logo Kompas.id
InvestigasiPenipu Berkedok Cinta...
Iklan

Penipu Berkedok Cinta Berkeliaran di Dunia Maya

Penipuan berkedok cinta di media sosial dan aplikasi kencan semakin meresahkan. Meski jadi bahan perbincangan warganet, kasus-kasus baru bermunculan dan kembali memakan korban.

Oleh
ANDY RIZA HIDAYAT, IRENE SARWINDANINGRUM, DHANANG DAVID ARITONANG, INSAN ALFAJRI
· 5 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/xdNYcciINvk79ZqWoT2mR1dY-sA=/1024x2263/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F04%2F20%2F47cb1621-4eaa-430b-b4b0-a310dcb5d631_png.png

Infografik Penipu Berkedok Cinta di Dunia Maya

JAKARTA, KOMPAS Penipu berkedok cinta atau love scammer di aplikasi kencan dan media sosial ternyata banyak berkeliaran di Indonesia. Investigasi Kompas terhadap terduga penipu yang sempat viral di media sosial mengungkapkan, sedikitnya ada 91 korban yang mengalami eksploitasi finansial dan eksploitasi seksual. Korban umumnya terdampak berkepanjangan, seperti kesulitan ekonomi dan gangguan emosi.

Pelacakan terhadap terduga penipu dan korban dilakukan sepanjang Maret-April 2022 di Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Empat terduga yang terlacak adalah Faris Ahmad Faza (31), Muhammad Iqbal Pangestu (29), Leonardus Wahyu Dewala (32), dan Emirat Moniharapon (29).

Dari empat terduga penipu berkedok cinta ini, tiga orang, kecuali Leonardus Dewala, sudah dilaporkan ke kepolisian atas dugaan penipuan. Sebanyak 17 korban dari tiga terduga penipu mengalami kerugian lebih dari Rp 1 miliar. Sementara ada 74 perempuan mengaku mengalami eksploitasi seksual Dewala, baik secara verbal maupun fisik.

Faris Ahmad Faza diduga menguras uang hingga Rp 350 juta dari sembilan korban di Jatim dan Jateng. Para korban mayoritas perempuan berusia 25-33 tahun yang dijadikan pasangan lebih dahulu lewat cinta palsu dalam kurun 12 bulan (2021-2022).

Korban penipu berkedok cinta memeriksa barang dengan pelaku Faris Ahmad Faza (31) di Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (4/4/2022). Sepanjang 2021 sampai awal 2022, sudah 9 korban Faza ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
IRENE SARWINDANINGRUM

Korban penipu berkedok cinta memeriksa barang dengan pelaku Faris Ahmad Faza (31) di Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (4/4/2022). Sepanjang 2021 sampai awal 2022, sudah 9 korban Faza ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Empat dari sembilan korban Faza sudah melaporkan ke kepolisian di wilayah masing-masing atas dugaan penipuan. Hubungan cinta kasih hanya pemanis di awal kebersamaan. Selanjutnya Faza mengeksploitasi korban terus-menerus. ”Dia posesif, melarang saya dekat dengan orang lain,” ujar CB (33), analis keuangan sebuah bank di Purwokerto, Jateng, yang kehilangan Rp 60 juta selama berhubungan dengan Faza.

Di Purwokerto, Faza juga menipu seorang dokter berinisial IT. IT mengenal Faza dengan nama Areza di aplikasi Tinder. Setelah bertemu di Tinder, IT dan Faza berhubungan lewat Whatsapp. Kepada IT, Faza mengaku memiliki usaha yang tengah kolaps dan membutuhkan dana. Faza meminta IT mengunduh aplikasi pinjaman daring. Total IT tertipu hingga sekitar Rp 80 juta karena bualan Faza.

Baca juga: Setelah Ini, Jangan Ada Korban Bualan Cinta Lagi

Adapun Mohammad Iqbal Pangestu dilaporkan dua dari empat korbannya. Saat beraksi, Iqbal bergerak cepat, mendekati korban, mengeksploitasi, dan meninggalkannya begitu saja kurang dari dua pekan. Ini dilakukan pada WT (25), perempuan pekerja BUMN di Semarang, dan AM (26), pegawai swasta di Jakarta. Iqbal memperdaya WT lewat aplikasi Line, sementara AM lewat Bigo. ”ATM dan emas saya juga dibawa,” kata WT yang kehilangan Rp 40 juta selama dua pekan bersama Iqbal.

RK (43), perempuan asal Bekasi, menceritakan kronologi ia ditipu oleh Emirat Moniharapon di Jakarta, Kamis (17/3/2022). RK merupakan salah satu korban penipuan berkedok cinta dengan total kerugian sekitar Rp 350 juta.
KOMPAS/DHANANG DAVID

RK (43), perempuan asal Bekasi, menceritakan kronologi ia ditipu oleh Emirat Moniharapon di Jakarta, Kamis (17/3/2022). RK merupakan salah satu korban penipuan berkedok cinta dengan total kerugian sekitar Rp 350 juta.

Hubungan jarak jauh

Terduga lain yang dilaporkan ke polisi adalah Emirat Moniharapon. Dia dilaporkan atas dugaan penipuan oleh pengusaha perhiasan, RK (43). Ibu satu anak ini merasa dieksploitasi Emirat melalui hubungan palsu dengan kerugian materi Rp 180 juta. Awalnya, RK tertarik kepada Emirat yang tampil sebagai sosok lelaki religius. Kebetulan RK sangat mendambakan tipe lelaki berkarakter seperti itu, hingga kemudian ia jatuh cinta kepada Emirat.

