logo Kompas.id
InternasionalRatapan Abadi di Afghanistan

Ratapan Abadi di Afghanistan

Banyak yang waswas atas kondisi Afghanistan setelah penarikan pasukan AS: apakah bakal damai atau kian kacau? Rasa waswas itu lebih dominan daripada asa damai.

Oleh REDAKSI
· 1 menit baca
Memuat data...
AP PHOTO/MARIAM ZUHAIB

Seorang pria menangis di sebuah pemakamam di barat Kabul, Afghanistan, Minggu (9/5/2021), di dekat jenazah korban serangan bom yang terjadi, Sabtu lalu.

Sebelum pasukan AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) diputuskan ditarik dari Afghanistan, kekerasan bersenjata sudah seperti  bagian dari kehidupan di negara itu. Setelah pasukan asing diumumkan ditarik dari negeri tersebut, kekerasan semakin intens dengan skala kebrutalan yang tak terbayangkan. Pelaku serangan sudah gelap mata, tak membedakan target militer atau sipil, dewasa atau anak-anak, laki-laki atau perempuan, lokasi pertempuran atau sekolah. Nyawa dan kehidupan seolah sudah tak ada harganya.

”Saya sudah tidak tahu lagi, negeri macam apa tempat kami tinggal ini,” ucap salah satu kerabat korban serangan bom di depan sekolah  Sayed ul Shuhada di Distrik Das-i-Barchi di pinggiran ibu kota Kabul, Sabtu (8/5/2021). Sedikitnya 68 orang, kebanyakan siswi dan perempuan remaja usia 12-20 tahun, tewas, serta 165 orang terluka. Pilihan tempat dan waktu peledakan, yakni saat para siswi keluar dari sekolah, memperkuat kekhawatiran bahwa kelompok-kelompok rentan, seperti perempuan dan anak-anak, menjadi korban paling menderita akibat kekerasan di Afghanistan.

Editor: Muhammad Samsul Hadi, Adi Prinantyo
Bagikan
Memuat data..