logo Kompas.id
InternasionalStudi di AS: Guru Bisa Jadi Sumber Penularan Covid-19 di Sekolah

Studi di AS: Guru Bisa Jadi Sumber Penularan Covid-19 di Sekolah

Hasil studi di AS menunjukkan, ketidakdisplinan dalam menjaga jarak dan mengenakan masker secara benar di kalangan guru dan siswa, serta celah penularan saat makan siang menjadi penyebab persebaran Covid-19 di sekolah.

Oleh Luki Aulia
· 4 menit baca
Memuat data...
AFP/NATHAN HOWARD/GETTY IMAGES/AFP

Kesehatan para siswa di Green Mountain School diperiksa sebelum memasuki ruang kelas mereka di Woodland, Washington, AS, 18 Februari 2021.

Guru memiliki kemungkinan lebih besar menjadi sumber penularan Covid-19 di sekolah ketimbang siswa. Penularan virus terjadi manakala guru bertemu dengan orang lain secara tatap muka atau saat makan siang, lalu menularkannya di ruang kelas. Di beberapa distrik di AS, seluruh kegiatan pembelajaran di sekolah kini harus digelar secara virtual karena banyak guru yang tertular Covid-19.

Ini hasil studi terbaru Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) yang menganalisis sembilan kluster penularan Covid-19 di sekolah-sekolah dasar di daerah Marietta, Atlanta, pada Desember dan Januari lalu. Ada satu kluster di mana 16 guru, siswa, dan anggota keluarga siswa tertular Covid-19 di rumah.

”Guru atau pendidik ikut menyebarkan,” kata Direktur CDC AS Dr Rochelle Walensky, Senin (22/2/2021).

Baca juga: Lebih dari 849 Juta Siswa di Dunia Belajar di Rumah

Dalam studi itu ditemukan ada satu siswa yang tertular Covid-19 di salah satu kluster. Dari sembilan kluster itu, delapan kluster kemungkinan ada penularan dari guru ke siswa. Pada dua kluster ditemukan guru yang menulari rekan guru lainnya saat mereka bertemu tatap muka atau makan siang bersama. Lalu ada satu kasus guru menulari siswa.

Memuat data...
AFP/FREDERIC J. BROWN

Dalam foto yang diambil pada 16 November 2020 ini, terlihat para siswa belajar dengan laptop masing-masing di St Joseph Catholic School di La Puente, California, AS.

Temuan studi tersebut sejalan dengan studi-studi lain di Inggris yang juga menemukan sumber penularan Covid-19 antarguru. Studi di Jerman juga menemukan tingkat penularan Covid-19 di sekolah kini tiga kali lebih tinggi sejak kasus pertama ditemukan pada guru.

Namun, ada juga hasil penelitian lain yang menyebutkan tingkat penularan Covid-19 di sekolah tergolong rendah. Karena itu, direkomendasikan untuk membuka sekolah kembali untuk pembelajaran tatap muka. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Joe Biden mendorong hal ini selama beberapa pekan terakhir. Distrik Marietta yang memiliki 8.700 siswa menawarkan kelas tatap muka sejak Maret lalu.

Baca juga: Masa Depan ”Generasi Korona” Terganggu

Pengawas Sekolah Marietta, Grant Rivera, mengatakan bahwa lebih dari 90 persen siswa SD kembali ke sekolah sehingga ruang kelas relatif penuh. Semua kluster di Marietta sudah menerapkan kebijakan menjaga jarak, tetapi tidak ideal. Setiap siswa diminta menjaga jarak fisik dan di setiap meja dipasangi pembatas dari plastik.

”Dua alasan penularan Covid-19 di sekolah-sekolah ini karena kebijakan menjaga fisik dan penggunaan masker yang kurang disiplin,” kata Walensky.

Memuat data...
AFP/ANGELA WEISS

Para siswa tiba di sekolah untuk mengikuti pelajaran tatap muka di kelas pada hari pertama pembukaan kembali sekolah di Brooklyn, New York City, 7 Desember 2020.

Dalam studi CDC, juga diketahui bahwa dari tujuh kasus yang dilihat sebagai penularan kemungkinan terjadi saat sesi belajar kelompok kecil di mana pada saat itu guru harus berada di dekat siswa. Meski siswa sudah mengenakan masker, tim peneliti menemukan para siswa tidak memakainya dengan benar. Ini juga diduga menjadi penyebab penularan virus.

Rekomendasi strategi

CDC mengimbau sekolah segera melakukan sejumlah strategi untuk mencegah penularan virus, termasuk mengurangi intensitas pertemuan antarguru, memastikan pemakaian masker yang benar, dan memastikan setiap warga sekolah menjaga jarak fisik, terutama saat istirahat jam makan siang ketika orang biasanya melepaskan maskernya.

Baca juga: Kartun Menjadi Pengganti Guru di Kenya

Riveri menjelaskan, pengawas sekolah di distrik sudah menyusun ulang aturan di dalam ruang kelas tingkat SD serta memastikan siswa dan guru berkumpul dan berdekatan tak lebih dari 15 menit dalam satu waktu di satu kelompok kecil. Siswa juga diminta duduk berjauhan ketika berkumpul di karpet untuk membaca atau kegiatan lainnya.

Khusus untuk hari Jumat, kata Rivera, tidak ada jadwal belajar, tetapi untuk kolaborasi antarguru. Namun, untuk sementara waktu ini, guru diminta tidak berkumpul dulu dan semua kegiatan dilakukan secara virtual. Semua kursi di ruang guru sudah dikeluarkan. Mesin fotokopi juga dipindah. Guru yang mau makan siang bersama rekannya diminta untuk makan di luar ruang saja.

”Yang susah itu ketika jam makan anak-anak. Sejujurnya, itu yang paling sulit mengaturnya,” kata Rivera.

Memuat data...
AFP/PATRICK T. FALLON

Seorang anggota staff YMCA mendampingi seorang anak dalam pembelajaran secara daring di pusat belajar di dalam Crenshaw Family YMCA selama pandemi Covid-19 di Los Angeles, California, AS, 17 Februari 2021.

Para siswa sudah diminta untuk tetap berada di dalam kelas demi membatasi pergerakan, tetapi sekarang siswa didorong untuk makan di luar ruang kelas, seperti kantin, ruang olahraga, dan aula sekolah. Untuk memastikan siswa dan guru tidak tertular, sekolah di distrik Marieeta mengharuskan semuanya menjalani tes Covid-19 setiap kali jam sekolah berakhir.

Presiden Federasi Guru Amerika Randi Weingarten mengatakan bahwa studi CDC itu mengesahkan panduan CDC yang sudah ada. ”Bangunan sekolah bisa aman untuk guru dan anak-anak, tetapi perlu mitigasi berlapis, pengujian, dan penelusuran kontak harus dilakukan. Vaksin juga harus ada untuk perlindungan,” sebut pernyataan tertulis federasi itu. (AP)

 

Editor: Muhammad Samsul Hadi
Memuat data..