logo Kompas.id
KesehatanSarapan Belum Jadi Kebiasaan...
Iklan

Sarapan Belum Jadi Kebiasaan Anak-anak Indonesia

Sarapan bergizi seimbang penting untuk kesehatan dan mendukung konsentrasi belajar. Namun, hampir separuh anak-anak Indonesia justru belum terbiasa sarapan.

Oleh
ESTER LINCE NAPITUPULU
· 3 menit baca
Siswa SMP Negeri 1 Labuapi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat menikmati bekal sarapan mereka di hari Kamis (10/10/2019). Setiap hari mereka wajib membawa bekal yang bergizi, boleh dimasak sendiri dan boleh juga dibeli, minimal untuk sarapan.
KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR

Siswa SMP Negeri 1 Labuapi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat menikmati bekal sarapan mereka di hari Kamis (10/10/2019). Setiap hari mereka wajib membawa bekal yang bergizi, boleh dimasak sendiri dan boleh juga dibeli, minimal untuk sarapan.

JAKARTA, KOMPAS — Sarapan masih belum menjadi kebiasaan di Indonesia, terutama bagi anak-anak. Hampir separuh anak-anak di Indonesia belum menjadikan sarapan sebagai suatu kebiasaan serta tidak memenuhi kebutuhan kalori akibat asupan gizi yang tidak seimbang.

Data Survei Diet Total (SDT) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan tahun 2020 menunjukkan, dari 25.000 anak usia 6-12 tahun di 34 provinsi, terdapat 47,7 persen anak belum memenuhi kebutuhan energi minimal saat sarapan. Bahkan, 66,8 persen anak sarapan dengan kualitas gizi rendah atau belum terpenuhi kebutuhan gizinya, terutama asupan vitamin dan mineral.

Editor:
ADHITYA RAMADHAN
Bagikan