawati, dan Andri Reno Susetyo ·

Pandemi Covid-19 mengakibatkan kebutuhan kesehatan masyarakat meningkat. Minat masyarakat untuk membeli obat dan multivitamin yang dapat menaikkan daya tahan tubuh semakin tinggi. Sayangnya, ada oknum yang memanfaatkan kondisi ini dengan menjual ramuan yang diklaim dapat mengobati Covid-19. Setiap ramuan atau jamu harus dibuktikan secara ilmiah melalui uji praklinis dan uji klinis serta mendapat izin edar terlebih dulu untuk dapat diklaim sebagai obat.

Ramuan bahan alam di Indonesia untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan serta pengobatan penyakit telah ada secara turun-temurun. Penggunaan tumbuhan sebagai obat terdapat dalam berbagai naskah kuno, di antaranya Serat Centhini (Jawa), Buku Jampi (Jawa), dan Kitab Tibb (Melayu). Khasiat dari ramuan/jamu tradisional ini dipercaya secara empiris dan belum dibuktikan secara ilmiah sehingga belum dapat digunakan untuk pengobatan formal. Untuk menjamin keamanan dan mutu khasiat obat bahan alam (OBA) Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggolongkan OBA menjadi tiga, yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka (Perka BPOM RI No HK 00.05.4.2411).

Memuat data...
Memuat data...

Obat Tradisional untuk Menghadapi Pandemi

Obat tradisional dapat digunakan untuk membantu memelihara daya tahan tubuh dalam menghadapi pandemi Covid-19. Masyarakat dapat mengonsumsi obat jadi yang sudah terdaftar di BPOM atau mengolah/membuat ramuan sendiri dari bahan-bahan yang telah diuji khasiatnya secara ilmiah.

Memuat data...
Memuat data...
Memuat data...

Faktor yang menghambat pengembangan riset OMAI di antaranya biaya yang tinggi serta waktu yang lama untuk riset dan uji ilmiah obat bahan alam. Oleh karena itu, pengembangan ramuan jamu menjadi obat fitofarmaka saat ini hanya mampu dilakukan oleh produsen obat herbal besar. Dari 35 produk yang terdaftar sebagai fitofarmaka hanya berasal dari empat perusahaan farmasi.

Untuk mempercepat pengembangan obat bahan alam, BPOM memberikan kemudahan dalam pengajuan perizinan jamu. Misalnya, khusus saat pandemi Covid-19, untuk produk jamu yang terbukti empiris dan sudah memiliki nomor izin edar, serta klaimnya sejalan dengan penanganan Covid-19, uji praklinis tidak perlu dilakukan selama ada bukti keamanan produk tersebut. Dosis uji pada manusia dapat menggunakan dosis pada penggunaan empiris.

Memuat data...