logo Kompas.id
InternasionalKartun Menjadi Pengganti Guru di Kenya

Bebas Akses
Pandemi Covid-19

Kartun Menjadi Pengganti Guru di Kenya

Program acara di televisi yang dibuat oleh sebuah lembaga kemanusiaan menjadi sarana bagi anak-anak Kenya yang tak memiliki telepon pintar untuk belajar.

Oleh Luki Aulia
· 3 menit baca
Memuat data...
AFP/GORDWIN ODHIAMBO

Foto yang diambil pada 22 Mei 2020 ini memperlihatkan Lydia Akoth (10), anggota Project Elimu, berlatih menari di atas sofa melalui telepon pintar saat pandemi Covid-19 di Kibera, Nairobi, Kenya.

Miguel Munene (5), siswa di Kenya, duduk di depan televisi menonton kartun yang mengajarkan cara mengucapkan ”ikan”. Dengan wajah serius, ia duduk sambil memegangi tangan kedua orangtuanya. Setiap hari, Munene menonton kartun di televisi untuk belajar. Sama seperti anak-anak lain yang terpaksa belajar di rumah sejak pandemi Covid-19.

Baca juga : Lebih dari 847 Juta Siswa di Dunia Belajar di Rumah

Program acara kartun bermateri pendidikan seperti ini menjadi pengganti guru dan teman-teman sekolah Munene sejak Pemerintah Kenya menutup sekolah sampai entah kapan untuk mencegah penularan Covid-19. Semua sekolah ditutup sejak Maret lalu dan kemungkinan bisa sampai tahun 2021.

Sejak pandemi Covid-19, Unicef menyebutkan, banyak anak tidak memiliki pilihan lain untuk belajar selain melalui pembelajaran jarak jauh secara dalam jaringan. Masalahnya, setidaknya separuh anak usia sekolah di sub-Sahara Afrika tidak memiliki akses pada jaringan internet.

Baca juga : 1,2 Miliar Siswa Terdampak, Pendekatan Menyeluruh Dibutuhkan

Munene salah satunya. Akhirnya, Munene hanya bisa belajar dari program televisi kartun yang dibuat oleh organisasi nonpemerintah Tanzania, Ubongo. Organisasi itu menawarkan konten pembelajaran gratis untuk televisi dan radio Afrika. ”Untung ada Ubongo yang membantu anak-anak. Program televisi lain hanya untuk hiburan saja, tetapi program Ubongo ini berbeda. Sekarang anak saya bisa membedakan banyak bentuk dan warna dalam bahasa Inggris dan Swahili,” kata ibu Munene, Celestine Wanjiru.

Memuat data...
AP PHOTO

Warga berjalan di depan mural yang digambar di tembok samping sebuah blok apartemen di Mombasa, Kenya, pada 17 Agustus 2020. Mural itu berisi penghormatan kepada petugas kesehatan.

Kepala Komunikasi Ubongo Iman Lipumba mengatakan pada Maret lalu, program-program yang dibuat Ubongo—yang artinya otak dalam bahasa Kiswahili—itu disiarkan ke 12 juta rumah di sembilan negara. Pada Agustus lalu, jumlahnya naik menjadi 17 juta rumah di 20 negara. ”Pandemi Covid-19 ini memaksa kita untuk bergerak cepat,” kata Lipumba.

Peduli pendidikan

Khawatir dengan nasib pendidikan anak, sekelompok seniman, inovator, dan pendidik mendirikan Ubongo TV di Tanzania pada 2014. Sejak itu, mereka menerima bantuan sebesar 4 juta dollar AS dan mendapat pemasukan sekitar 700.000 dollar AS dari Youtube, penjualan produk, lisensi karakter, dan produksi program bersama.

Memuat data...
AFP/LUIS TATO

Petugas memberikan instruksi cara mencuci tangan yang benar di depan pintu masuk sebuah rumah sakit di Nairobi, Kenya, Rabu (18/3/2020).

Bagi Munene dan anak-anak sekolah lain, program-program seperti yang diberikan Ubongo itu menjadi satu-satunya pilihan untuk belajar untuk saat ini. Kementerian Pendidikan Kenya menyebutkan, semua sekolah menurut rencana baru akan dibuka kembali ketika jumlah kasus Covid-19 menurun. Data Kementerian Kesehatan Kenya menunjukkan, terdapat lebih dari 36.000 kasus Covid-19 dan 620 orang di antaranya meninggal.

”Orangtua yang bersama anak-anak setiap hari di rumah. Kami juga harus mengajari anak-anak. Di satu sisi harus bekerja. Kalau ada program belajar seperti itu, sangat membantu orangtua,” kata ayah Munene, Patrick Nyaga, yang bekerja sebagai petugas satpam itu.

Baca juga : Suka Duka Belajar di Rumah

Meski berguna buat anak, program televisi tetap tidak bisa sepenuhnya menggantikan proses pembelajaran di sekolah. ”Cara anak belajar lewat program televisi itu memang beda dengan belajar di sekolah karena anak di sekolah bisa ketemu langsung dengan guru dan teman-temannya. Tetapi, bagaimana lagi, kami tak punya pilihan lain. Semoga sekolah segera dibuka lagi,” kata Nyaga. (REUTERS)

Editor: Bonifasius Josie Susilo H
Memuat data..