logo Kompas.id
KolomAsal-usul Kata Takjil, Bukber,...
Iklan

Asal-usul Kata Takjil, Bukber, dan Jaburan

Berbukalah dengan yang manis. Sungguh familiar kalimat ini pada setiap bulan Ramadhan. Anjuran manis itu tentu saja soal rasa, boleh juga perihal cara. Dari takjil, bukber, sampai jaburan, bertabur yang manis-manis.

Oleh
Didik Durianto
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/4Yg6LFnlkv_7QjucPbOdVi6at10=/1024x724/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F03%2F31%2F9e44e42f-b8af-4232-8ac7-89894d0bdd7f_jpg.jpg

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, apalagi di tengah cuaca terik, nikmat nian membatalkan puasa dengan minuman yang segar, dingin, dan manis. Rasa manis kolak pisang jenis raja, yang ditaburi gula merah atau es kelapa muda dan dilumuri susu kental manis, santan instan, dan sejumput garam, sangat maknyus. Lumer di sentuhan pertama lidah yang kering.

Lebih komplet lagi, buka puasa ditunaikan dengan cara yang manis. Berbuka dengan anggota keluarga, rekan kerja, teman sekolah, atau bersama yang terdalam, si tambatan hati, misalnya.

Memang berbuka puasa adalah momentum paling ditunggu setelah belasan jam tidak makan-minum. Terlebih lagi menyegerakan berbuka sangat dianjurkan. Bersegera dalam buka puasa diistilahkan takjil.

Adapun lema takjil dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki dua makna, yaitu ’mempercepat berbuka puasa’ (kata kerja) dan ’makanan untuk berbuka puasa’ (kata benda).

Dikutip dari situs web Muhammadiyah, istilah takjil berasal dari bahasa Arab, ajjala-yu’ajjilu-ta’jilan, yang berarti ’momentum’, ’tergesa-gesa’, ’menyegerakan’, atau ’mempercepat’.

Walakin, takjil mengalami perluasan makna. Banyak pengguna bahasa memahami takjil sebagai makanan-minuman untuk berbuka puasa semisal gorengan, bubur sumsum, es blewah, dan kolang-kaling. Ada juga yang memahami takjil sebagai kurma.

Adapun lema takjil dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki dua makna, yaitu ’mempercepat berbuka puasa’ (kata kerja) dan ’makanan untuk berbuka puasa’ (kata benda). Boleh jadi arti yang kedua dimunculkan karena pemaknaan takjil sebagai makanan kerap dipakai oleh pengguna bahasa.

Warga mengantre mendapatkan <i>takjil</i> untuk hidangan berbuka puasa di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Selasa (13/4/2021). Kata <i>takjil</i> yang banyak dipahami pengguna bahasa adalah yang bermakna makanan untuk berbuka puasa.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Warga mengantre mendapatkan takjil untuk hidangan berbuka puasa di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Selasa (13/4/2021). Kata takjil yang banyak dipahami pengguna bahasa adalah yang bermakna makanan untuk berbuka puasa.

Bukber

Takjil, sebagai salah satu tanda sukses puasa setelah seharian menahan godaan syahwat dan nafsu perut, dirayakan dengan beragam cara, salah satunya buka bersama. Saking populernya acara ini, akronim bukber, buka puasa bersama, sudah menjadi warga KBBI.

Tradisi ini sudah mengakar kuat di kalangan masyarakat. Bukber galib diagendakan baik oleh anak muda maupun orang tua, oleh kelompok ataupun lembaga/institusi, dan digelar di kediaman pribadi, rumah makan, hotel, hingga kantor. Seperti halnya kebiasaan buka puasa di kantor tempat penulis bekerja.

Iklan

Setiap Ramadhan, selama satu bulan penuh, ada individu-individu yang memberikan makanan-minuman berbuka bagi semua karyawan. Tentu saja karyawan yang berpuasa tidak perlu susah payah membeli makanan-minuman di luar kantor. Syukur tiada akhir.

Ada beragam nuansa dalam acara bukber, antara lain silaturahmi, kangen-kangenan, reuni, konsolidasi, dan tentu saja makan enak serta berbagi.

Soal berbagi, ada juga tradisi memberi makan dan minum saat bulan puasa, yaitu jaburan.

Umat Buddha menyiapkan <i>takjil</i> untuk <i>bukber</i> umat Islam di kelenteng Vihara Dharma Bhakti di Jalan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, DKI Jakarta, Kamis (23/5/2019). Vihara Dharma Bakti merupakan kelenteng tertua di Jakarta. Penyediaan <i>takjil </i>buka puasa di kelenteng tersebut untuk merawat kerukunan antarumat beragama. Tradisi buka puasa bersama di kelenteng telah berlangsung dua tahun sebelumnya.
KOMPAS/ZULKARNAINI

Umat Buddha menyiapkan takjil untuk bukber umat Islam di kelenteng Vihara Dharma Bhakti di Jalan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, DKI Jakarta, Kamis (23/5/2019). Vihara Dharma Bakti merupakan kelenteng tertua di Jakarta. Penyediaan takjil buka puasa di kelenteng tersebut untuk merawat kerukunan antarumat beragama. Tradisi buka puasa bersama di kelenteng telah berlangsung dua tahun sebelumnya.

Jaburan

Jaburan merupakan jamuan makan malam oleh pengurus masjid/mushala ataupun individu/warga bagi jemaah yang disantap seusai melaksanakan shalat Tarawih.

Merujuk pada Kamus Bahasa Jawa-Bahasa Indonesia I terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, jabur atau jaburan (kata benda) dimaknai ’makanan atau minuman orang yang bertarawih’. Lalu, ada lema njaburi (kata kerja) yang berarti ’memberi makanan atau minuman orang yang bertarawih’.

Jaburan menyiratkan makna berderma dan memuliakan orang yang berpuasa dan beribadah pada malam hari.

Adapun Kamus Bahasa Jawa Tegal-Indonesia yang disusun oleh Balai Bahasa Jawa Tengah memaknai jaburan sebagai ’jajanan; kue-kue’, kemudian jabur sebagai ’jajan’, lalu jaburi sebagai ’makan kue sambil minum teh atau kopi’. Memang menu jaburan biasanya sekadar penganan, camilan, dan minuman.

Tradisi ini sudah lama mengakar pada masyarakat Jawa setiap bulan Ramadhan, khususnya di Jawa Tengah. Jaburan menyiratkan makna berderma dan memuliakan orang yang berpuasa dan beribadah pada malam hari. Sayang, kata jaburan belum menjadi warga KBBI.

Takjil melalui bukber ataupun jaburan menuai banyak keutamaan, apalagi bagi yang bederma. Sebagaimana diriwayatkan dalam Hadis Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, ”Barang siapa yang memberi buka orang yang berpuasa, niscaya dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sama sekali.”

Selamat berpuasa Ramadhan 2022. Selamat berbuka dengan yang manis-manis.

Didik Durianto, Penyelaras Bahasa Kompas

Editor:
SRI REJEKI
Bagikan