Iklan

Saat hubungan cinta berjalan, Emirat meminta RK mengirim uang untuk berbagai keperluan. Lantaran semakin sering dan tidak masuk akal, RK curiga. Terlebih lagi Emirat menghilang tiba-tiba. RK mencari tahu dan terhubung dengan tiga korban Emirat lain. ”Mereka mengalami persis seperti yang saya alami,” katanya, di Jakarta, Kamis (17/3/2022).

Baca juga: Menguak Kisah Para Korban Cinta Palsu

Emirat diduga punya kaitan dengan sosok fiktif dengan nama Iqbal. Profil Iqbal di Facebook menggunakan foto milik Emirat. Iqbal sebelumnya menjalin percintaan palsu dengan RK di dunia maya. Hampir setiap hari keduanya berkomunikasi layaknya sepasang kekasih. RK bahkan pernah menuruti permintaan Iqbal membeli mobil baru meski belum pernah bertemu fisik. Hubungan keduanya berakhir setelah RK tahu Iqbal menggunakan foto Emirat. Kepada Iqbal, RK sudah mengirimkan uang senilai Rp 350 juta.

Emirat Moniharapon (29) yang sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penipuan berkedok cinta di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (5/4/2022).
KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM (IR

Emirat Moniharapon (29) yang sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penipuan berkedok cinta di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (5/4/2022).

Kompas melacak keberadaan Emirat di Makassar, Sulsel. Emirat bersedia ditemui di tempat yang dia tentukan, pada hari yang sama dengan saat dikontak tim Kompas.

Dia tak menyangkal menerima uang dan barang dari RK. Namun, ia membantah memaksa RK. Ia juga tak tahu pemilik akun Facebook bernama Iqbal yang menggunakan fotonya dan menipu. Foto Emirat terlihat menarik. Badannya tegap dan bersih. Setelah merasa kembali tertipu, RK pun melaporkan Emirat ke Polda Metro Jaya.

Sementara itu, meski tak menghadapi laporan polisi, Leonardus Wahyu Dewala menghadapi tuduhan mengeksploitasi seksual 74 perempuan. Dewala diduga memanipulasi data diri untuk memikat pasangan. Dewala aktif di aplikasi kencan Bumble, Tinder, dan OKCupid sepanjang 2018-2020. Korban-korbannya menuding dia berbohong sebagai lulusan salah satu kampus di Swiss.

Tim Kompas melacak Dewala di tempat indekosnya di Jakarta Selatan, tetapi dia sudah tidak tinggal di sana. Tim lalu berhasil menemui Dewala di rumahnya di Magelang, Jateng, Selasa (22/3). Dia membantah semua tuduhan korban. Dewala mengakui tak pernah kuliah di Swiss dan drop out (DO) dari sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. ”Saya cerita ke orang, saya sebenarnya DO, mereka malah tak percaya,” katanya.

Leonardus Dewala (32) menyatakan tak terima dengan sebutan predator aplikasi kencan di rumahnya di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (21/3/2022).
KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM (IR

Leonardus Dewala (32) menyatakan tak terima dengan sebutan predator aplikasi kencan di rumahnya di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (21/3/2022).

Terkait tuduhan eksploitasi seksual korban dengan cara merekam dan meminta foto pribadi, Dewala menuturkan, hal itu dilakukan saat mereka berpacaran. Dengan posisi ini, menurut Dewala, mereka yang mengaku korban sebenarnya sudah memberi izin.

Pengelola akun Instagram @aliskamugemash menyebut, lebih dari 100 orang mengirim laporan terkait Dewala. Akun Instagram @aliskamugemash berisi testimoni korban penipuan berkedok cinta dengan terduga Dewala. Data pengelola akun, dari seluruh laporan, hanya 74 orang yang terverifikasi.

Dewala tak terima disebut predator aplikasi kencan. Ia mengaku hanya menjalin relasi fisik dengan 21 orang selama 2018-2020.

Namun, SF (27), perempuan asal Yogyakarta, merasa menjadi obyek eksploitasi Dewala setelah ia menuruti permintaan mengirim foto-foto setengah telanjang. ”Saya kirimkan foto-foto setelah dia berhasil meyakinkan saya. Setelah kirim foto-foto itu dia bilang, ’Nah, kalau gitu, aku jadi lebih sayang sama kamu’,” kata SF. Kini SF takut foto-fotonya tersebar.

Tiga korban penipu berkedok cinta Faris Ahmad Faza (31) saat bersama-sama melapor ke Polres Kediri Kota, Jawa Timur, Minggu (17/3/2022). Selama 2021 hingga awal 2022, diketahui setidaknya 9 korban Faza melalui aplikasi kencan Tinder dan Line.
IRENE SARWINDANINGRUM

Tiga korban penipu berkedok cinta Faris Ahmad Faza (31) saat bersama-sama melapor ke Polres Kediri Kota, Jawa Timur, Minggu (17/3/2022). Selama 2021 hingga awal 2022, diketahui setidaknya 9 korban Faza melalui aplikasi kencan Tinder dan Line.

Tak semua korban dengan mudah menceritakan nasibnya. Untuk dapat berkomunikasi dengan korban, tim harus melalui perantara, baik teman, kerabat, pendamping, maupun sesama korban lain. Penelusuran pada satu korban mengarah pada penemuan korban-korban lain.

Menurut Ketua Kelompok Humas Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Natsir Kongah, tren kejahatan penipuan berkedok cinta di medsos dan aplikasi kencan semakin marak selama pandemi. Natsir menyebut penipuan ini membahayakan dan termasuk dalam salah satu kejahatan siber. Penipu tidak hanya menyasar korban di dalam negeri, tetapi juga korban di luar negeri. PPATK menemukan kerugian Rp 8,13 miliar penipuan berkedok cinta dalam rentang 2020 sampai 2022.

Editor:
KHAERUDIN
Bagikan