logo Kompas.id
InternasionalKrisis Energi Hambat...

Krisis Energi Hambat Pertumbuhan Ekspor China

Pembatasan listrik lebih lanjut dapat meningkatkan tekanan biaya yang dihadapi para eksportir China. Padahal, mereka sebelumnya sudah bergulat dengan margin keuntungan yang diperas karena kemacetan pasokan.

Oleh
BENNY D KOESTANTO
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/6HRbRCK5TsNNzz6n2T9RCxQZwOE=/1024x671/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F09%2FFILES-CHINA-UN-SUMMIT-CLIMATE_99148682_1632332769.jpg
(PHOTO BY GREG BAKER / AFP)

Asap mengepul dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara di Datong, Provinsi Shanxi, China utara, dalam foto pada 19 November 2015. Pada September 2021, Presiden Xi Jinping mengakhiri aliran bantuan publik untuk energi kotor yang berkontribusi pada krisis iklim.

BEIJING, SELASA — Krisis energi di China dikhawatirkan semakin memburuk. Penjatahan listrik untuk industri dan rumah tangga kemungkinan akan berlanjut hingga awal tahun 2022. Imbas lebih jauh krisis ini bakal memukul ekspor China.

Jajak pendapat Reuters terhadap 30 ekonom, Selasa (12/10/2021), menunjukkan, ekspor China pada September diperkirakan tumbuh 21 persen secara tahunan. Proyeksi ini menurun karena pertumbuhan ekspor China pada Agustus tercatat 25,6 persen. Hasil jajak pendapat juga menunjukkan, impor China diproyeksikan melambat dan surplus perdagangan mengecil.

Editor:
Fransisca Romana
Bagikan