logo Kompas.id
Kolom”Music Tourism” dan Wajah...
Iklan

”Music Tourism” dan Wajah Pergelaran Musik Kita Seusai Pandemi (Tanggapan untuk Dimas Leimena)

Pariwisata musik bergerak bersama sejarah kota dan kehidupan manusia-manusia di dalamnya. Festival yang dilangsungkan adalah keterkaitan antara pergelaran musik dan jalur destinasi wisata atau atraksi budaya.

Oleh
Anas Syahrul Alimi
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/qNdkgrZXEYSyAg3hDvKDkVq69Sw=/1024x576/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F04%2F23%2Fa635afd1-ffd2-4635-9193-aac3b22d9c90_jpg.jpg

Berhentilah mengutuk pandemi. Pandemi bukanlah dardenire danse, tarian terakhir untuk kebudayaan—pinjam lagu penyanyi Adila Sedraïa alias Indila dari Paris. Sebagai anak bangsa yang sudah ditakdirkan hidup di atas tanah bara dan diikat cincin api, DNA kita sejatinya ”terbentuk secara alami” untuk tahan dalam segala kondisi paling buruk.

Membaca esai Dimas Leimena berjudul ”Berharap Lebaran di Industri Pergelaran” di harian ini, saya menangkap ada harapan dalam kalut yang teramat sangat setelah diaduk-aduk pandemi selama dua tahun belakangan.

Editor:
MOHAMMAD HILMI FAIQ
Bagikan