Banjir di Eropa Barat Meluas hingga ke Belanda dan Luksemburg
Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengunjungi wilayah yang tergenang di negerinya pada Jumat (16/7/2021). Pemerintahnya telah menyatakan banjir sebagai keadaan darurat.
Oleh
BENNY D KOESTANTO
·4 menit baca
AP/MICHAEL PROBST
Mobil terbenam karena banjir di jalanan di Erftstadt, Jerman, Sabtu (17/7/2021). Banyak kendaraan rusak karena terendam banjir yang disebabkan hujan deras selama beberapa hari terakhir di Eropa.
BERLIN, SABTU — Banjir yang menghantam sejumlah negara di bagian barat Eropa meluas hingga ke selatan Belanda dan Luksemburg, serta berimbas hingga ke Perancis. Jumlah korban tewas akibat bencana alam itu hingga Sabtu (17/7/2021) menembus 150 jiwa dengan korban jiwa terbesar di wilayah Jerman.
Sukarelawan bekerja sepanjang Jumat malam untuk menopang tanggul dan melindungi jalan di beberapa wilayah selatan Belanda. Ribuan penduduk kota Bunde, Voulwames, Brommelen, dan Geulle di selatan negara itu sudah diizinkan pulang pada Sabtu pagi setelah dievakuasi pada Kamis dan Jumat. Pabrik bir Belanda, Hertog Jan, yang berbasis di daerah yang terkena dampak, membagikan 3.000 peti bir kepada penduduk setempat ketika mereka mengevakuasi barang-barang mereka.
Perdana Menteri Mark Rutte mengunjungi wilayah yang tergenang di Belanda pada Jumat. Pemerintahnya telah menyatakan banjir sebagai keadaan darurat, membuka dana nasional untuk mereka yang terkena dampak. Ia mengatakan bahwa wilayah Belanda yang tergenang menghadapi ”tiga bencana”. ”Pertama, ada korona, sekarang banjir, dan sesegera setelahnya warga harus bekerja untuk pembersihan dan pemulihan," katanya. ”Ini adalah bencana demi bencana. Namun, kami tidak akan meninggalkan Limburg.”
AFP/BERND LAUTER
Warga mengamankan barang-barang di dekat puing-puing rumah yang hancur akibat banjir di Schuld dekat Bad Neuenahr, Jerman, Kamis (15/7/2021). Negara Bagian Rhineland-Palatinate dan North Rhine-Westphalia (NRW) di wilayah Jerman bagian barat menjadi wilayah yang terdampak paling parah karena dampak cuaca buruk yang menghantam wilayah Eropa.
Imbauan untuk evakuasi diserukan di sejumlah kota dan desa di sepanjang Sungai Meuse di Limburg hingga Jumat sore. Pihak berwenang menyatakan ketinggian air di Sungai Meuse dan Rur mencapai rekor tertinggi pada Kamis, melebihi tingkat yang menyebabkan banjir besar pada 1993 dan 1995. Di Valkenburg, di ujung selatan Limburg, dekat perbatasan Belgia dan Jerman, banjir telah melanda pusat kota, memaksa evakuasi beberapa panti jompo, dan menghancurkan setidaknya satu jembatan.
Pihak berwenang menyatakan ketinggian air di Sungai Meuse dan Rur mencapai rekor tertinggi pada Kamis, melebihi tingkat yang menyebabkan banjir besar pada 1993 dan 1995.
Di wilayah Luksemburg, ketinggian air di Sungai Sure sempat berada di kondisi puncak, sebelum kemudian turun di wilayah kota Rosport dalam dua hari terakhir. Ketinggian permukaan air di Sungai Alzette ada di ketinggian 3,35 meter di wilayah Ettelbruck. Adapun di kota Vianden, permukaan air di Sungai Our juga dilaporkan telah turun setelah berada di puncak sehari sebelumnya.
Di timur laut Perancis, merujuk pada laporan Euronews, hujan membanjiri ladang sayur, banyak rumah, dan museum Perang Dunia I di Romagne-sous-Montfaucon. Petugas pemadam kebakaran mengevakuasi warga. Surat kabar L’Est Republicain melaporkan, ketinggian air Sungai Aire naik ke level tertinggi dalam 30 tahun di beberapa daerah. Layanan cuaca nasional Perancis mengatakan curah hujan sangat tinggi.
AFP/REMKO DE WAAL/ANP/NETHERLANDS OUT
Seorang pria melewati banjir yang menggenangi permukiman di Arcen, Belanda, Sabtu (17/7/2021). Banjir bandang yang terjadi akibat hujan deras yang menerjang sejumlah negara di Eropa menyebabkan ratusan orang tewas.
Banjir besar yang melanda sejumlah negara di Eropa, dengan kondisi terparah di Jerman dan Belgia, telah digambarkan sebagai ”bencana”, ”zona perang”, dan ”belum pernah terjadi sebelumnya”. Dengan lebih dari 150 orang tewas dan jumlah korban masih meningkat, banyak yang bertanya: bagaimana ini bisa terjadi dan mengapa begitu buruk?
”Massa udara yang sarat dengan air telah diblokir pada ketinggian tinggi oleh suhu dingin, yang membuat mereka mandek selama empat hari di wilayah tersebut,” kata Jean Jouzel, ahli iklim dan mantan Wakil Presiden Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada Sabtu. Menurut ahli hidrologi Jerman, Kai Schroeter, Eropa telah berulang kali dilanda banjir parah sebelumnya. Namun, pekan ini, banjir yang menyapu sejumlah wilayah di Eropa disebut sebagai luar biasa dalam hal jumlah air dan curah hujan yang ditimbulkannya.
Perubahan iklim
Banyak politisi Eropa menyalahkan pemanasan global atas bencana itu. Namun, pendapat itu ditolak kubu sayap kanan di Jerman. Dikatakan bahwa banjir dan isu pemanasan global diangkat sebagai bagian dari instrumentasi promosi agenda perlindungan iklim. ”Kami belum bisa mengatakan dengan pasti bahwa peristiwa ini terkait dengan pemanasan global,” kata Schroeter kepada AFP, tetapi ”pemanasan global membuat peristiwa seperti ini lebih mungkin terjadi”.
Dalam istilah teknis, perubahan iklim berarti bumi menjadi lebih hangat sehingga lebih banyak air yang menguap. Kelindannya ”menyebabkan massa air yang lebih besar di atmosfer” dan dapat meningkatkan risiko curah hujan yang tinggi. IPCC juga mengatakan pemanasan global meningkatkan kemungkinan kejadian cuaca ekstrem.
Daerah yang paling parah terdampak curah hujan yang tinggi di Eropa adalah wilayah bantaran sungai kecil atau anak sungai yang dengan cepat menjadi kewalahan oleh lonjakan volume hujan. Armin Laschet, kepala wilayah Rhine-Westphalia Utara, Jerman, mengatakan, ”Sungai Rhine terbiasa dengan banjir.” Kota-kota di sepanjang sungai itu telah membangun perlindungan sebelumnya, tetapi sebagian tetap kebanjiran. (AFP/AP/REUTERS)