logo Kompas.id
InvestigasiBanjir Bandang dan Trauma yang...

Banjir Bandang dan Trauma yang Terus Membekas di Benak Korban

Kerusakan hutan di kawasan konservasi dan hutan lindung ditengarai turut memicu bencana banjir bandang di Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung dalam beberapa tahun terakhir. Warga tak bersalah harus terkena imbasnya.

Oleh
FAJAR RAMADHAN, JOHANES GALUH BIMANTARA, ADITYA DIVERANTA
· 1 menit baca
Warga membuat sebuah catatan tentang bencana banjir bandang di Garut pada puing-puing rumah di bantaran Sungai Cimanuk di Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Kamis (30/4). Disana ditulis "Tanggal 20.9.2016 Tragedi Banjir Bandang Pkl 22.30". Hingga kini lahan bekas rumah itu belum dibangun kembali oleh pemiliknya.
KOMPAS/BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA

Warga membuat sebuah catatan tentang bencana banjir bandang di Garut pada puing-puing rumah di bantaran Sungai Cimanuk di Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Kamis (30/4). Disana ditulis "Tanggal 20.9.2016 Tragedi Banjir Bandang Pkl 22.30". Hingga kini lahan bekas rumah itu belum dibangun kembali oleh pemiliknya.

Selasa, 20 September 2016 sekitar pukul 23.00, Bayu Prayoga (23) terbangun oleh teriakan sang ibu yang bersahutan dengan gemuruh air dari luar rumah. Bayu bergegas naik ke loteng sesaat sebelum air bah menggenangi bagian bawah rumahnya. Sesampainya di atas, dia berpegangan tangan dengan ibu dan adiknya sambil mengucap istighfar dalam hati.

Dalam hitungan menit banjir bandang dari Sungai Cimanuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat itu merobohkan seluruh bangunan rumahnya. Ketiganya terlempar ke dalam air. Bayu terlepas dari pegangan sang ibu dan terseret arus banjir hingga ratusan meter. Dia tersangkut pada bangunan sekolah sebelum ditemukan oleh tim SAR beberapa jam kemudian.

Editor:
KHAERUDIN
Bagikan