Asia Tenggara Pikul Dampak Terberat akibat Konflik AS-China
Ketegangan AS-China terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Negara-negara di Asia Tenggara harus mewaspadai hal itu. Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan paling terdampak akibat konflik tersebut.
Oleh
kris mada
·4 menit baca
MASS COMMUNICATION SPECIALIST 2ND CLASS SAMANTHA JETZER/U.S. NAVY VIA AP
Foto yang dirilis Angkatan Laut AS ini memperlihatkan pesawat tempur F/A-18E Super Hornet mendarat di landasan kapal induk USS Ronald Reagan (CVN 76), sementara kapal induk USS Nimitz (CVN 68) melaju tak jauh di sebelahnya di Laut China Selatan, 6 Juli 2020.
JAKARTA, KOMPAS — Perseteruan Amerika Serikat dengan China membuat Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak. Pembangunan Asia Tenggara bisa terganggu gara-gara perseteruan dua negara besar itu.
”Waktu Perang Dingin, lapangannya di Eropa. Sekarang, halaman belakang (perseteruan AS-China) di Asia Tenggara,” kata Shafiah Muhibat, Kepala Departemen Hubungan Internasional pada Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Kamis (23/7/2020), di Jakarta.
Nur Rachmat Yuliantoro dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berpendapat senada. ”Dalam konteks regional, Asia Tenggara akan menyaksikan bagaimana ekonomi dan keamanan kawasan, ataupun masing-masing negara di dalamnya, telah terdampak oleh perang dagang AS dengan China,” kata Kepala Departemen Hubungan Internasional pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Yogyakarta, itu.
Waktu Perang Dingin, lapangannya di Eropa. Sekarang, halaman belakang (perseteruan AS-China) di Asia Tenggara.
Ketegangan AS-China terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan terbarunya adalah Washington secara mendadak meminta Beijing menutup Konsulat Jenderal China di Houston, AS. Beijing diberi waktu tiga hari untuk menutup konsulat pertama China yang dibuka di AS selepas normalisasi hubungan AS-China itu.
Kompas
Bendera China berkibar di depan Konsulat Jenderal China di Houston, Texas, AS, Rabu (22/7/2020).
Selain peran sejarahnya, konsulat itu penting karena menjadi penghubung utama China dengan eksportir-eksportir minyak AS yang berpusat di Texas. Washington menuding Konsulat China di Beijing menjadi pusat kegiatan mata-mata Beijing pada fasilitas penting AS, seperti fasilitas antariksa, kajian teknologi perminyakan dan gas bumi, serta pusat pendidikan dan penelitian militer di pesisir selatan.
Shafiah mengatakan, negara-negara Asia Tenggara dan kawasan lain membutuhkan stabilitas dan perdamaian agar bisa menggerakkan perekonomiannya. Ketegangan Beijing-Washington tidak menawarkan stabilitas dan perdamaian yang dibutuhkan kawasan.
Di kawasan, perseteruan AS-China antara lain berbuah militerisasi Asia Tenggara dan khususnya ketegangan di Laut China Selatan. AS dan sekutunya bersaing dengan China dalam menempatkan kapal perang dan jet tempur mereka di Laut China Selatan.
REUTERS/STRINGER
Kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir kelas Jin Tipe 094A milik Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) terlihat dalam latihan militer di Laut China Selatan, 12 April 2018.
Gejala militerisasi kawasan juga mulai terlihat dengan persetujuan AS menjual produk persenjataan ke Asia Tenggara. ”Sepanjang (penjualan senjata ke Asia Tenggara) itu dipersepsikan AS bisa memperlemah China,” kata Teuku Rezasyah, pengajar Ilmu Hubungan Internasional pada Universitas Padjadjaran di Bandung.
Dampak ekonomi
Shafiah mengatakan, perseteruan Beijing-Washington telah menunjukkan gejala terus melebar ke berbagai sektor dan belum diketahui kelanjutannya. Persaingan AS-China telah berdampak signifikan pada multilateralisme. ”Negara-negara seperti Indonesia mengandalkan multilateralisme untuk mencapai kepentingannya,” ujarnya.
Multilateralisme memungkinkan negara-negara kekuatan menengah, seperti Indonesia, bisa berhadapan dengan negara-negara besar. Di sisi lain, AS-China cenderung mendorong pendekatan bilateral. Pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump, AS semakin menunjukkan kecenderungan menjauhi multilateralisme dengan cara keluar dari sejumlah lembaga internasional.
Namun, perlu diingat, AS-China adalah mitra ekonomi penting bagi kawasan. Beijing-Washington termasuk dalam tujuan ekspor dan asal investasi utama Asia Tenggara. Rantai produksi Asia Tenggara juga bergantung pada banyak izin atas aneka hak paten AS dan bahan baku atau produk setengah jadi yang diimpor dari China.
AFP/STR
Dalam foto dari udara tanggal 14 April 2020 ini, terlihat hamparan tumpukan kontainer di sebuah pelabuhan di Lianyungang, Provinsi Jiangsu, China bagian timur.
AS dan Eropa sekalipun juga mengakui dominasi China sebagai sumber utama aneka bahan baku dan produk setengah jadi dalam aneka proses produksi. ”Asia Tenggara akan bermain aman,” kata Nur.
Meski akan terus melebar, Rezasyah dan Shafiah sepakat bahwa perseteruan AS-China tidak akan mengarah menjadi konflik senjata. Beijing-Washington masih menunjukkan gejala menghindari konflik militer meski sama-sama terus saling mengerahkan aset-aset perangnya di berbagai kawasan. ”Konflik masih akan terjadi dalam bentuk lain, seperti sanksi-sanksi ekonomi,” kata Shafiah.
Rezasyah menilai Beijing masih terus berusaha menahan diri dan tidak terprovokasi oleh AS. ”Beijing paham (pengerahan) angkatan perang AS dan sekutunya hanya simbolis,” ujarnya.
Nur dan Rezasyah sepakat, Trump salah satu faktor pemicu ketegangan AS-China beberapa waktu terakhir. ”China sadar jika ketegangan dengan AS saat ini situasional sifatnya dan akan berhenti menjelang Pilpres di AS bulan November tahun 2020,” kata Rezasyah.
Dalam foto gabungan ini, mantan Wakil Presiden AS Joe Biden berbicara di Wilmington, AS, 12 Maret 2020 (kiri), dan Presiden Donald Trump berbicara di Gedung Putih, Washinton DC, AS, 5 April 2020.
Namun, Nur dan Shafiah sama-sama tidak yakin Trump memanfaatkan isu perseteruan AS-China untuk menaikkan peluang keterpilihannya di pemilu mendatang. Shafiah menyebut, amat jarang isu luar negeri bisa membawa dampak kepada pemilih. Di banyak negara, para pemilih lebih fokus pada isu-isu domestik, seperti kinerja ekonomi.
Beijing paham (pengerahan) angkatan perang AS dan sekutunya hanya simbolis.
”Trump telah menggunakan isu virus korona untuk menuduh China. Ini krisis keamanan dalam bentuk yang lain. Akan tetapi, situasi telah berbalik tidak menguntungkan dia saat China cukup berhasil mengendalikan virus, sementara AS semakin gawat,” tutur Nur.